
Freya berbaring di atas ranjang, menghadap ke langit-langit kamar sambil tersenyum secerah bunga matahari.
Tubuhnya terasa sangat ringan, seperti sedang melayang di atas awan yang berubah bentuk dengan cepat.
Sebentar awan-awan itu berubah menjadi wajah Pak Pram yang sedang marah. Sekejap kemudian berubah menjadi wajah Pak Pram yang sedang serius. Berikutnya menjadi wajah Pak Pram yang sedang memakai kacamata, terlihat sangat imut dan menggoda.
Wajah-wajah itu membuat Freya hampir meleleh. Ia menghela napas dan menekan dadanya dengan kedua tangannya.
Jantung, kamu sudah tidak tertolong lagi.
Di sisi ranjang, Lisa melihat tingkah Freya dengan panik. Rasa cemasnya meningkat tajam hanya dalam waktu satu jam.
Tadi, selama dalam perjalanan pulang, ia berusaha setengah mati agar Freya tidak mengoceh yang aneh-aneh di depan Pak Bayu dan Pak Bos. Untungnya Freya masih cukup sadar dan dapat mengikuti pembicaraannya ketika ia membahas rencana kerja di Kafe Maple.
Akan tetapi, lima belas menit setelah masuk ke dalam kamar, Freya hanya berbaring dan menatap langit-langit dengan ekspresi seperti itu, membuat Lisa benar-benar ketakutan sekarang.
Ponsel Lisa tiba-tiba berbunyi, membuatnya terkejut setengah mati karena sedang serius memperhatikan Freya.
Ia mengambil ponselnya dari dalam tas dan memeriksanya.
Ternyata Pak Bayu yang mengirim pesan.
[Bagaimana keadaannya?]
Lisa menoleh ke arah Freya dengan kening mengernyit.
Bagaimana keadaannya?
Haruskah ia mengatakan kepada Pak Bayu jika saat ini Freya sedang memandangi langit-langit kamar seperti sedang jatuh cinta kepada plafon dan lampu yang menyala terang?
Lisa mengetik pesan balasan sekaligus memarahi sang wakil CEO.
__ADS_1
[Sepertinya dia benar-benar mabuk. Apa yang Anda suruh waitress berikan kepadanya? Nark*ba?]
Di kamar sebelah, Bayu yang membaca pesan dari Lisa diam-diam menyingkir ke toilet sebelum membalas. Pramudya sudah mencecarnya sejak tadi, tapi ia mana berani mengaku.
Ia hanya berpesan kepada waitress untuk menyampaikan kepada bartender bahwa Freya membutuhkan sesuatu yang bisa membuatnya merasa santai dan bersenang-senang. Siapa yang mengira hasil akhirnya akan seperti ini?
Kalu tahu akan begini, ia juga tidak akan berani macam-macam.
Pramudya sudah hampir mencekiknya karena kesal.
[Aku juga tidak tahu. Apakah situasinya sangat parah?]
Lisa memutar bola matanya setelah membaca pesan balasan itu. Apakah melamun sambil menatap langit-langit kamar bisa dikategorikan sebagai parah? Ia juga tidak tahu seberapa jauh batas normal orang yang sedang nge-fly.
[Kalau terjadi apa-apa, Bapak yang tanggung jawab!]
[Saya nggak minta Bapak kasih yang aneh-aneh ke Freya!]
Setelah membalas pesan Pak Bayu, Lisa kembali mengamati tingkah temannya yang masih berbaring lurus di atas kasur.
Freya berguling di atas kasur tanpa menjawab panggilannya.
Lisa duduk di tepi ranjang dan mencolek lengan Freya.
“Freya,” panggilnya sekali lagi.
“Hm?” Freya menoleh dengan linglung. Kenapa awan dengan wajah Pak Pram berubah menjadi wajah Lisa?
“Kamu baik-baik saja? Perlu ke dokter?” tanya Lisa.
“Lisa ....” Mata Freya tiba-tiba berkaca-kaca.
__ADS_1
Setelah bayangan wajah Pak Pram menghilang, isi kepalanya tiba-tiba berlompatan dari satu hal ke hal lainnya, membuatnya sangat emosional dan tidak bisa menahan diri.
Lisa semakin panik. Ia melompat naik dan duduk di sebelah Freya.
“Ada apa? Jangan menakutiku. Mana yang sakit?” cecar Lisa seraya membantu Freya agar duduk bersandar di kepala ranjang.
Namun, sebelum bersandar dengan baik, tubuh Freya kembali merosot ke bawah. Lisa menahannya dan menopangnya di bahu. Ia menepuk-nepuk lengan Freya dengan lembut untuk menenangannya.
“Lisa ... kenapa aku tidak punya orang tua? Kenapa mereka meninggalkanku tanpa mengatakan apa-apa? Apakah aku anak haram? Anak di luar nikah? Mereka merasa sangat malu sehingga membuangku begitu saja?” Rasa sakit yang sangat menikam jantung Freya.
Ketika masih kecil, ditertawai dan diolok-olok sebagai anak yang tidak diinginkan oleh orang tua telah menghancurkan hati Freya. Tapi ia tidak pernah membicarakan masalah ini dengan siapa pun, termasuk Yoga.
Keluhan Freya yang tiba-tiba itu membuat Lisa tidak tahu harus merespons seperti apa. Meski hidup sederhana dan pas-pasan, ia masih merasakan cinta orang tua. Yah, meski ibunya tak berumur panjang dan ayahnya sekarang sakit-sakitan, tapi masa kecilnya penuh perhatian dan kasih sayang orang tuanya.
“Lisa ... hatiku sangat sakit ... aku tidak tahu harus bagaimana ... perbedaan status kami begitu jauh. Aku bukan siapa-siapa ... dia seperti bintang yang tak terjangkau olehku ... aku harus bagaimana ....”
Lisa terdiam lagi. Perubahan topik pembicaraan ini membuat otaknya sedikit terdistorsi. Apakah sekarang Freya sedang membicarakan Pak Bos?
“Dia siapa? Maksudmu Pak Pram?” tanyanya dengan hati-hati.
Wajah Freya terlihat seperti sedang tertawa, tapi juga seperti sedang menangis. Memangnya siapa lagi yang ia maksud selain Paman Tua yang galak dan menjengkelkan itu?
“Jantungku berdebar-debar setiap kali berada di dekatnya, Lisa. Perutku bergelojak seperti ada yang mengaduk-aduknya dari dalam. Menurutmu kenapa bisa begitu? Apa karena dia sangat menjengkelkan? Atau karena dia sangat tampan?”
Lisa diam-diam mengulurkan tangan dan mengambil ponselnya di atas meja. Ada satu pesan baru dari Pak Bayu, tapi ia mengabaikannya dan mengetik pesan yang baru.
[Emergency! Cepat suruh Pak Bos datang!]
Masalah mengungkapkan isi hati seperti ini, hanya cocok jika dibicarakan langsung dengan orang yang bersangkutan. Ia bukan mak comblang yang andal. Bukan juga orang bisa memberikan saran dan masukan dengan benar.
Lisa menarik diri dari tubuh Freya yang limbung. Ia membantu temannya itu bersandar di atas bantal, lalu buru-buru kabur dari kamar itu.
__ADS_1
Maafkan aku, Freya. Ini demi kebaikanmu sendiri. Aku harap kamu dan Pak Bos benar-benar bersatu selamanya.
***