
Pramudya mengira Freya ketakutan sehingga mencengkeram sandaran kursi erat-erat. Karena sedikit merasa bersalah telah melibatkan gadis itu, Pram bergeser dan duduk tepat di sebelah Freya.
“Tidak apa-apa. Sebentar lagi bantuan akan segera datang,” ucapnya dengan ekspresi canggung. Ia tidak pernah membujuk seorang perempuan sebelumnya.
“Eh?” Freya terkejut dan menatap bosnya dengan bingung. Apa maksudnya?
“Kamu tidak perlu takut. Aku tidak akan membiarkan apa pun terjadi kepadamu.”
“Oh ....” Freya tersenyum kikuk. Apakah bos galaknya itu mengira ia sedang ketakutan? Sayang sekali, ia hanya sedang mempersiapkan diri untuk kejar-kejaran dengan penjahat.
Sopir memutar kemudi memasuki jalan tol yang lengang. Jalan bebas hambatan itu tidak seramai jalan protokol. Mobil pengawal mengambil jalur masuk dari sisi kiri dan kanan, sedangkan mobil penguntit itu berhenti sebentar di belakang sebelum mengikuti masuk ke gerbang tol.
“Itu memang penguntit,” gumam Pramudya pelan.
Freya memutar matanya dengan ekspresi bosan. Sepertinya bos galaknya itu tidak sepenuhnya mempercayai ucapannya.
Kedua mobil pengawal langsung mengapit di depan dan belakang seperti semula. Sementara itu mobil penguntit melambat di dekat gerbang masuk tol.
“Ke mana mobil itu?” tanya Freya seraya menengok ke belakang. Hanya terlihat mobil pengawal yang mengikuti dalam jarak aman.
Pramudya mengernyit. Apakah ini hanya kebetulan? Atau mobil itu mengalami kendala sehingga tidak bisa mengikuti lagi? Apa pun itu, ia tidak mau mengambil risiko.
“Tetap menyetir, keluar dari jalur pertama,” perintahnya kepada sopir.
“Baik, Tuan.”
“Apakah menurut Anda ini tidak mencurigakan? Mungkin mereka sudah memasang jebakan di jalan keluar,” ucap Freya seraya melirik ke belakang beberapa kali. Ia cukup yakin orang-orang itu tidak akan menyerah dengan mudah. Tidak mungkin ‘kan melepaskan buruan begitu saja?
__ADS_1
Pramudya melirik Freya dan memberikan tatapan yang cukup dalam sehingga gadis itu salah tingkah.
“Maaf, saya tidak tidak bermaksud ikut campur atau sok tahu. Kadang mulut saya memang tidak bisa diajak kerja sama, terus berbicara meskipun saya tidak menginginkannya. Apa yang saya pikirkan tercetus begitu saja,” ucap Freya dengan suara pelan.
Ia lalu mengalihkan pandangan ke luar jendela. Berada terlalu dekat dengan CEO galak ini membuatnya sedikit sesak napas. Aroma maskulin yang menguar dari tubuhnya mendominasi seluruh lapisan udara dalam mobil, membuat jantung kecilnya yang malang hampir kehilangan ritmenya.
“Kamu cukup jeli dan teliti, tidak terlihat dari penampilanmu yang sembrono ini,” ucap Pram dengan santai.
Mata Freya menyipit. Apakah calon suaminya yang baik hati ini baru saja memujinya? Apakah itu pantas disebut pujian? Ia lebih merasa itu adalah semacam sindiran halus yang menusuk langsung ke hatinya.
Setelah seperempat jam, mobil melaju di jalan tol tanpa hambatan yang cukup berarti. Tidak ada tanda-tanda penguntit lain yang mengikuti mereka. Tampaknya mobil penguntit sebelumnya benar-benar sudah tertinggal di gerbang masuk. Mungkin rusak, atau mungkin itu hanya orang iseng yang kebetulan mengenali Pramudya Antasena dan ingin membuntutinya sebentar, atau bisa juga hanya seorang wartawan yang ingin mendapatkan berita eksklusif.
Apa pun itu, Freya sudah tidak terlalu memikirkannya lagi. Mengenai apakah ada jebakan di jalan keluar atau tidak, biarkan saja bos galak yang mengatasinya. Hal itu di luar kendalinya sama sekali.
Boom!
Tepat saat Freya baru akan menarik napas lega, terdengar suara ledakan yang sangat kuat disusul bunyi ban berdecit memekakakkan gendang telinga. Tubuh Freya terpental ke depan, lalu momentum mendorongnya kembali ke belakang dengan sangat keras. Sebuah tangan yang kokoh menahan tubuhnya dengan kuat, menariknya masuk ke dalam dekapan yang hangat. Aroma maskulin itu menyeruak semakin tajam sehingga otak Freya membeku sesaat. Belum pulih dari rasa terkejutnya, suara decitan yang panjang dan tajam kembali terdengar.
