
Hawa dingin menggigit permukaan kulit Freya yang tidak tertutup selimut. Ia menggeliat. Tangannya menggapai-gapai ke belakang, mencari kehangatan yang telah menemaninya semalaman.
Tidak ada.
Freya mengerang pelan sambil membalikkan tubuhnya. Matanya yang masih terasa berat dipaksanya untuk terbuka. Sisi ranjang yang ditiduri suaminya semalam sudah kosong.
Kapan dia bangun? Kenapa tidak membangunkanku juga?
Ia melirik jam dinding. Baru pukul enam pagi. Ke mana Paman Tua itu pergi pagi-pagi buta begini?
Padahal baru satu malam, tapi ia merasa seperti sudah terbiasa berbaring di samping suaminya. Tiba-tiba muncul rasa kehilangan yang membuatnya merasa sedikit tidak nyaman ketika mendapati pria itu tidak ada di sisinya ketika ia membuka mata.
Wajah Freya merona tanpa alasan yang jelas. Memikirkan perkembangan hubungan mereka yang sudah sejauh ini membuatnya berguling di atas kasur dan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut, membuatnya terlihat seperti seekor kepompong yang sedang bersiap untuk bermetamorfosis.
Sama seperti perjalanan hubungan mereka yang semula terlihat seperti seekor ulat yang jelek: salah paham dan bertengkar sepanjang waktu, tidak ada yang berani mengambil langkah untuk mengakui isi hati lebih dulu.
Tapi sekarang semuanya berubah total hanya dalam waktu satu minggu. Setelah semua kesalahpahaman itu dijelaskan. Setelah mereka berani mengakui perasaan satu sama lain, telah terjalin benang-benang takdir yang membungkus mereka menjadi satu.
Sama seperti kepompong yang akan berubah menjadi seekor kupu-kupu yang indah, Freya berharap masa depan yang akan dijalaninya bersama Pak Pram pun tak kalah indah.
Ia mendesah pelan dan berguling keluar dari dalam selimut.
Sudahlah. Tidak boleh egois. Mungkin saja ada panggilan kerja mendadak yang membuat Pak Pram harus pergi pagi-pagi sekali.
Frey turun dari kasur dan meregangkan tubuhnya sebentar. Ia lalu mengambil ponsel dan mengirim pesan untuk Lisa, menanyakan apakah dia ingin dijemput atau tidak. Selain itu, ia berencana untuk mentraktir Lisa makan siang nanti.
Freya sangat yakin “tragedi” mabuknya tempo hari pasti ada kaitannya dengan gadis tengil itu. Namun, ia juga tidak bisa marah. Kalau bukan karena insiden itu, mungkin saat ini hubungannya dengan Pak Pram masih jalan di tempat.
Setelah mengirim pesan untuk Lisa, Freya mengetik pesan yang lain untuk suaminya.
[Pagi, Sayang. Kamu sudah berangkat kerja?]
[Semangat, ya.]
Freya menambahkan emot hati, tapi lalu menghapusnya lagi.
Ia menggigit bibir dan menimbang-nimbang. Perlukah memakai emot hati atau cium?
Aish, sudahlah. Tidak usah saja. Sepertinya itu terlalu norak.
Ia tidak menambahkan apa pun dan mengirimkan pesan itu, kemudian pergi ke kamar mandi.
__ADS_1
Pagi itu ia tidak berendam di bathtub. Ia ingin tiba di kampus sebelum pukul delapan. Ada banyak tugas yang tertinggal. Ia ingin meminta tolong dan menyalin materi dari rekan sekelasnya, tidak ingin mendapat nilai jelek di semester pertama.
Baru masuk sebentar tapi sudah cuti bulan madu, semoga dosennya berbaik hati dan tidak mempermasalahkan ketertinggalannya.
Tidak sampai setengah jam kemudian, Freya sudah berjalan keluar dari kamar dengan memakai celana jeans hitam dan blus putih yang dibalut kardigan cokelat tua. Rambutnya diikat ponytail. Tanpa riasan berlebihan atau wangi parfum yang menyengat.
Ada sebuah papper bag di tangan kanannya. Di punggungnya ada sebuah tas ransel kecil yang berisi alat tulis, buku sketsa, dompet, ponsel, dan satu tugas desain yang sudah diselesaikannya.
Ia menyapa Ruth yang seperti biasa sudah berdiri di depan pintu kamarnya.
“Pagi, Ruth. Besok tidak perlu menungguku di sini. Aku akan memanggil jika membutuhkan bantuanmu.”
“Selamat pagi, Nyonya. Terima kasih, tapi Tuan—“
“Aku yang akan bicara dengannya. Kamu jangan khawatir,” sela Freya seraya menyodorkan papper bag di tangannya kepada Ruth.
