
“Pelayan?” Pramudya mengernyit dan berusaha menarik tangannya, tapi Carissa menempel seperti seekor tokek dengan kaki-kaki yang lengket.
“Iya, pelayan baru itu ... aku belum pernah melihatnya sebelumnya. Apakah kamu baru saja mempekerjakannya?” tanya Carissa dengan manja.
“Untuk apa kamu datang ke sini?” Pramudya balik bertanya, dengan tenang menggunakan sedikit kekuatan untuk melepaskan diri.
Wajah Carissa terlihat sedih dan kecewa. “Apa maksud ucapan itu? Aku jauh-jauh datang untuk menemuimu dan menjelaskan—”
“Sudah terlambat empat tahun. Tidak perlu menjelaskan apa pun. Wanita yang kamu sebut pelayan tadi adalah istriku. Tidak ada lagi yang bisa dibicarakan. Pulanglah,” tolak Pramudya dengan tegas.
“Pram! Jangan usir aku!” Carissa memeluk Pramudya semakin erat dan menangis di dadanya.
Tubuh Pramudya menegang. Empat tahun lalu, ketika ia melamar wanita di depannya ini dan memintanya untuk menikah dengannya, dia menolak dengan alasan ingin mengejar karirnya lebih dulu, lalu menghilang begitu saja tanpa kabar.
Sekarang dia tiba-tiba muncul di hadapannya tepat satu hari sebelum resepsi pernikahannya diadakan, Pramudya tidak merasa tersentuh sama sekali, tapi merasa curiga. Sudah pasti ada orang yang memberitahukan berita ini kepada Carissa sehingga dia tiba-tiba datang dan bertingkah seperti ini.
Pramudya mendorong tubuh Carissa dan menjauh dua langkah. Ia berbalik dan bertanya kepada pelayan, “Di mana Nyonya?”
“Di atas, Tuan.” Pelayan itu menunjuk ke sisi yang berlawanan dengan ruang kerja Pramudya.
Tidak menggubris Carissa, ia segera memutar dan menaiki anak tangga di sisi satunya.
“Pramudya! Aku menyesal! Oke? Beri aku satu kesempatan lagi! Aku mohon. Ayo, menikah!” teriak Carissa di sela isak tangisnya.
“Aku sudah menikah,” balas Pramudya tanpa menoleh.
“Kamu berbohong! Kalian baru akan menikah, kan? Resepsinya baru akan diadakan besok!” Carissa berseru terus bersikap keras kepala. Ia tidak akan menyerah dengan mudah.
“Kami sudah mengambil akta nikah. Dia istriku.”
Ini adalah salah satu alasan Pramudya memutuskan untuk pergi membuat akta nikah sebelum melakukan resepsi. Tidak ada yang bisa menganggu gugat rencananya jika ia melempar akta nikah ke depan wajah mereka. Siapa pun itu, tidak akan ia biarkan merusak rencananya.
__ADS_1
Kalimat yang tajam dan lugas itu membuat tangis Carissa semakin kencang. Wanita yang cantik seperti peri itu berlutut dan memeluk lengannya sendiri.
Pak Tua menghela napas dan menatap Carissa dengan ekspresi tak berdaya. Ia yang paling mengetahui hati cucunya. Pramudya ... bocah itu, ketika ia menyayangi, maka ia akan menyayangi dengan sepenuh hati.
Akan tetapi, ketika dia sudah melepaskan, bahkan iblis dari neraka pun tidak dapat memaksanya untuk menerima kembali. Apa lagi saat ini di sisinya sudah ada istri yang begitu baik. Wanita cantik ini benar-benar sudah tidak ada harapan ....
Bayu merasa canggung melihat Carissa menangis seperti itu. Ia tidak ingin menonton pertunjukan itu lagi. Ia berbalik dan diam-diam menyusul Pramudya. Sepertinya akan ada pertunjukan yang lebih seru.
Ketika Bayu tiba di atas, ia melihat Pramudya sedang berlutut di depan Freya. Ia tertegun sejenak. Apakah matanya tidak salah lihat? Ia sangat yakin matanya tidak rabun.
Seorang Pramudya Antasena tidak pernah berlutut di depan siapa pun!
“Kenapa tidak menurut? Aku bilang panggil dokter.”
“Tidak perlu, hanya luka ringan saja. Sebentar juga akan sembuh,” balas Freya dengan tenang.
Bayu tertegun lagi. Itu suara Pramudya? Ia tidak salah dengar, kan? Sejak kapan intonasinya bisa begitu penuh perhatian? Tunggu. Apakah dia sedang mengoleskan obat ke tangan istrinya?
