Istri Kesayangan Tuan Pram

Istri Kesayangan Tuan Pram
Aku Mencintaimu


__ADS_3

Tubuh Freya membeku setelah mendengar ucapan Pramudya. Ia berhenti meronta, menoleh dengan sangat perlahan untuk menatap wajah pria itu.


Otaknya mencerna informasi yang baru saja didapatkannya, menghubungkan semua benang merah yang saling terjalin.


Pantas saja Pak Brata selalu mencari-cari alasan setiap kali ia menanyakan perihal surat cerai.


Pantas saja Pak Bayu dan Sekretaris Kikan ikut menghindar.


Lalu bagaimana dengan Lisa? Apakah dia juga mengetahui hal ini?


Pramudya mengangkat satu tangannya dan mengusap pipi istrinya dengan lembut. Tangan yang lainnya menahan pinggang gadis itu agar tidak menjauh darinya.


Berapa lama mereka tidak berada dalam posisi sedekat ini?


“Freya, maaf ... aku terpaksa melakukannya. Aku tidak mau kamu terluka. Kalau terjadi sesuatu kepadamu, aku tidak akan bisa hidup,” gumam Pramudya sambil menatap lekat wajah istrinya. Ia bersungguh-sungguh dengan ucapan itu. Dunia tanpa istrinya bukanlah dunia yang ingin ditinggalinya.


Setelah mendengar pengakuan itu, Freya tertawa. Ia tertawa sampai matanya berair. Jari-jarinya terangkat naik untuk menyudut air matanya, lalu ia mendorong dada Pramudya agar menjauh. Tidak ada lagi sisa tawa yang tersisa di wajahnya. Seolah-olah tawanya barusan hanyalah sebuah ilusi.


“Tuan, tolong lepaskan aku,” pintanya dengan tenang.


Pramudya tidak berani melepaskan pelukannya. Sikap tenang istrinya justru membuatnya semakin takut. Itu terlihat seperti cuaca yang tenang sebelum badai datang.


“Aku tahu aku salah. Kamu boleh memukulku, menendangku, lakukan apa saja, tapi jangan menyuruhku pergi.” Pramudya memohon. Ia sangat takut Freya akan benar-benar meninggalkannya.


Seulas senyuman acuh tak acuh melintas di wajah Freya. Tatapan matanya bahkan menjadi lebih dingin dan tak terjangkau.


“Tuan Pramudya, sepertinya sikap baikku beberapa minggu ini telah membuat Anda salah paham. Tadinya aku berniat untuk membiarkan Anda tinggal dan bermain-main sebentar. Tapi sekarang aku sudah tidak ingin melanjutkannya lagi, jadi kita akhiri saja sampai di sini.”


Pramudya tertegun. Kalimat ini tidak terdengar asing di telinganya.


“Freya, jangan menakutiku. Apa maksudmu?” Pramudya menelan ludahnya yang terasa pahit. Firasat buruk membuat tubuhnya panas dingin.


Freya memberikan tatapan mencemooh. “Kita sudah berpisah. Tentu saja aku bebas menjalin hubungan dengan siapa saja. Kebetulan kekasih—“


“Cukup, Freya. Kita masih suami istri.” Tubuh Pramudya gemetar. Bukan akhir seperti ini yang ia inginkan.


“Sayang sekali. Sandiwara yang Tuan mainkan terlalu nyata. Aku pikir itu memang nyata, jadi ....” Freya mengangkat bahunya dengan acuh tak acuh dan melanjutkan, “Aku memang tidak memberitahukan kepada kekasihku bahwa Tuan sedang menginap di sini. Tadi pagi dia datang, lalu salah paham. Sekarang kami sedang bertengkar. Aku tidak mau dia marah dan terus merajuk, jadi tolong Tuan pergi dari sini.”


“Tidak mungkin. Bocah itu bukan siapa-siapamu.” Pramudya membantah dengan keras. Tidak mungkin istrinya menjalin hubungan dengan berandalan kecil itu. Ia terus membantah di dalam hati meski ia sendiri tidak yakin dengan pemikiran itu.


Freya tersenyum mengejek. Ia menatap lurus ke dalam sepasang manik hitam yang kebingungan di depannya dan mengucapkan kata demi kata dengan sangat jelas, “Bulan depan aku akan menikah dengan Yoga. Tuan adalah orang pertama yang akan mendapatkan undangan dan—“

__ADS_1


“Kamu tidak akan menikah dengan pria mana pun.”


Pramudya membungkam mulut Freya sekali lagi tanpa menunggu gadis itu membantah. Ia tidak ingin mendengar apa pun. Otaknya terbakar oleh api cemburu. Ia bahkan bisa mencium bau gosong memenuhi udara.