Pram menahan tubuh Freya dalam dekapannya sekuat tenaga. Ia mengumpat dalam hati. Ia sudah meminta Bayu untuk membersihkan rute keluar. Siapa sangka orang-orang itu justru menyerang saat mereka masih di jalan tol. Apa yang digunakan? Bom? Granat? Brengsek! Berani sekali orang-orang itu.
Freya mengerang pelan ketika akhirnya mobil berhenti berguling. Kedua kakinya tertahan di jendela, sedangkan kepalanya masih berada dalam dekapan Pramudya. Untung saja ia memakai celana jeans. Kalau tidak, entah di mana ia harus menyembunyikan wajahnya.
“Kamu terluka?” tanya Pram seraya berusaha menendang pintu agar terbuka.
Freya mendesis pelan. Kepalanya sakit dan sikunya terasa nyeri, tapi anggota tubuhnya yang lain sepertinya masih baik-baik saja.
“Sedikit. Tidak apa-apa. Ayo, keluar dulu.”
__ADS_1
Gadis itu mendorong lengan Pramudya dan mengedarkan pandangan. Untung saja mobilnya tidak berhenti dalam keadaan terbalik. Ia menumpu bobot tubuhnya dengan tangan, kemudian memeriksa sopir yang kepalanya tertunduk di atas stir mobil. Ia mengulurkan tangan dan memeriksa denyut nadi sopir itu. Masih hidup. Sepertinya hanya pingsan. Freya menghela napas lega.
“Ayo, cepat keluar,” ucap Pram yang telah berhasil membuka pintu mobil. Ia membantu Freya keluar dari mobil, kemudian membantu mengeluarkan sang sopir yang masih belum sadarkan diri.
“Kita tidak boleh berada di area terbuka. Ayo, cepat cari tempat berlindung,” kata Pramudya seraya mengedarkan pandangan ke sekeliling. Kendaraan mereka berada di tepi tanah lapang. Dua mobil pengawal terbalik tidak jauh dari lokasi mereka. Setengah lusin pengawal berlari menghampiri mereka dengan senjata siap dibidikkan.
“Di sana!” seru Freya sembari menunjuk ke arah pilar beton yang menjadi penyangga jalan layang.
“Ayo, cepat. Hati-hati ....” Pram memegang lengan Freya dan setengah menyeretnya ke pilar itu.
“Tuan!” panggil salah seorang pengawal yang tampaknya merupakan pemimpin pasukan.
“Dari mana datangnya serangan itu?” tanya Pram.
Sang pemimpin berdiri di depan Pram dan melapor, “Pelaku hanya satu orang. Dia menggunakan bom bunuh diri, meledakkan diri bersama mobil yang dikendarainya. Maaf, kami terlambat menyadarinya.”
“Dasar tidak berguna! Cepat periksa!” perintah Pramudya sambil merunduk dan mengawasi sekitar. Tanpa sadar ia menarik kepala Freya dan menghalanginya dengan dadanya.
"Aaah ...." desisan pelan lolos dari mulut Freya. Kepalanya terasa sakit ketika tersentuh oleh tangan Pram. Tadi sakit itu tidak dirasakannya karena adrenalin yang melonjak. Sekarang, hampir semua sel di tubuhnya menjerit karena rasa sakit, tapi ia menggertakkan gigi dan tidak mengeluh. Situasi saat itu masih belum kondusif, ia tidak boleh mengalihkan perhatian semua orang.
“Maaf.” Rafleks Pram melepas tangannya. Meski tidak terlihat, ia dapat merasakan cairan lengket dan hangat yang tersentuh olehnya. Ia mengendus jari-jarinya, tercium aroma khas besi dan hemoglobin. Darah. Gadis itu berdarah.
Pram mengetatkan rahangnya dan meraung marah, “Di mana Bayu? Kalian semua tidak berguna! Masalah seperti ini saja tidak bisa diatasi! Cepat panggil ambulans! Tidak, cepat bawakan helikopter ke sini!”
Sang ketua segera melakukan panggilan sambil memerintahkan anak buahnya untuk menyisir ke sekitar tempat itu. Jangan sampai masih ada bahaya tersembunyi.
"Pak Pram, saya baik-baik saja. Jangan khawatir." Freya menggigit bibirnya dan berusaha menenangkan pria yang sedang mengamuk itu.
__ADS_1
Gawat. Pria itu terlihat 1000 kali lebih mengerikan ketika sedang marah.
***