
Setelah semua hidangan siap, Pramudya memanggil pelayan untuk membantu memindahkan mangkuk berisi lauk ke meja makan. Ia lalu melepaskan celemek dan mencuci tangan.
Freya keluar untuk memanggil Kakek yang sedang duduk di ruang tamu. Ia tidak tahu bahwa pria tua itu hanya sedang berpura-pura sibuk membaca berita bisnis di ponselnya setelah berlarian dari pintu dapur bersama asistennya dan Pak Anton.
Bisa bayangkan tiga orang pria tua berjinjit dan berlompatan seperti pencuri ketika suara Pramudya terdengar meminta tolong kepada Freya untuk memanggil kakeknya?
Yah, kurang lebih seperti itulah.
Pak Anton melarikan diri ke sisi kanan, Pak Tua ikut berlari ke kanan, tapi asistennya mengejar dan menyeretnya kembali ke arah kiri. Mereka lalu sibuk berakting sedang melakukan pekerjaan masing-masing.
“Kakek, Pram sudah selesai memasak. Ayo, kita makan bersama,” ucap Freya kepada Pak Tua yang sedang menatap ponselnya dengan serius.
“Sudah matang?”
“Ya, maaf sudah membuat Kakek menunggu lama.” Freya menghampiri Pak Tua dan mengulurkan tangannya.
“Baguslah kalau sudah matang. Aku sudah lapar.” Pak Tua menyambut tangan Freya dan bangkit berdiri.
Di dekat kursi, asistennya terbatuk pelan.
Tuan Besar, Anda sangat hebat berakting. Kenapa tidak pergi bermain film?
Jelas-jelas tadi baru saja berlari kencang dari arah dapur ke ruang tamu, tapi sekarang bertingkah seolah tidak tahu kalau cucunya sudah selesai memasak. Benar-benar aktor profesional.
Pak Tua melirik sekilas ke arah asistennya dan memberi tatapan mematikan.
Bertingkah apa?
Ia sedang berperan menjadi orang tua yang baik.
Bisa diam sedikit tidak?
Ketika memasuki ruang makan, wangi rempah iga bakar membuat perut Pak Tua hampir berbunyi. Harus ia akui, cucunya memang memiliki bakat dan keterampilan yang patut diapresiasi. Pramudya selalu berhasil mempelajari hal-hal yang menarik minatnya dan mengeksekusinya dengan baik.
“Kakek, duduklah di sini,” ucap Pramudya seraya menarik kursi untuk kakeknya, mempersilakan pria tua itu untuk duduk.
Pak Tua menghampiri kursi itu dan mengempaskan bokongnya. Sangat nyaman. Ia juga sudah merasa lapar. Ia meletakkan serbet makan di atas pangkuannya, lalu mengambil piring dan mengisinya dengan sedikit nasi.
“Kakek, coba sup kepiting ini. Pramudya sangat hebat saat memasaknya tadi,” ucap Freya seraya menyerahkan mangkuk kecil berisi sup.
“Hm. Benarkah? Apakah ini bisa dimakan? Kamu yakin dia tidak diam-diam berniat meracuni kita?” tanya Pak Tua sambil memasang wajah curiga.
__ADS_1
Freya tertawa. Ia tahu Kakek hanya sedang bercanda untuk menggoda Pramudya.
Ia mengambil piring kecil dan memasukkan dua potong iga pedas manis. “Dia mana tega meracuni Kakek ... ini, Kakek coba juga iga ini. Aromanya sangat harum, pasti rasanya enak.”
Pak Tua mencibir lagi, “Aku bisa memasak lebih baik darinya.”
“Benarkah? Kakek juga bisa memasak?”
“Tentu saja. Semua kehebatan bocah tengil ini berasal dariku.”
“Ya, Kakek memang sangat tampan dan hebat. Pram sangat beruntung karena terlahir sebagai cucu Kakek.”
Melihat Freya yang mengiyakan ucapannya tanpa ragu membuat Pak Tua tertawa bahagia sampai pipinya yang keriput berguncang. Lihatlah ekspresi jelek cucunya di seberang meja, membuatnya semakin senang saja.
Freya baru duduk di kursi, sepiring nasi dan semangkuk sup kepiting sudah disodorkan kepadanya.
“Makan yang banyak,” ucap Pramudya.
Pak Tua mencibir dan hampir menjulingkan matanya.
“Memang cucu perempuanku yang paling baik. Dia mengambilkanku lauk, berbeda dengan seseorang yang kukenal sejak kecil,” sindirnya.
