
“Nyonya, silakan dibaca dulu.” Samuel mengingatkan dengan sopan.
Freya yang sedang bergumul dengan pikirannya sendiri akhirnya terpaksa tersenyum. Ia mengambil kembali dokumen-dokumen itu dan membacanya dari awal.
Isinya tidak terlalu banyak, intinya menyerahkan kepemilikan kafe kepada Freya. Ia berhak merenovasi atau merombak seluruh bangunan, bahkan mengganti atau menerima karyawan. Ibu Nancy tidak ada hubungannya lagi dengan semua itu. Dengan kata lain, secara resmi ia adalah pemilik baru dari Mapple Cafe & Resto.
Tidak ada yang aneh atau janggal, sama seperti ucapan Pak Brata sebelumnya. Ia hanya perlu tanda tangan saja dan menjadi bos dalam sekejap mata. Masalah berapa harga kafe ini, ia tidak ingin memikirkannya, apa lagi menebak harganya. Toh, ia masih bisa mengembalikan akta jual beli ini kepada suaminya ketika pulang nanti. Pak Brata dan Pak Samuel pasti bisa membantu untuk proses balik nama.
Ya. Begitu saja.
Freya memutuskan dalam hati dan bertanya, “Tanda tangan di mana?”
Samuel maju dan menunjukkan kolom-kolom di mana Freya harus membubuhkan tanda tangannya.
Ia mulai menandatangani lembaran demi lembaran kertas itu dengan cepat. Ia ingin menyelesaikan “transaksi” itu secepat mungkin dan segera pergi dari sana, pulang dan mengembalikan semuanya kepada Pramudya Antasena.
“Sudah.” Freya menyerahkan kembali berkas-berkas itu kepada Samuel.
“Baik. Dengan ini Kafe Mapple resmi menjadi milik Nyonya Antasena, ya, Ibu,” ucap Samuel.
“Ya. Tentu saja.” Sepasang mata Bu Nancy berbinar cerah. Kebetulan ia sedang membutuhkan modal untuk menyokong bisnisnya di bidang batu bara. Siapa sangka modal datang dengan sendirinya tanpa diminta, bahkan dalam jumlah yang sangat fantastis! Rasanya ia kembali berusia 20-an lagi!
Bu Nancy bangun dan menyalami Freya sambil berkata, “Kafe ini Ibu serahkan sama kamu, ya. Ibu yakin kamu bisa membuatnya lebih baik lagi.”
Senyuman di wajah Freya terlihat sangat jelek. Ia mengangguk dengan berat hati dan berpura-pura bahagia atas hadiah pernikahan yang baru saja diterimanya.
“Dananya sudah masuk, ya, Bu. Silakan diperiksa.”
Ucapan Pak Brata membuat Ibu Nancy hampir melompat bahagia. Ia mengeluarkan ponselnya dan memeriksa m-banking.
Sepasang mata Bu Nancy melebar dan berbinar-binar. Ia merasa seperti sedang bermimpi.
__ADS_1
Memang kenaikan harga ruko sangat signifikan, tapi harga 20 miliar cukup fantastis jika dibandingkan dengan harga beli tujuh tahun lalu. Tadinya ia hanya asal membuka mulut dan mengatakan nominal itu agar calon pembelinya mundur.
Siapa sangka permintaan main-main itu dikabulkan begitu saja. Kalau tahu akan seperti ini, mungkin ia akan meminta harga 50 miliar. Tapi ... ini juga sudah cukup, kok. Ia bisa pergi ke pinggiran kota dan membeli ruko-ruko lainnya dengan harga di bawah 500 juta. Aset seperti ini sangat menguntungkan. Ia ketagihan.
“Terima kasih atas kerja sama ini, Pak. Lain kali kalau membutuhkan sesuatu, silakan hubungi saya. Siapa tahu saya bisa membantu,” ucap Ibu Nancy dengan wajah semringah.
Pak Brata hanya mengangguk sopan dan menjawab, “Baik, Ibu. Senang bisa bekerja sama dengan Ibu. Terima kasih.”
“Sama-sama, Pak. Kalau begitu, saya pamit dulu, ya ....”
