
Freya duduk di dekat jendela, mengamati deburan ombak di bawah yang suaranya terdengar sampai ke kamarnya. Cahaya matahari yang keemasan perlahan memudar seiring sang surya yang semakin tinggi.
Freya telah duduk di tepi jendela sejak subuh, menanti dan mengamati matahari terbit. Ia terbangun sejak pukul dua dan tidak bisa tidur lagi, berbanding terbalik dengan Lisa yang masih tertidur pulas dan mendengkur.
Entah kenapa ada banyak hal yang dipikirkannya, terutama tentang hubungannya dengan Pak Pram.
Jatah lima hari “berbulan madu” di Pulau Bali hanya tersisa satu hari. Ia merasa sedikit tidak rela jika mereka pulang dan akhirnya tercipta lagi jarak di antara dirinya dan Pak Pram, selalu bertengkar setiap saat karena hal-hal sepele.
Di tempat ini, Pak Pram memperlakukannya dengan sangat baik dan penuh perhatian. Ia sedikit tersesat di dalam semua rasa manis ini dan tidak ingin pulang.
Padahal tadinya ia beranggapan bahwa pria sempurna itu tidak ada: kaya, tampan, baik hati, perhatian ....
Freya menghela napas dan memejamkan mata. Sepertinya sudah sangat terlambat. Ia sudah masuk ke dalam jebakan dan sulit untuk keluar dengan keadaan “utuh”.
Entah berakhir bahagia atau berdarah-darah, ia harus mempersiapkan hati untuk menghadapi semuanya.
“Hei, sejak kapan kamu bangun?”
Freya menoleh ketika mendengar suara Lisa yang serak datang dari balik tubuhnya.
“Eh, baru saja,” jawab Freya berbohong.
Ia tidak ingin Lisa mengetahui kegundahan yang sedang melanda hatinya. Si mulut ember itu pasti akan mejadikan dirinya bulan-bulanan dan meledeknya sepanjang waktu. Gawat sampai kalau Pak Pram tahu.
“Benarkah?” Lisa menggosok matanya dan menguap, lalu menatap Freya dengan raut tak percaya. Wajah Freya tidak terlihat seperti baru bangun tidur.
“Kata Pak Bayu hari ini kita akan pergi ke mana?” tanya Freya untuk mengalihkan perhatian Lisa. Ia tahu hubungan kedua orang itu pun semakin menjurus ke arah yang pasti.
__ADS_1
Lisa terlihat sedikit salah tingkah. Ia mengusap daun telinganya dengan kikuk dan menjawab, “Kemarin aku mengatakan ingin pergi ke bar, jadi hari ini dia berjanji akan mengantarkan kita ke bar di daerah Kuta.”
“Oh, ya? Baik sekali Pak Bayu ....” Freya menaikkan alisnya dan memberi tatapan menggoda ke arah Lisa.
“Tidak! Bukan karena aku, kok. Itu karena ... katanya Pak Bayu juga ingin pergi ke sana.”
“Benarkah? Bukan karena kamu yang ingin pergi ke sana?”
“Bukan! Itu karena Pak Bayu juga ingin ke sana. Suer ....” Lisa berusaha menjelaskan dengan panik, tapi semakin dijelaskan justru membuat seringai di wajah Freya semakin lebar. Hal itu membuatnya malu sekaligus kesal. Seharusnya tadi ia berpura-pura tidak tahu saja!
“Kalau begitu juga nggak apa-apa, kok. Aku juga ingin ke sana.” Freya tidak ingin menggoda Lisa lagi. Temannya itu terlihat seperti sudah akan marah karena malu.
“Sana pergi cuci muka, kita sarapan sama-sama,” imbuhnya seraya bangkit dari tempat duduk dan berjalan ke arah wastafel. Ia juga ingin mencuci muka dan menggosok gigi. Masih terlalu pagi untuk mandi.
Lisa tidak membantah lagi dan segera melakukan apa yang dikatakan oleh Freya. Sudah bagus ada kesempatan untuk melarikan diri, bagaimana mungkin tidak dimanfaatkannya dengan baik.