Apakah Yoga sering datang ke sini?


Seberapa sering mereka bertemu?


Mau menikahi istrinya? Heh. Mimpi saja!


Pramudya mengangkat tubuh Freya dan membawanya ke ranjang. Ia mengabaikan sumpah serapah yang keluar dari mulut gadis itu, membaringkannya di atas kasur dan mengurungnya dengan tubuhnya.


Freya mencoba mendorong tubuh Pramudya, tapi pria itu menahan kedua tangannya di atas kepala hanya dengan satu tangan. Ia sangat kesal sampai ingin mencaci maki seluruh leluhur Pramudya Antasena.


“Apa yang kamu lakukan?” Freya melotot marah. Ia berusaha menendang, tapi Pramudya mengunci kakinya dengan kuat.


“Lepaskan aku!” Freya meronta lagi, tapi gerakan itu justru membuat tubuh mereka berdua saling bergesekan.


Pramudya mengatur deru napasnya yang memburu. Amarah yang berkobar secara perlahan bercampur dengan perasaan asing yang membuat darahnya berdesir.


“Aku tidak akan memaafkanmu seumur hidup kalau kamu berani macam-macam,” ancam Freya ketika merasakan perubahan yang terjadi pada tubuh pria di atasnya.


Pramudya mendengkus dan menggeram rendah, “Berhenti bergerak.”


Uap panas menerpa wajah Freya. Ia memiringkan wajah karena jarak mereka terlalu dekat dan tatapan Pramudya mulai membuatnya jengah.


“Freya, dengarkan aku baik-baik. Selamanya kamu hanya akan menjadi Nyonya Antasena. Tidak ada pilihan lain.”


Freya mencibir.


Ucapan ini lagi.


Sombong.


Semena-mena.


Arogan.


Hanya memikirkan perasaannya sendiri.


Sebenarnya apa yang bagus dari pria ini sampai ia tidak bisa membencinya?

__ADS_1


“Aku tidak mau menjadi Nyonya Antasena. Kita bercerai saja.”


Pramudya menunduk dan menyesap batang leher Freya dengan kuat.


Freya terkesiap, mengerang dan meremas jari-jari Pramudya yang menahan telapak tangannya.


“Katakan sekali lagi,” ucap Pramudya dengan suara yang mulai parau.


Freya menggeleng keras kepala. “Aku membencimu. Aku tidak ingin menjadi Nyonya Anta—“


Pramudya menjilat telinga Freya, membuat sisa ucapan gadis itu tertinggal di mulutnya.


“Kamu bajingan!” umpat Freya dengan napas terengah. Gelenyar aneh mulai merambati jari-jari kakinya.


Pramudya mengangguk dan tidak membantah. “Ya, aku memang bajingan. Jangan pernah meminta untuk bercerai. Aku tidak akan mengizinkannya.”


“Tidak boleh meminta cerai. Lalu yang kamu lakukan itu apa?”


“Aku terpaksa, Freya. Mereka mengincarmu.”


“Jadi kamu memutuskannya sendiri? Tanpa meminta pendapatku? Demi kebaikanku? Omong kosong! Kamu bisa membunuhku, kamu tahu? Aku ingin mati ... berkali-kali aku ingin mati. Tapi untuk apa aku mati demi pria brengsek sepertimu? Kamu tidak layak, Pramudya Antasena. Kamu tidak layak.”


“Ya, aku yang salah. Aku memang tidak baik untukmu. Maafkan aku ... beri kesempatan sekali lagi. Aku bersumpah. Hal seperti ini tidak akan terjadi lagi.”


Tubuh Freya tersentak-sentak, tidak bisa menahan air matanya lebih lama lagi. Kenapa hatinya lemah sekali? Hanya mendengar omong kosong ini ia sudah hampir melupakan kata-kata jahat yang diucapkan kepadanya waktu itu.


Pramudya menjauh dari leher Freya. Terpaku sejenak melihat wajah istrinya yang telah basah. Ia mengusap air mata itu dengan gerakan yang sangat hati-hati.


“Sayangku, jangan menangis ....” Pramudya menunduk dan mengecup bibir istrinya dengan lembut.


“Kamu sangat egois.” Suara Freya terdengar serak.


“Ya.”


“Kamu brengsek.”


“Ya.”


“Aku membencimu.”


“Tidak apa-apa, aku mencintaimu.”

__ADS_1


Pramudya menunduk dan mencium bibir istrinya sekali lagi.


***


__ADS_2