
Pagi itu setelah selesai mencuci piring bekas sarapan, Pramudya pergi ke ruang depan. Ia hendak memeriksa laporan yang dikirimkan oleh Bayu.
Ada sebuah senyuman lembut yang terpatri di wajahnya ketika mengingat Freya berpamitan sebelum pergi ke butik. Tadi istrinya itu bahkan berpesan agar ia tidak terlambat makan. Padahal biasanya gadis itu akan pergi tanpa mengatakan apa-apa, menoleh ke arahnya pun tidak, seolah-olah ia hanyalah bagian dari udara yang berada di dalam apartemen itu.
Namun kali ini berbeda. Hubungan mereka akhir-akhir ini membaik. Freya tidak lagi berwajah masam sepanjang waktu. Istrinya juga tidak lagi mengacuhkannya seperti ketika ia baru datang. Tapi Pramudya tidak mau terburu-buru. Akan ada masanya ia mendapatkan istrinya kembali tanpa adanya paksaan. Ia sangat yakin akan hal itu.
Pramudya baru saja menyalakan laptopnya ketika terdengar suara bel berbunyi. Ia mengira Freya ketinggalan sesuatu dan kembali, jadi ia bergegas pergi membukakan pintu.
“Freya, apa ada yang ter—“
“Jadi benar itu kamu!”
Pramudya yang mulanya terkejut ketika melihat siapa yang berdiri di depan pintu akhirnya justru melemparkan seringai mengejek ketika tamu tak diundang itu memandangnya dengan tatapan yang berapi-api.
“Ini aku, lalu kenapa?” balasnya sambil bersedekap dan bersandar dengan santai di tepi pintu.
Yoga melotot kesal. Jadi benar bajingan ini berada di apartemen Freya selama ini. Tadinya ia tidak percaya ketika Tommy Antasena memberitahukan hal itu kepadanya. Tapi sekarang ia melihat dengan matanya sendiri, Pramudya berdiri dengan pongah di depannya, seolah-olah sedang menertawai dirinya.
Yoga mengamati Pramudya sekali lagi dari atas sampai bawah. Pria itu hanya memakai pakaian rumahan yang sederhana, sebuah kaos biasa dan celana pendek selutut, bertingkah seakan-akan dia adalah tuan rumah.
Ia mengepalkan tangannya dan menggeram marah, “Apa yang kamu lakukan di sini?”
Pramudya sebenarnya malas meladeni bocah tengik di hadapannya itu. Tapi pagi itu mood-nya sedang bagus, jadi ia ingin bermain-main sedikit.
“Menurutmu apa yang dilakukan suami istri di tempat tinggal mereka?” balasnya sambil menggedikkan bahu dengan acuh tak acuh.
Pertanyaan retoris sekaligus ambigu itu membuat Yoga naik darah.
“Mantan suami,” ralatnya sambil menggertakkan gigi. Kepalan tangannya mengetat, membuat buku-buku jarinya memutih. Pantas saja Freya menjauhinya belakangan ini. Rupanya karena ada bajingan ini di apartemennya.
“Mantan atau bukan, apa bedanya? Kenapa? Apakah istriku tidak mengatakan kepadamu bahwa aku menginap di sini?” tanya Pramudya.
Ia memberikan tatapan kasihan kepada Yoga dan mengimbuhkan, “Kasihan sekali. Seharusnya kamu tahu apa posisimu di hatinya, Bocah.”
Yoga hampir meledak karena amarah.
Bocah?
Ia baru saja dipanggil bocah oleh bajingan ini?
“Kamu sialan!” Yoga memaki dan mengayunkan kepalan tangannya dengan kekuatan penuh.
Pramudya mendengkus, berkelit ke kiri dan mengayunkan kakinya ke depan.
Yoga tersandung dan hampir terjungkal menabrak tembok.