Setelah mencuci muka dan mengganti baju tidur dengan pakaian kasual, kedua gadis itu ke luar.
Hidangan yang disajikan pun berbeda-beda setiap hari: ada chinesse food, western food, seafood, juga makanan khas Pulau Dewata itu sendiri. Freya yang memang tukang makan sangat menyukai semua hidangan itu. Ia tidak terlalu pemilih. Di lidahnya, semuanya terasa enak.
Pihak villa tidak pernah menyiapkan makan siang dan makan malam karena mereka selalu pulang di atas jam sepuluh malam, sibuk mengunjungi tempat-tempat indah dari pesisir hingga pegunungan, tidak ada yang terlewatkan.
Freya sedikit tidak menduga bahwa hari terakhir mereka akan dihabiskan di bar, tapi ia tidak keberatan. Ia juga ingin mencoba pergi ke tempat hiburan malam seperti itu.
“Di mana Pak Bos dan Pak Bayu? Apa mereka belum bangun?” Lisa berguman ketika mendapati ruang santai masih kosong.
“Tidak tahu.” Freya menggedikkan bahunya. “Memangnya pagi ini kita mau ke mana?”
__ADS_1
“Aku juga belum tahu. Kamu kan tahu sendiri, Pak Bayu suka mendadak.”
“Hm.” Freya mengangguk sambil mengamati meja makan yang dipenuhi aneka hidangan.
Sepertinya menu hari itu adalah masakan khas Indonesia. Ada beberapa pilihan yang disajikan: nasi goreng, nasi uduk, dan lontong sayur, juga aneka jajanan pasar.
Dasar orang Indonesia. Pagi-pagi perut sudah diisi full karbo. Sangat berbeda jika menu western food yang dihidangkan.
Meski menertawai kebiasaan unik orang Indonesia yang “kalau belum makan nasi belum kenyang” itu, Freya tetap menyendok sedikit nasi goreng yang tersaji di dalam bakul anyaman bambu, lalu menambahkan acar dan kerupuk udang ke dalam piringnya.
Mau bagaimana lagi, kebiasaan itu sudah mendarah daging di dalam tubuhnya.
Ia mengambil sebotol air mineral, lalu pergi duduk di luar, berhadapan dengan infinity pool, sarapan sambil menikmati keindahan tiada tara yang ada di depannya.
Sejauh mata memandang, samudra biru dan langit yang cerah seolah tiada batas, menghampar luas. Ia tidak pernah bosan memandangi semua itu.
“Kamu ingin pergi ke tempat lain?” tanya Lisa seraya duduk di sebelah Freya. Ia memilih lontong sayur dan segelas teh manis hangat.
Freya menggeleng. Ia sudah cukup menjelajahi tempat-tempat wisata yang paling terkenal di Pulau Bali. Pak Bayu memang patut diacungi jempol. Kinerjanya sangat cepat dan gesit, mengatur semuanya dalam sekejap, berpindah dari satu tempat ke tempat lain dengan titik yang tidak terlalu berjauhan.
Dengan begitu mereka tidak perlu membuang banyak waktu di jalan sehingga bisa mendatangi semua tempat. Sekarang, tidak ada lagi yang ingin didatangi olehnya. Pergi ke bar saja sudah cukup.
“Kalau begitu, setelah sarapan kita turun main di pantai?” tawar Lisa.
“Boleh.” Freya mengangguk setuju. Ia ingin mengambil swafoto.
Terakhir kali, ia melarikan diri dari pantai bawah karena Pak Pram menyuruhnya mengganti pakaian yang dikenakannya. Sejak saat itu, hubungan mereka semakin dekat. Bisa dikatakan pantai ini adalah tempat pertama yang berkesan bagi Freya. Semacam tonggak peringatan untuk membaiknya hubungannya dan Pak Pram.
__ADS_1
Ia akan mengingat momen itu selamanya ....
***