
Setelah menyelesaikan semua urusan administrasi pendaftaran kuliah, Freya berjalan ke luar dari pelataran gedung yang sebentar lagi akan menjadi kampus tempatnya menuntut ilmu dengan perasaan yang ringan dan bahagia.
Sudah begitu lama ia ingin mempelajari Fashion Design. Ia serius ketika mengatakan ingin sehebat Valentina. Kelak, ia akan memiliki brand yang akan terkenal hingga seluruh dunia.
Lisa yang berjalan di sisi Freya tak kalah semringah. Ia bisa kuliah dengan cuma-cuma, itu semua berkat teman yang baru dikenalnya beberapa hari ini. Oh, tidak, mereka bukan lagi teman. Ia sudah menganggap Freya sebagai Dewi Keberuntungan!
“Kakak, kelak jangan tinggalkan aku, ya. Ke mana pun kamu pergi, bawa aku bersamamu,” ucapnya seraya bergayut di tangan Freya dengan manja.
Freya mengernyit dan berpura-pura jijik. Ia menyingkirkan tangan Lisa sambil membalas, “Siapa kakakmu? Dasar tidak tahu malu.”
Lisa meleletkan lidahnya dan tertawa puas. Ia tahu Freya hanya bercanda. Dewinya itu sebenarnya sangat senang karena mereka bisa kuliah di satu kampus.
Jika Freya mengambil jurusan Fashion Design, maka ia mengambil jurusan Manajemen Bisnis. Mereka sudah berbicara dan sepakat semalam. Sambil berkuliah nanti, mereka akan merintis usaha bersama. Mungkin dimulai dengan bisnis kafe kecil-kecilan yang dikelola bersama sambil belajar di kampus dan menyerap ilmu sebanyak mungkin.
Suatu saat nanti saat mereka telah lulus, pasti telah memiliki kemampuan dan pengalaman yang cukup untuk memulai bisnis yang sebenarnya.
“Di mana Ruth?” tanya Lisa. Ia menoleh ke kanan dan kiri, mencari sosok yang biasanya selalu menempel dengan Freya.
“Dia menunggu di—“
“Freya!”
Lisa dan Freya menoleh bersamaan ketika suara bariton yang cukup keras itu terdengar dari sisi kanan mereka.
Dalam sekejap mata pria itu sudah tiba di depan mereka, lalu dengan gerakan yang sangat cepat, ia meraih dan menggenggam jemari Freya erat-erat.
“Freya, aku hampir gila mencarimu ke mana-mana ... tolong, beri aku kesempatan untuk menjelaskan. Aku janji, hanya sebentar,” ucap pria itu dengan ekspresi memohon.
“Siapa kamu?” tanya Lisa dengan waspada.
“Yoga, lepaskan. Sudah kukatakan tidak ada yang perlu dijelaskan.” Freya berusaha menarik tangannya, tapi Yoga justru menahannya semakin erat.
“Kamu mengenalnya?” tanya Lisa.
“Hanya kenalan—“
__ADS_1
“Aku kekasihnya,” sela Yoga yang tidak rela disebut hanya sebagai kenalan.
Freya memelototinya. “Siapa kekasihmu? Di antara kita tidak ada hubungan apa-apa!”
“Meskipun tidak mengatakannnya secara langsung, tapi kita sama-sama tahu kalau kamu mencintaiku, dan aku bahkan lebih mencintaimu, Freya ... tolong, jangan terlalu kejam kepadaku ....”
Freya menghela napas dan merasa tak berdaya. Bagaimana caranya mengusir pria ini? Ia tidak ingin orang-orang suruhan Pak Pram melihat mereka dalam situasi seperti ini dan salah paham, lalu melaporkannya kepada pria itu. Bisa panjang urusannya.
Pada akhirnya ia hanya bisa mengalah dan menyetujui permintaan Yoga. Toh, masalah ini ... cepat atau lambat harus diselesaikan sampai sejelas-jelasnya.
“Baik, setengah jam. Waktumu hanya setengah jam,” ucapnya.
Mata Yoga langsung bersinar penuh harap. Ia mengangguk dengan cepat. “Baik. Ikut aku.”
“Bicara di sini saja,” kata Freya.
“Tidak bisa. Aku ingin berbicara berdua denganmu saja. Sekalian aku traktir makan siang? Oke?” pinta Yoga.
Ia buru-buru menambahkan ketika melihat Freya akan menolak. “Anggap saja ini permintaan maaf dariku, utangku kepadamu ... oke? Kumohon ....”