Meski begitu, ia tetap bangun dan mengambilkan capcai seafood untuk pria tua itu.
“Kakek, makan yang banyak. Kakek harus kuat agar bisa menggendong cicit-cicit Kakek nanti,” ucapnya.
“Uhuk!” Freya yang sedang menikmati kuah kental sup kepiting pun tersedak.
Ia mengambil segelas air putih dan meminum separuh isinya. Untung tidak terlalu parah sehingga batuknya tidak lama sudah berhenti.
“Ada apa? Kenapa bisa tersedak?” tegur Pramudya seraya menepuk-nepuk punggung istrinya dengan memasang wajah polos. Apakah ucapannya barusan membuat istri kecilnya terkejut sampai tersedak?
Meski kasihan, ia merasa ini sedikit menggemaskan.
Freya menahan diri untuk tidak bertindak impulsif. Masih ada Kakek yang sedang menatapnya dengan sepasang mata berbinar. Sepertinya Kakek benar-benar berharap ucapan Pramudya lekas terkabul.
Atau jangan-jangan pria tua itu sudah mengkhayal lebih jauh, membayangkan kalau cicitnya sebentar lagi sudah akan datang, misalnya.
Ia buru-buru melambaikan tangan dan berkata, “Bukan apa-apa. Aku hanya terkejut. Sup buatan Pram sangat enak. Aku merasa sangat terharu karena bisa menikmati sup seenak ini.”
“Benarkah?” Pak Tua menatap tak percaya. Ia mengambil sesendok sup dan mencicipinya.
__ADS_1
Memang sangat enak, tidak kalah dengan hasil masakan restoran, tapi tidak seenak itu hingga membuatnya terharu dan ingin menangis. Apakah cucu perempuannya sedang menyanjung suaminya secara berlebihan?
Di seberang Pak Tua, dua tangan di bawah meja sedang bergumul. Freya mencubit punggung tangan suaminya dengan kesal, tapi pria itu justru balik menggenggam dan mengusap-usap kulitnya dengan gerakan yang sangat lembut.
Freya mengangkat kaki dan ingin menendang tulang kering suaminya, tapi pria itu berkelit dan membelit kakinya dengan betis yang kuat. Ia jadi tidak bisa bergerak.
“Apa-apaan itu tadi? ” Freya mendesis marah dengan nada yang sangat rendah. Jangan sampai Kakek mendengarnya.
Pramudya mengangkat alisnya dan memasang tampang bodoh, seolah-olah ia tidak mendengar kepanikan dalam suara istrinya.
Ia mendekatkan wajahnya dan berbisik pelan, “Kenapa? Bukankah itu wajar. Kakek memang harus kuat supaya bisa menggendong anak-anak kita nanti.”
Wajah Freya memerah dengan tidak jelas. Paman Tua ini semakin lancang dan tidak tahu malu!
“Paman, memangnya kamu bisa?” Freya mendesis marah. Ucapan itu terlontar begitu saja.
Sekejap kemudian, ia merasa sangat menyesal. Air muka suaminya berubah keruh dan menghitam dengan cepat. Gawat, sepertinya ia sudah menyinggung macan yang sedang tidur.
“Apa kamu bilang? Coba ulangi sekali lagi.” Pramudya menggeram.
Freya menelan ludah dengan gugup. Benar-benar gawat.
“Ehm!” Pak Tua berdeham dari seberang meja. Cucunya ini, tidak di dapur, tidak di meja makan ... benar-benar berpikiran sangat terbuka.
“Kakek ....” Freya menoleh dan tertawa dengan canggung. Ia berusaha keras menarik tangan dan kakinya kembali. Untung saja Pramudya bekerja sama dan mau melepaskannya.
“Sudahlah, aku juga pernah muda ... tidak apa-apa, anggap saja hanya ada kalian berdua di sini,” ucap Pak Tua. Ia menunduk dan melanjutkan makan dengan santai.
Abaikan saja cucunya yang tidak tahu malu itu. Setidaknya cucunya masih normal dan bisa menyukai seorang gadis. Semua kecemasannya selama ini musnah sudah. Ia bisa makan, minum, dan tidur dengan tenang.
Freya menunduk karena malu.
Tuhan, sudah berapa kali Kakek salah paham seperti ini?
Rusaklah sudah imejnya di hadapan Kakek.
Semua gara-gara Paman Tua ini!
Huh!
***
__ADS_1