“Ini untukmu,” imbuhnya. Kemarin ia belum sempat bertemu dengan Ruth secara pribadi. Setelah makan malam, ia dan Pramudya langsung kembali ke kamar.
“Nyonya, ini ....”
“Cepat ambil. Aku buru-buru mau ke kampus.”
“Ke kampus? Tapi Tuan sedang memasak untuk Nyonya di bawah.”
“Tuan bangun sejak tadi dan menyiapkan sarapan untuk Nyonya.”
Freya menempelkan paper bag ke tangan Ruth dan bergegas turun. Suaminya yang tampan sedang memasak untuknya?
Romantis sekali.
Wajah Freya berseri-seri. Ia berlari turun dan hampir melompati dua anak tangga sekaligus.
“Nyonya, pelan-pelan!” teriak Ruth dari atas, tapi sang Nyonya sudah menghilang ke arah dapur.
Ruth tidak bisa menahan senyumannya. Ia sungguh ikut merasa senang melihat perkembangan hubungan Tuan dan Nyonya. Tadi malam, Pak Anton menceritakan apa yang dilihatnya saat mengintip di dapur.
Selain itu, ia menyadari cara Tuan Pram menatap istrinya sudah jauh berbeda. Tatapan itu begitu penuh cinta dan kasih sayang. Tadi malam ketika sepasang suami istri itu berjalan masuk ke kamar, ia bisa melihat cinta di mata mereka. Cinta yang tulus dan murni, bukan kepura-puraan yang selama ini ditampilkan hanya ketika ada Kakek.
Di lantai bawah, Freya meletakkan telunjuknya di bibir ketika melihat Pak Anton hendak menyapanya.
Pak Anton mengangguk dan membuat gerakan menutup mulut. Ia lalu diam-diam memberi isyarat kepada para pelayan untuk menyingkir dari tempat itu.
__ADS_1
Freya mengacungkan jempolnya, kemudian dengan sangat hati-hati melongok dari pintu dapur. Aroma bawang goreng yang harum memenuhi udara.
Di depan meja dapur, Pramudya yang memakai celemek tampak sedang fokus memindahkan sesuatu dari teflon ke dalam mangkuk. Sepertinya itu adalah bawang goreng.
Apa yang sedang dimasaknya?
Freya diam-diam mengeluarkan ponselnya dan mengambil foto suaminya itu sebanyak mungkin dan menyimpannya di dalam galeri. Ia menyeringai lebar dan lupa kalau harus segera berangkat ke kampus, juga masih harus menjemput Lisa.
Ketika Pramudya mendongak, ia bersitatap dengan seraut wajah mungil yang separuh tersembul dari balik pintu, mengintipnya seperti pencuri.
Iya, pencuri yang telah membawa pergi jantung dan hatinya.
“Sudah bangun? Kenapa tidak masuk?” tanyanya seraya berbalik dan meletakkan teflon ke tempat cuci piring.
Karena sudah ketahuan, Freya tidak ingin bersembunyi lagi. Ia melompat-lompat masuk seperti seekor anak kijang dan berdiri di samping suaminya.
“Harum sekali. Apa yang kamu masak?” tanyanya.
“Bubur ayam spesial,” jawab Pramudya seraya membuka tutup panci tempat bubur ayamnya berada.
“Kamu bisa masak bubur ayam?” Freya merasa takjub sekaligus sedikit tidak percaya.
Pramudya tertawa sambil menggeleng. “Tidak bisa. Sudah ada dua panci yang gosong.”
“Kamu ....” Freya kehabisan kata-kata.
Kenapa terus mencoba jika tidak bisa?
Sejak jam berapa suaminya ini berjibaku di dapur demi dirinya?
Freya merasa sangat terharu karena suaminya yang sangat perhatian sekaligus sedih memikirkan bubur yang harus terbuang percuma sebagai hasil uji coba yang gagal.
Pastilah pria yang tidak mau kalah ini entah bagaimana mengetahui bahwa Yoga sering membawakan bubur ayam untuknya.
Ia maju dan memeluk pinggang suaminya. “Terima kasih.”
Pramudya mencubit ujung hidung Freya dan membalas, “Mulai sekarang hanya boleh makan masakanku.”
Ruth dan Pak Anton yang sedang mengintip dari sela pintu hampir terpeleset bersamaan. Di hari biasa, mana mungkin mereka melihat tingkah Tuan Pram yang seperti itu. Ini adalah kejadian langka, tapi sepertinya sebentar lagi mereka akan mulai terbiasa melihatnya setiap hari.
“Pergi panggil Pak Tua,” bisik Pak Anton.
__ADS_1
Ruth mengangguk pelan dan diam-diam berbalik pergi ke lantai dua. Ia merasa sangat bersemangat. Tuan Besar pasti akan sangat senang melihat pemandangan cucunya yang akur seperti ini.
***