Ia menoleh dan berpesan kepada Lisa sebelum masuk ke mobil. “Kamu pulanglah dulu. Jangan katakan kejadian ini kepada Pak Pram atau Pak Bayu. Aku akan mentraktirmu makan lain kali.”
Lisa menutup mulutnya karena terkejut. Untuk sesaat ia tidak tahu harus merespon bagaimana. Apakah Freya yang terlihat imut dan polos ini telah mencampakkan kekasihnya agar dapat menikahi Bos?
Tidak! Itu tidak mungkin! Freya bukanlah gadis seperti itu!
Lisa menggelengkan kepalanya beberapa kali untuk mengusir pemikiran itu.
Tapi, baru saja Freya menyuruhnya jangan memberitahukan hal ini kepada Bos?
Huh.
Mustahil!
Ia tidak mungkin mengkhianati orang yang telah menjamin kehidupannya.
__ADS_1
Lisa mengeluarkan ponsel dan mengirim pesan suara kepada wakil CEO. Pria itu memang memberinya kontak ponsel untuk memudahkan komunikasi jika terjadi sesuatu, seperti kejadian saat ini, misalnya.
[Bos, ada pria bernama Yoga mencegat kami di gerbang kampus. Freya pergi dengannya. Tidak tahu ke mana.]
Ia juga mengetik pesan dan mengirimkannya kepada Freya.
[Maaf, aku terpaksa melaporkannya kepada Bos. Kamu hati-hati, jangan mudah percaya kepada orang asing.]
Setelah mengirim kedua pesan itu, Lisa memesan ojek online dan kembali ke rumahnya. Mengenai masalah apa yang akan terjadi selanjutnya, itu sudah di luar jangkauannya.
Di dalam mobil sedan yang melaju di tengah keramaian ibu kota, Yoga melirik ke kaca spion untuk memeriksa apakah ada mobil lain menyusulnya dan Freya.
Ia sudah sangat hati-hati menjauhi orang-orang yang selama ini mengikutinya dan selalu menghalanginya mendekati Freya. Untung saja ia tidak kalah cerdik. Ia mengutus beberapa orang untuk mengalihkan perhatian para pengawal itu ketika ia menghampiri Freya di gerbang kampus.
Mengikuti petunjuk di maps, Yoga membelokan kemudi menuju jalan kecil di sebelah kanan, menjauh dari jalan utama. Setelah yakin tidak ada yang membuntutinya, pria itu baru menurunkan kecepatan mobilnya. Ia menoleh ke arah Freya yang duduk di sebelahnya, memperhatikan air mukanya yang tetap terlihat tenang dan lembut.
"Dingin nggak?" tanya Yoga ketika menyadari Freya tidak memakai jaket atau sweater. Tubuh Freya yang dibalut blus biru muda yang membuatnya terlihat imut dan rapuh, membuat orang ingin menjaga dan melindunginya dengan baik.
Freya menoleh sekilas sambil menggeleng. “Tidak, sudah biasa.”
Entah bagaimana, gerakan itu terlihat seperti adegan slow motion di mata Yoga. Sepasang bola matanya yang tenang dan jernih. Getar lembut bulu matanya ketika berkedip, juga bibir mungilnya yang merah merekah. Semuanya masih sama seperti dulu.
Tidak. Semuanya bahkan lebih menarik jika dibandingkan dengan penampilannya tiga tahun lalu.
Tiba-tiba Yoga merasakan sesak yang menghantam dadanya. Ia sangat merindukan gadis ini.
Yoga hampir kehilangan fokus. Ia buru-buru mengembalikan pandangan ke depan dan mengemudi dengan benar.
Tak lama kemudian, mobil yang dikendari Yoga berbelok memasuki gang kecil yang sangat familier bagi mereka berdua.
Freya yang tadinya acuh tak acuh mendadak menegakkan tubuhnya. Ia menoleh ke luar dan memindai deretan bangunan yang mereka lewati.
Ia lalu bergumam pelan, “Ini ....”
“Kamu masih ingat bakso Mang Deden? Dia masih buka. Ketika aku kembali dan mencarimu, aku sempat pergi menanyakan keberadaanmu kepadanya,” jelas Yoga ketika melihat Freya tidak bisa meneruskan ucapannya. Hatinya merasa sedikit senang. Dari ekspresi Freya, sepertinya masih ada harapan untuk dirinya.
__ADS_1
***