Bu Nancy bangun, mengambil tasnya dan maju untuk memeluk Freya. Ia memeluk dengan erat dan membelai bahu Freya seperti sedang memeluk putrinya sendiri.
“Sukses untukmu,” bisiknya sambil tersenyum lebar.
“Ibu juga.”
Bu Nancy melepaskan pelukannya dan menyalami Pak Brata juga Samuel bergantian. Karena transaksi sudah berakhir, tidak perlu berlama-lama lagi di tempat itu.
Setelah Bu Nancy pergi, Freya berdiri menghadap Pak Brata dan siap untuk melancarkan pertanyaan yang mengganjal di benaknya sejak tadi. Akan tetapi, kehadiran Samuel membuatnya masih menahan diri. Ia tidak ingin masalah rumah tangganya diketahui oleh orang luar. Pak Brata tidak termasuk orang luar karena beliau yang mengurus surat perjanjian antara dirinya dan Pak Pram.
“Karena semua sudah selesai, saya pamit dulu, Nyonya,” ucap Samuel setelah selesai membereskan tas kerjanya. Ia membungkuk dengan sopan untuk memberi hormat kepada Freya.
Kemudian, ia menoleh ke arah Pak Brata dan berpamitan, “Terima kasih atas kerja samanya, Pak. Sampai jumpa lagi.”
“Sama-sama. Sampai jumpa lagi.” Pak Brata menjabat tangan Samuel dengan erat, lalu mengawasi sampai pria itu menutup pintu ruang kerja yang kini secara resmi telah menjadi milik Freya.
Freya berdiri dengan tenang dan menunggu Pak Brata untuk menjelaskan, tapi pria itu hanya tersenyum dan balas menatap Freya seolah-olah tidak ada yang salah dengan kejadian sore itu.
Akhirnya Freya tidak tahan dan bertanya, “Apakah Pak Pram benar mengatakan ini adalah hadiah pernikahan, Pak Brata?”
“Ya. Memang seperti itu.” Pak Brata menjawab dengan lugas.
__ADS_1
“Kenapa dia tidak memberitahukannya kepada saya?”
“Kalau masalah itu, silakan Nyonya tanyakan langsung kepada Tuan Pram.” Prak Brata tidak dapat menahan senyumnya. Anak muda masa kini sangat merepotkan. Kalau suka tinggal bilang suka, kenapa harus berputar-putar?
Di seberangnya, Freya merasa sakit kepala. Bukannya ia tidak mau bertanya langsung kepada Pak Pram, tapi ia sudah berjanji untuk menjaga jarak dengan pria itu. Selama tidak ada Pak Tua atau Tommy, atau ibu tirinya, mereka akan hidup masing-masing ... kalau bisa tidak usah saling bertemu, pergi sejauh mungkin ....
Hatinya masih rapuh. Ia tidak ingin terjebak dalam hubungan rumit yang justru akan menghancurkan dirinya ketika tiba waktu untuk berpisah.
Selain itu ... masih ada Yoga yang ... ah, sudahlah. Tidak perlu memikirkan bajingan itu sekarang.
“Kalau tidak ada lagi yang ingin Nyonya tanyakan, saya pamit dulu.”
Freya mendesah pelan dan mengangguk dengan tidak rela. Apa lagi yang bisa dilakukannya?
Tidak ada.
Sekarang, mau tidak mau ia harus kembali dan menyerahkan Akta Jual Beli itu kepada suaminya.
“Terima kasih, Pak. Hati-hati di jalan.”
Pak Brata mengangguk sopan dan berjalan keluar, meninggalkan Freya yang merosot dan kembali terduduk di kursinya.
Dari seorang office girl menjadi Nyonya Antasena. Dari seorang pelayan kafe menjadi pemilik utama. Semua ini terlalu berlebihan. Dan ia tahu dengan pasti, segala sesuatu yang berlebihan, ketika dirampas dari tanganmu, maka akan menghancurkan sampai berkeping-keping.
Oleh sebab itulah ia memaksakan diri untuk tetap rasional dan tidak terjebak di dalam pusaran “kebahagiaan” ini.
Tiba-tiba Freya terbangun dari kursinya dan berderap menuju pintu.
Gawat.
Apakah Doni mengabaikannya karena telah mengetahui masalah ini?
__ADS_1
***