Istri Kesayangan Tuan Pram

Istri Kesayangan Tuan Pram
Berkelahi


__ADS_3

Salah seorang dari wanita itu berjalan maju menyusuri selasar dengan gerakan melenggak-lenggok bak peragawati. Rambut pirangnya tergerai sepinggang, mengilap dan bergelombang. Bibirnya yang penuh melengkung dengan senyuman penuh ketika tiba di depan Freya.


“Sorry ....”


Gelas minuman di tangannya terangkat, lalu dimiringkan hingga sisa isinya tumpah ke lantai, memercik ke kaki dan ujung celana Freya.


“Oops, not sorry ....” imbuhnya, lalu tertawa terbahak-bahak bersama tiga orang perempuan yang berdiri di belakangnya. Salah satu di antara mereka yang berpenampilan paling imut sedang memegang ponsel dan mengarahkannya kepada Freya dan Lisa.


Kejadian itu menarik perhatian orang-orang yang sedang berlalu-lalang, tapi tidak ada yang terlihat akan datang membantu Lisa dan Freya.


“Brengsek! Apa-apaan kalian?” teriak Lisa penuh emosi.


“Pe la cur yang menju-al diri untuk bisa kuliah di sini, gak usah sok! Jijik, tahu gak? Dasar sam pah!” ucap si pirang sambil menatap sinis.


“Apa kamu bilang?!” Lisa sudah hampir melompat maju, tapi sekali lagi Freya menahannya.


“Siapa yang ja lang? Sepertinya kalian salah paham karena—” tanya Freya.


“Masih nanya lagi! Ya elu berdua lah! Nggak tau diri! Pergi dari kampus ini! Ngotorin aja!” sela salah seorang dari belakang. Matanya melotot sambil menudingkan jari ke depan.


Satunya lagi yang berpotongan rambut bob menunjukkan ponselnya ke arah Freya.


“Lihat! Tuh, ngapaian elu berdua dempetan sama om-om kayak gitu kalau bukan lagi ngel*nte, hah?” teriaknya dengan lantang.


Orang-orang yang datang menonton semakin banyak.


Freya terkesiap ketika melihat foto dirinya dan hampir tertidur dan bersandar di bahu Pak Pram ketika berada di bandara. Ia menghela napas panjang. Sepertinya ada yang sudah menghasut perempuan-perempuan ini. Kemungkinan besar adalah orang suruhan Tari, Tommy, atau Carissa. Ia sangat yakin tidak mungkin Yoga akan melakukan trik licik dan murahan seperti ini.


“Ayo, pergi.” Freya menarik tangan Lisa dan mengajaknya pergi dari tempat itu. Percuma menjelaskan. Ia tidak ingin Pak Pram terlibat dalam masalah seperti ini. Itu akan merusak citra diri suaminya.


Lisa membantah, “Ta ... tapi mereka—“


“Jangan tanggapi. Kita laporkan saja.” Freya berniat melaporkan masalah itu kepada Dekan, atau bagaimana pun prosedurnya nanti, ia akan mengikutinya sesuai aturan yang berlaku, Yang jelas ia tidak akan memakai kekerasan. Setidaknya tidak boleh dirinya yang menyerang lebih dulu.


“Heh! Mau ke mana, Ja lang!”


Seruan nyaring datang dari belakang, tapi Freya mengabaikannya sepenuhnya. Ia terus menarik tangan Lisa untuk pergi dari tempat itu.


Akan tetapi, tiba-tiba tubuhnya tersentak ke belakang disertai rasa sakit yang menyengat kulit kepalanya. Seseorang baru saja menarik rambutnya dengan keras.

__ADS_1


Freya menahan napas dan berputar dengan cepat. Kedua tangannya berkelit dan menyusup dari bawah, lalu menghantam dengan kuat ke lengan orang yang menarik rambutnya.


“Aaah! Tanganku!” Perempuan berambut pirang menjerit-jerit sambil memeluk kedua tangannya di dada. Sakit sekali! Ia tidak menyangka akan mendapatkan balasan seperti ini.


“Balas dia!” Perempuan itu meraung marah. Kedua rekannya segera merangsek maju, sementara si rambut bob masih terus merekam dengan ponselnya.


Freya mencibir. Ia sungguh tidak ingin terlibat masalah, tapi masalah selalu datang mencarinya. Jangan salahkan kalau ia tidak sungkan lagi.


Ia berkelit dengan mudah ketika salah seorang perempuan itu menerjang membabi buta ke arahnya. Diangkatnya satu kaki dan menjegal di depan. Perempuan berambut lurus sebahu itu tersandung dan jatuh terguling. Teriakannya terdengar seperti ban ci yang dikejar satpol PP.


