Istri Kesayangan Tuan Pram

Istri Kesayangan Tuan Pram
Luka di Hatinya


__ADS_3

Freya meletakkan pensilnya di atas meja dan menopang dagunya. Sketsa model yang digambarnya belum selesai. Meski sudah mencoba untuk fokus dan menyelesai tugas pertamanya dari kampus, pikirannya masih saja terbagi.


Ia mendesah pelan dan melirik ponselnya yang sejak tadi hening, tidak berdering sama sekali. Tidak ada lagi pesan yang masuk atau panggilan yang menganggu dari Yoga.


Pria itu tidak lagi mengiriminya pesan dan tidak menelepon setelah ia membalas pesannya tadi pagi. Sekarang sudah hampir pukul dua. Apakah pria itu akhirnya menyerah?


Entah kenapa Freya merasa hatinya sedikit tidak nyaman. Rasanya seperti ada sesuatu yang berputar-putar dan menusuk dari dalam dan membuat jantungnya nyeri.


Inilah yang paling tidak disukainya jika melibatkan perasaan. Ia terlalu lemah. Sedikit saja mengingat masa lalu maka ia akan melow, merasa sedikit merindukan Yoga ... rindu masa-masa di mana mereka bisa tertawa dan melakukan apa saja tanpa beban. Begitu bebas dan penuh harapan.


Sekarang, meski kehidupannya lebih stabil, bahkan bisa dibilang ia hidup dengan nyaman, tapi ia merasa sangat terikat. Ia tidak bisa menjadi diriya sendiri, tidak bisa lagi sebebas dulu ....


Ding.


Ding.


Suara dua pesan masuk berturut-turut membuat Freya terlonjak dari kursinya. Dengan cepat tangannya terulur ke depan untuk mengambil ponsel yang layarnya masih menyala.


Ia separuh berharap pesan itu dari Yoga.


Akan tetapi, ketika melihat nama pengirim pesan itu, Freya sedikit merasa tidak percaya. Ia menggosok matanya dengan punggung tangan. Apa ia salah baca?


Ia membuka ponselnya dan mengintip nama pengirim pesan melalui jendela pop up.


Itu memang pesan dari Pak Pram.


Freya mengusap layar ponsel dan membaca pesan yang baru masuk itu, kemudian terdiam cukup lama. Ia memang sudah menyimpan kontak Pak Pram, diberikan oleh Sekretaris Kikan. Akan tetapi, ini adalah pertama kalinya pria itu mengiriminya pesan.


Ajakan makan malam dengan rekan bisnis. Apakah itu artinya mereka harus berakting sepanjang malam?


Astaga, ini pasti akan sangat melelahkan ....


Freya merasa sisa jiwanya telah diserap sampai habis. Ia bahkan tidak memiliki tenaga lagi untuk kembali duduk di kursi. Tubuhnya merosok begitu saja seperti sehelai bulu yang tertiup angin.


Siapa yang mengira bahwa pernikahan pura-pura ini ternyata sangat melelahkan. Selain menghadapi suami yang sulit ditebak, ia juga masih harus menghadapi masalah pribadinya sendiri.


Benar-benar melelahkan.

__ADS_1


Freya menarik napas dalam-dalam dan membenamkan wajahnya di atas lipatan tangannya.


Jamuan makan malam ini seperti apa?


Apakah aku akan dijadikan pajangan? Dipamerkan kepada rekan bisnisnya agar dianggap sebagai suami yang baik.


Freya mencibir dalam hati. Tugas seperti ini tidak tertulis dalam kontrak. Kenapa semakin hari pekerjaannya semakin berat?


“Freya, kamu di dalam?”


Suara Doni terdengar bersamaan ketukan pelan di daun pintu.


Freya mendongak dan menjawab tanpa tenaga, “Ya, masih hidup di sini.”


Doni tertawa dari luar. Ia mendorong pintu dan melongok.


“Ada yang mencarimu di bawah,” ucapnya.


Freya terkejut.


Siapa yang datang? Apakah Pak Pram sudah mengutus orang untuk menjemput?


“Tidak. Tapi sepertinya dia pernah datang ke sini bersama suamimu ... eng, laki-laki yang ingin memberimu bunga itu ....” Doni menjawab dengan tenang meski hatinya bergejolak. Waktu itu ia diam-diam mengamati drama antara suami Freya dan seorang pemuda yang tak kalah tampan di depan kafe.