“Diam!”
Bayu terkejut, lalu buru-buru membuat gerakan mengunci mulutnya. Sial, tatapan Pramudya terlalu menakutkan. Ia menghela napas lega ketika Pramudya berpaling, kembali menghadap ke arah istrinya dan mengoleskan obat dengan hati-hati.
“Dia ... wanita itu .... eng, Nona Carissa ... dia mantan kekasih Anda?” Freya bertanya dengan hati-hati. Ia melihat dengan jelas ketika mereka berpelukan di lantai bawah tadi.
Pramudya tetap menunduk ketika menjawab, “Hm. Itu dulu. Sekarang dia bukan siapa-siapa. Kenapa? Apakah istriku cemburu?”
Uhuk!
Freya dan Bayu tersedak bersamaan.
“Bicara saja bisa tersedak?” Pramudya mengulurkan tangan untuk membantu menepuk-nepuk punggung Freya sambil mengomel, tapi suaranya terdengar mengandung sedikit perhatian dan rasa khawatir.
__ADS_1
Bayu terbatuk semakin parah. Rasanya ia sudah hampir mati. Ia tahu Pramudya mungkin sedang berpura-pura di depan kakeknya, tapi ini sangat tidak masuk akal! Perbedaan karakter protagonis dan antagonis ini terlalu ekstrim. Ia tidak bisa menerimanya!
Pramudya berbalik dan memarahi Bayu. “Kalau mau mati, pergi mati di tempat lain, jangan mengotori rumah leluhurku.”
Bayu tercekik hingga wajahnya membiru. Sahabat apaan? Dasar bajingan! Melupakan saudara ketika mendapatkan gadis cantik sebagai istri.
Lihat saja, aku akan menyabotase pernikahanmu besok. Mari lihat kamu bisa apa? Hah!
Pramudya tidak memedulikan Bayu yang sudah hampir mati. Seluruh fokusnya berada pada punggung tangan Freya yang memerah. Dari pergelangan tangan hingga buku-buku jari manis dan jari tengah, semuanya terlihat seperti baru saja direndam dalam air panas. Itu pasti sangat sakit, tapi gadis konyol ini memaksakan diri dan tidak mau diperiksa oleh dokter. Benar-benar keras kepala.
“Ini salahku karena tidak bisa menjagamu dengan baik, maaf ... lain kali tidak akan ada lagi yang menyakitimu.” Pramudya bergumam pelan. Ia bersungguh-sungguh dengan permintaan maaf itu.
Gadis ini, sejak bertemu dengannya selalu mengalami musibah. Mulai dari tersiram kopi panas di kantor, terguling dalam mobil yang diledakkan, lalu sekarang kembali tersiram teh panas. Bagaimana ia harus memberikan kompensasi kepadanya?
Otak Freya terdistorsi. Mulai dari menanyakan apakah dirinya cemburu dan meminta maaf karena tangannya terluka, Pak Pram sama sekali tidak terlihat seperti dirinya yang biasanya—dingin dan angkuh—tapi lebih terlihat seperti seorang suami yang merasa bersalah dan ingin menebus kesalahan. Apakah ini bagian dari akting juga atau ....
“Bagus. Sebagai seorang pria, kamu harus tahu batasan. Jangan sampai berpaling hanya karena ada godaan di depan mata.”
Entah sejak kapan Pak Tua berdiri di dekat anak tangga, Freya tidak menyadarinya. Apakah karena inilah maka Pak Pram bertingkah tidak masuk akal?
Ya, sepertinya memang begitu ....
“Kakek, aku tidak akan mengabaikan istriku demi wanita lain,” ucap Pramudya dengan sungguh-sungguh. Ia tidak ingin menjadi seperti ayahnya. Meskipun ini hanyalah pernikahan palsu, ia akan tetap memainkan perannya dengan baik sampai akhir.
“Aku tidak akan membiarkan istriku menderita karena ditindas oleh orang lain. Kakek bisa memegang ucapanku ini,” imbuhnya lagi seraya menggenggam satu tangan Freya yang tidak terluka.
Freya memalingkan wajahnya. Entah mengapa kerongkongannya terasa pahit dan masam. Ucapan ini ... alangkah baiknya jika diucapkan oleh suami yang benar-benar mencintainya ....
***
yuhu, jangan lupa like dan komen yaa, biar otor makin mangat ngehalu😁
__ADS_1
thank youuu💙