Istri Kesayangan Tuan Pram

Istri Kesayangan Tuan Pram
Tidak Mengenali Istri


__ADS_3

Antasena Grup, kantor CEO.


Sekretaris Kikan masuk dengan membawa setumpuk dokumen yang memerlukan tanda tangan sang CEO. Ia melirik sekilas ke tempat yang tadinya berisi meja kerja Freya di dekat meja Pak Pram. Sayang sekali gadis itu tidak datang bekerja lagi di kantor, padahal hasil pekerjaannya cukup bagus. Sejujurnya dia memiliki potensi yang bagus jika diarahkan dan dikembangkan.


Kikan menghela napas pelan dan menghampiri meja kerja atasannya.


“Permisi, Tuan.” Kikan menyapa dengan sopan sebelum meletakkan tumpukan dokumen di atas meja kerja atasannya.


Pramudya hanya mengangguk sekilas. Fokusnya ada pada layar komputer. Ia sedang membaca berita bisnis yang baru saja dirilis setengah jam yang lalu. Perusahaan Wijaya Kusuma bekerja sama dalam tender pembangunan jalan tol dengan Permata Buana, sebuah perusahaan jasa konstruksi yang namanya memang sedang naik daun.


Permata Buana telah menarik perhatian Pramudya ketika berhasil mengalahkan salah satu cabang Antasena Grup yang bergerak di bidang yang sama. Perusahaan itu memenangkan tender dan bekerja sama dengan Pemkab Bandung.


“Hari ini Anda ada jadwal rapat dengan perwakilan dari PT.Sejahtera Bersama pukul dua,” lapor Kikan meski sang CEO tidak menoleh ke arahnya sama sekali.


Pramudya melirik jam tangannya. Masih ada waktu setengah jam lagi.


“Lalu?” tanyanya.


“Ada jamuan makan malam bersama calon mitra dari Hongkong, Pak Lie dan istrinya. Jamuan diadakan pukul tujuh di Pearl Chinese Restaurant, Hotel JW Marriot. Apakah Tuan ingin mengajak Nyonya?”


Pramudya akhirnya mendongak. Ia lupa apa tujuan jamuan makan malam kali ini.


Kikan yang telah paham gestur atasannya segera menjelaskan, “Pak Lie sangat sulit ditebak. Sampai saat ini belum ada yang bisa membujuknya untuk bekerja sama. Kesepakatan kerja sama kali ini bisa saja tergantung dari hasil makan malam nanti, Tuan. Jika berhasil, pembagian keuntungannya adalah sepuluh persen untuk Antasena Grup dari setiap produk yang dipasarkan.”


Pramudya mengernyit. Ini bukan sekali dua kali ia menyelesaikan kesepakatan kerja di meja makan. Tapi, haruskah ia membawa istrinya?


Kikan tersenyum. Seolah-olah bisa membaca isi kepala sang CEO, ia kembali menjelaskan, “Pak Lie sangat mencintai istrinya. Jika Tuan dan Nyonya bisa hadir bersama, itu pasti akan menambah nilai positif untuk perusahaan."


Pramudya melirik sekretarisnya tanpa mengucapkan apa-apa, tapi Kikan tahu itu adalah sebuah bentuk pujian.


“Kalau Tuan bersedia, saya akan mengabari Ruth untuk menyiapkan semuanya. Masih ada waktu."


“Pergilah.”

__ADS_1


“Baik, Tuan.” Kikan menganggap itu sebagai persetujuan. Ia membungkuk sekilas sebelum berbalik dan keluar dari ruangan itu.


Pramudya menatap ponselnya yang tergeletak di atas meja. Haruskah ia mengirim pesan kepada istrinya? Memberitahukan kepadanya bahwa ia akan mengajaknya makan malam dengan klien.


Pramudya memegang ponselnya, dengan ragu-ragu mengetik nama Freya di kolom pencarian pada aplikasi WhatsApp.


Sebuah bulatan foto profil muncul; seekor anak kucing dengan bulu putih seperti kapas yang sedang berbaring di atas sofa, terlihat sangat santai dan malas.


Pramudya membaca nama yang tertera di samping foto profil itu.


Freya.


Itu memang benar foto profil milik istrinya.


Apakah gadis itu menyukai kucing?


Pramudya termenung. Ia hampir tidak mengenali istrinya sama sekali.