Tanpa sadar ia menghela napas yang terasa berat. Tampaknya peluangnya untuk mendapatkan hati Freya semakin kecil.


Mendengar jawaban Doni, sepasang mata Freya membola.


Yoga?


Untuk apa dia datang ke sini?


Bagaimana dia bisa tahu aku sedang berada di sini?


Freya sedang tidak mood untuk meladeni siapa pun. Ia mendorong Doni keluar sambil berkata, “Tolong kamu bilang aku tidak ada.”


“Tapi—“

__ADS_1


“Bilang saja aku sudah pergi dari tadi.”


“Pergi ke mana?”


Doni dan Freya sama-sama terkejut ketika mendengar suara yang sangat kasihan itu datang dari arah tangga. Keduanya menoleh bersamaan dan mendapati Yoga sedang berdiri di sana dengan wajah yang terlihat sangat sedih. Ada plastik berwarna putih di tangan kanannya, entah berisi apa.


“Kamu benar-benar tidak ingin bertemu denganku?” tanyanya lagi ketika melihat Freya yang masih terpaku di depan pintu seraya memegangi tangan Doni.


Freya masih terdiam, tidak tahu harus menjawab apa.


Haruskah ia mengatakan bahwa tidak ingin bertemu dengan Yoga?


Tapi, sejujurnya di dasar hatinya yang paling dalam, ia memang masih sedikit merindukan pria itu.


Saat ini ia hanya masih sedang marah.


Semua sikap penolakan dan kata-kata kasar yang ia ucapkan itu dipicu oleh kemarahan yang amat sangat karena pria itu pergi dan datang sesuka hati, mempermainkan perasaannya dan membuat hatinya berantakan dengan mudah.


“Eng, itu ... kalian bicara saja dulu. Sebentar lagi kafe sudah harus buka,” ucap Doni seraya melepaskan cekalan Freya dari tangannya.


Freya tidak menahannya lagi. Ia berdiri dengan gamang, tidak dapat mengalihkan pandangannya dari wajah Yoga, mencoba mencari perasaaan apa yang masih tersisa ketika ia melihat wajah yang pernah dirindukannya siang dan malam.


Yoga melangkah maju, satu demi satu berjalan dengan sangat hati-hati, seolah-olah takut Freya akan melompat pergi jika ia terlalu cepat berjalan.


Air mukanya tampak ragu-ragu. Berbeda dengan tiga tahun lalu, kali ini ia sama sekali tidak bisa menebak apa yang sedang dipikirkan oleh Freya hanya dengan melihat ekspresi wajahnya.


Padahal, dulu ... hanya dengan melihat sudut bibir Freya yang berkerut, ia bisa tahu gadis itu sedang kesal atau lapar. Tapi sekarang ia bahkan tidak berani menebak apa yang sedang dipikirkan oleh gadis itu.


Lihatlah betapa waktu mengubah segala sesuatu dengan sangat mudah.


Tanpa sadar Yoga menghela napas. Entah sudah berapa kali Freya menghindarinya, memarahinya, menolaknya dengan cara halus maupun kasar, tapi semua itu tidak berarti apa-apa baginya. Asal Freya masih mau menanggapinya, masih mau bertemu dengannya, ia akan berusaha sekuat tenaga untuk mendapatkan hati gadis itu kembali.


Doni menyingkir dari depan kantor tanpa bersuara. Ia sadar dirinya hanyalah pengganggu yang keberadaannya tidak diharapkan. Lebih baik pergi dan bersiap untuk membuka kafe. Mengenai rasa sukanya untuk Freya ... sudahlah, ia juga tidak bisa memaksakan rasa itu untuk pergi atau datang. Biarkan semua mengalir apa adanya.


Yoga berhenti sekitar lima langkah di hadapan Freya. Keduanya saling menatap tanpa bersuara, mencoba menyelami kedalaman perasaan masing-masing, menggali dari sisa-sisa dan puing-puing rasa yang berserakan.


Yoga tahu ia tidak bisa bersikap terlalu memaksa. Itu hanya akan membuat Freya semakin membencinya. Apalagi setelah pesan yang diterimanya tadi pagi. Ia akhirnya menyadari seberapa besar luka yang telah ia tinggalkan di dalam hati satu-satunya gadis yang ia cintai itu.

__ADS_1


Seberapa besar trauma dan rasa sakit yang diderita oleh Freya ... ia layak mendapatkan yang sama.


__ADS_2