Seringai di wajah Pramudya semakin lebar. Ia menaikkan alis dan mengejek, “Dengan kemampuan seperti itu, kamu ingin merebut istriku? Sampai kapan pun kamu tidak akan bisa memilikinya.”
__ADS_1
Wajah Yoga memerah karena malu, tapi ia tidak mau diam begitu saja. “Kamu terlalu percaya diri! Lihat saja, aku pasti akan mendapatkannya kembali!”
“Kamu yang tidak tahu diri. Ingat ini baik-baik. Sampai kapan pun, dia hanya akan menjadi Nyonya Antasena.”
“Heh. Sungguh sangat percaya diri. Lihat saja ketika dia tahu jika kamu sedang membohonginya. Cepat atau lambat kamu akan ditendang ke luar.”
“Aku bukan satu-satunya orang yang berbohong di sini.” Pramudya membalas dengan santai. “Lihat apa yang akan dia lakukan ketika mengetahui kamu bersekongkol dengan orang-orang itu dan melakukan trik-trik kotor agar dapat mendekatinya.”
Wajah Yoga memucat. Ia tidak bisa membalas ucapan itu.
“Tenang saja, Bocah. Aku sangat bermurah hati, tidak akan membocorkan rahasia kecil ini kepada istriku.” Pramudya mengangkat tangan dan melambaikannya di udara.
“Bye. Semoga beruntung.” Ia lalu menutup pintu di depan hidung Yoga yang masih mematung.
**
Di Butik Fn’L, Lisa menatap layar monitor di hadapannya dengan kening berkerut. Pemasukan minggu ini menurun drastis. Biasanya ada lebih dari puluhan pesanan hanya dalam waktu satu hari sehingga membuat Freya kewalahan. Notifikasi di video yang dipostingnya di akun sosial media juga selalu dibanjiri komentar netizen.
Akan tetapi, sejak minggu lalu secara bertahap pesanan menjadi berkurang. Hanya ada lima pembelian barang di toko offline, sementara di akun TikTok dan Instagram tidak ada pesanan sama sekali.
Aneh, tidak biasanya seperti ini.
Ia menoleh kepada Freya yang sedang membuat sketsa di meja dan bertanya, “Apakah kamu sadar toko lebih sepi akhir-akhir ini?”
Freya mengangguk. “Namanya usaha, tidak selalu ramai. Itu wajar.”
Tadinya ia pikir itu hal yang lumrah. Pasti ada orang yang iri dengan perkembangan Butik Fn’L yang cukup pesat. Satu dua komentar negatif tidak masalah. Tapi setelah dipikir-pikir, sepertinya ini semua saling berkaitan.
Ia duduk di samping Freya dan memeriksa ulang video-video lainnya. Ternyata ada lebih banyak komentar baru yang menjelek-jelekkan kualitas dan bahan pakaian yang di beli di butik. Orang-orang itu menggunakan akun anonim, tapi membuat video dengan pakaian yang menggunakan label butik dan menautkannya dengan video yang dipostingnya.
Belum selesai memeriksa konten-konten komplain yang di-stich dengan video dari akun butik, tiba-tiba notifikasi masuk tanpa henti.
Lisa panik. Ia buru-buru membuka kotak pesan dan mendapati ada puluhan notifikasi yang memberitahukan bahwa pembeli ingin melakukan retur karena tidak puas dengan pakaian yang mereka beli.
“Ini, coba lihat.” Lisa menyodorkan ponselnya kepada Freya. “Menurutmu siapa yang melakukan ini?”
Freya yang tadinya tidak menganggap serius ucapan Lisa akhirnya memusatkan perhatiannya.
Siapa yang melakukan ini?
Ia tiba-tiba teringat sosok yang melintas di samping podium ketika Tommy melakukan konferensi pers. Apakah Yoga benar-benar terlibat dalam semua konspirasi ini? Tapi untuk apa?
“Freya.”