Apa yang gadis itu sukai. Apa yang dia benci. Ia tidak tahu ....


Tiba-tiba ia merasa menjadi seperti seorang pria yang ingin mengajak kencan gadis yang disukainya.


Sial, padahal ini hanya ajakan makan malam bisnis yang biasa, tapi kenapa mendadak ia gugup, tidak tahu bagaimana harus memulai percakapan.


Selama ini selain Kikan, Bayu lah yang paling sering berinteraksi dengan istrinya. Pramudya tidak pernah menelepon atau mengirim pesan.


Ia merasa canggung. Bagaimana respons gadis itu ketika tiba-tiba mendapat pesan darinya? Terkejut? Atau kesal?


Tapi, dia tidak terlihat kesal ketika mendapat pesan bertubi-tubi dari mantan pacarnya yang tidak tahu malu itu. Apa dia akan kesal kalau aku tiba-tiba mengiriminya pesan dan menyuruhnya bersiap untuk jamuan makan malam?


Bagaimana kalau dia sudah memiliki janji kencan dengan pria lain?


Hati Pramudya mendadak terasa masam.

__ADS_1


Menjengkelkan sekali.


Kenapa mau mengirim pesan saja perasaannya menjadi serumit ini?


“Hei, apa yang sedang kamu lihat?”


Suara teguran dari sisi tubuhnya membuat tangan Pramudya tergelincir. Ia hampir menjatuhkan ponselnya.


“Kamu!” Pramudya mendesis dan memelototi Bayu yang sedang menertawainya.


“Bro, aku sudah mengetuk pintu dan memanggil namamu ribuan kali, tapi tidak ada jawaban. Aku pikir kamu pingsan dan butuh bantuan ... siapa yang tahu kalau kamu sedang memelototi foto profil istrimu,” balas Bayu setelah tawanya mereda. Tampang Pramudya benar-benar konyol, ia tidak bisa menahan diri untuk tidak tertawa.


Pramudya mengangkat kaki dan menendang tulang kering Bayu dengan keras, membuat Bayu berhenti tertawa dan mengaduh, terpincang-pincang dan melompat dengan satu kaki.


Pramudya mengangkat alisnya dan memberi tatapan sinis.


Rasakan!


“Kamu ... ah ... sialan, sakit!” Bayu merintih dan mengusap tulang keringnya yang ngilu. Ia membuat catatan dalam hati, lain kali harus menjaga jarak aman jika ingin menggoda si balok es yang pemarah ini.


Pramudya mencibir. “Pergi mati di tempat lain.”


“Kamu berandalan, mana ada orang yang selalu menyumpahi sahabatnya untuk mati sepertimu?” Bayu mendelik kesal.


“Siapa sahabatku? Aku tidak punya sahabat yang seperti dirimu. Terlalu memalukan. Aku tidak sanggup menanggung penghinaan itu.”


“Kamu!” Bayu kehabisan kata-kata. Ia hanya bisa melotot dengan sadis, tapi itu tentu saja tidak berpengaruh apa-apa terhadap Pramudya.


“Ya, sudah. Kalau begitu aku pergi saja. Aku lihat kamu tidak membutuhkan aku lagi. Kamu cari tahu sendiri tentang kerja sama Wijaya Kusuma dan Permata Buana. Oh, ada juga campur tangan Perusahaan Pratama dalam kesepakatan kerja sama itu, tapi aku rasa kamu tidak—“


“Aku salah. Kamu adalah sahabatku yang paling baik. Cepat duduk. Apa masih sakit? Aku akan meminta Kikan mengantar obat.”


Bayu berhenti bicara dan melongo melihat ke arah Pramudya. Sejak kapan manusia salju itu banyak bicara? Selain itu, kalimat rayuan seperti ini ... siapa yang mengajarinya? Pramudya tidak pernah seperti ini sebelumnya. Meski suaranya masih terdengar kaku dan dingin, tapi ucapan penuh perhatian ini ... membuatnya sedikit merinding ....

__ADS_1


Di seberang meja, tangan Pramudya membetulkan posisi dasi dengan sedikit canggung. Pantas saja gadis konyol itu selalu berkata-kata manis ketika ia hendak marah. Rupanya itu sangat berguna. Lihatlah tampang konyol Bayu yang seperti sedang kerasukan itu. Mungkin ia harus sering-sering menggunakan jurus ini untuk membungkam mulut cerewetnya.


***


__ADS_2