Melihat dua temannya terluka dengan mudah, perempuan yang maju bersama si rambut lurus berhenti bergerak. Ia membetulkan kacamatanya dan mengamati Freya dengan ragu-ragu, kemudian menoleh ke arah si rambut pirang.


“Balas dia, sialan!” umpat si pirang.


“Kamu akan terluka,” ucap Freya.


“Maju!” teriak si rambut ikal sambil memelotot, masih memeluk kedua lengannya yang terasa seperti akan patah.


“Brengsek.” Si kacamata mengumpat pelan sebelum menerjang ke arah Freya.


Freya berdecak malas. Ia mengetatkan kepalan tangannya dan menyambut si kacamata. Tampaknya orang-orang ini tidak akan berhenti sebelum benar-benar diberi pelajaran.


Si kacamata tercekat. Mulutnya terbuk lebar, tapi embusan napas pun tidak terdengar.


Sakit.


Sakit sekali.


Napasnya tertahan di tenggorokan.


Ia megap-megap seperti ikan yang terdampar dan kehabisan oksigen. Tangannya menggapai-gapai mencari pegangan, tapi ketiga temannya justru mundur dengan wajah pias. Tidak ada yang datang untuk menolong.


Freya berjalan selangkah demi selangkah menghampiri si gadis yang memegang ponsel. Ia mengulurkan tangan dengan santai.


“Berikan,” perintahnya.


Gadis bermulut tajam itu tidak berani mengatakan apa-apa. Ia menyodorkan ponselnya dengan tangan gemetar. Ia tidak dibayar untuk dipukuli. Bagaimana kalau ia cacat? Siapa yang akan ganti rugi?


“Terima kasih sudah merekam,” ucap Freya seraya berbalik dan menghampiri Lisa. “Ayo, serahkan barang bukti ini.”

__ADS_1


“Um!” Lisa mengangguk kuat. Rasakan! Siapa suruh mengatainya ja lang. Huh!


“Beruntung kalian tidak sampai cacat! Lain kali kalau berani bicara omong kosong lagi, kami akan mematahkan tangan dan kaki kalian!” ancamnya sebelum mengikuti Freya yang sudah lebih dulu berjalan menjauh.


Kerumunan penonton bubar. Sebagian besar berbisik-bisik, sisanya pergi begitu saja seolah barusan tidak terjadi apa-apa.


Freya mengabaikan semua itu dan berjalan tanpa menoleh. Tujuannya adalah kantor Dekan. Meski bisa menghadapi orang-orang seperti itu dengan mudah, ia tetap tidak ingin hal-hal seperti ini terulang di masa depan. Sangat merepotkan dan membuatnya membuang tenaga dengan percuma.


“Lisa, mulai sekarang kamu harus lebih hati-hati. Kita tidak tahu trik apa lagi yang akan digunakan oleh orang-orang ini nanti,” ucapnya kepada Lisa yang masih terengah-engah.


“Ya, huh ... aku mengerti ....” Lisa mengatur napasnya yang ngos-ngosan. Sial. Padahal cuma sedikit berlari.


“Kamu juga harus banyak olahraga. Nanti latihan sama-sama, ya.”


“Oke ... apa? Tidak. Tidak usah. Aku bisa sendiri. Terima kasih.” Lisa melambai-lambaikan tangannya di udara. Ia bisa masuk UGD kalau berlatih dengan petarung profesional ini.


“Aku akan melaporkannya kepada Pak Bos agar gajimu dipotong.”


“Hah? Atas dasar apa?”


“Bukankah tugasmu adalah menemaniku melakukan apa pun?”


“Iya, tapi ... tapi ....” Lisa melirik dan mengerucutkan bibirnya dengan kesal. Ia tidak bisa membantah ucapan itu.


Freya menaikkan alisnya dan menunggu jawaban.


“Oke ... oke ... terserah kamu saja, tapi sekarang kita harus membersihkan pakaian ini dulu. Tadi waktu kamu berkelahi, aku sudah mengabari Pak Bayu. Katanya akan ada pelayan yang mengantarkan pakaian.”


“Dasar cepu,” gerutu Freya.


“Biarin!” Lisa meleletkan lidahnya dan mengekori Freya. Kalau tidak begitu, dari mana mereka akan mendapatkan pakaian ganti? Tidak mungkin belajar dengan kemeja yang lengket karena whipcream.


Freya menghela napas, tidak tahu apakah harus berterima kasih atau menjitak kepala temannya yang kepo ini.


Selain itu, ia masih harus memikirkan cara untuk menghadapi serangan-serangan lain yang mungkin akan segera berdatangan. Sepertinya orang-orang itu tidak akan membiarkannya dan Pramudya hidup dengan tenang.


Akan tetapi, ia sudah bertekad untuk menghadapinya. Apa pun yang akan terjadi, ia tidak akan menyerah dengan mudah.


***

__ADS_1


__ADS_2