Lisa dan Freya menoleh ke pintu bersamaan. Sedetik kemudian, Lisa mengernyit kesal. Kenapa manusia pengganggu ini selalu muncul di mana-mana?
Ia tahu pasti Freya akan memintanya pergi, jadi ia berjalan keluar tanpa diminta.
__ADS_1
Berbanding terbalik dengan Lisa yang menunjukkan rasa tidak sukanya secara terang-terangan, air muka Freya justru tak terbaca.
“Freya, aku ingin bicara.” Yoga berjalan masuk dengan langkah panjang-panjang, mengabaikan lirikan sinis yang diberikan Lisa kepadanya ketika mereka berpapasan.
“Bicara apa?” tanya Freya dengan tenang.
Yoga menoleh ke arah Lisa yang sudah keluar. Syukurlah gadis itu tidak berulah. Masalah kali ini cukup rumit.
“Pramudya tinggal bersamamu? Sudah berapa lama? Kenapa tidak bilang kepadaku?” Yoga mencecar gadis pujaannya dengan tiga pertanyaan beruntun.
Freya bersandar ke sofa dan menatap Yoga yang berdiri menjulang di hadapannya.
“Kamu tahu aku tidak ada di apartemen, untuk apa pergi ke sana?” Ia balik bertanya, tidak mengalihkan pandangannya sedikit pun dari wajah Yoga.
“A ... aku ... aku tadi ....” Nyali Yoga menciut. Ia tahu tidak boleh berbohong untuk menutupi kebohongannya yang sudah cukup banyak.
Pada akhirnya ia hanya bisa mendesah pasrah sebelum menjawab, “Um, seseorang memberitahukan kepadaku bahwa Pramudya tinggal bersamamu, jadi aku pergi untuk melihatnya.”
“Tommy Antasena yang memberitahukannya kepadamu, bukan?”
Yoga terlihat terkejut. Bagaimana Freya bisa tahu?
Di atas sofa, Freya mengangguk-anggukan kepalanya. Sekarang separuh tebakannya sudah terbukti benar. “Kamu bekerja sama dengan pria itu untuk menjatuhkan Pramudya.”
Ucapan itu lebih seperti sebuah pernyataan daripada pertanyaan. Yoga tidak bisa menyangkalnya. Selain itu, ia tahu Freya akan semakin marah dan kecewa jika ia berusaha membantah atau membela diri.
“Freya, aku—“
“Aku kecewa. Kamu tahu?”
“Freya, aku bisa menjelaskannya ....“ Yoga maju dan hendak meraih tangan Freya, tapi tangannya ditepis dengan keras.
“Aku kira kita bisa kembali berteman. Aku sungguh mengira kita bisa memulai semuanya dari awal dengan menjalin hubungan yang baik. Tapi ternyata aku keliru, Yoga. Waktu ternyata benar-benar bisa mengubah seseorang. Yoga yang aku kenal tidak seperti ini. Aku sangat kecewa. Bukan karena Pramudya adalah mantan suamiku, tapi karena kamu menggunakan trik kotor seperti ini untuk mendekatiku. Kita tidak usah bertemu lagi.”
“Freya—“
“Pergi.”
“Aku minta maaf, Freya. Tolong—“
“Pergi dari sini. Aku tidak mau melihatmu.”
“Freya, Pramudya tidak sepolos yang kamu kira. Dia juga sudah membohongimu! Kalau tidak percaya, aku bisa—“
“Aku bilang pergi dari sini! Dia berbohong atau tidak, itu tidak ada hubungannya denganmu!” Tangan dan suara Freya gemetar. Jelas terlihat seberapa besar ia menahan amarah dan rasa kecewanya.
Yoga terdiam. Ia menatap Freya dengan emosi yang kompleks memenuhi rongga dadanya. Namun, ia tahu dengan jelas bahwa dirinya sudah kalah. Ia sudah kalah telak dibandingkan Pramudya Antasena.
__ADS_1