
“Pramudya! Hu-hu-hu ... aku sudah tahu aku salah, bisakah kamu memaafkanku? Kita mulai dari awal, ya? Aku berjanji akan menjadi istri yang baik.” Carissa muncul dari ujung anak tangga seraya memohon dengan sangat kasihan. Riasannya luntur, membuat garis air mata terlihat jelas di pipinya.
Bayu menyingkir, memberi jalan untuk pemeran tambahan datang berakting.
Bagus.
Tidak sia-sia ia datang ke sini pagi-pagi sekali. Rasanya ia ingin duduk di kursi sambil makan kuaci dan menonton pertunjukan bagus.
Freya diam-diam menarik tangannya dari genggaman Pramudya. Ia merasa tidak punya hak untuk ikut campur dalam masalah cinta lama bersemi kembali ini.
Ia bahkan sudah memutuskan dalam hati, jika Pak Pram memutuskan untuk berubah pikiran dan mengganti pengantinnya dengan mantan kekasihnya yang seperti peri ini, maka ia akan menyerah dengan sukarela, tidak perlu ada keributan. Semua bisa dibicarakan baik-baik. Siapa tahu pria itu tetap bersedia membayari uang kuliahnya. Itu saja sudah lebih dari cukup.
“Pram ....” Carissa bersujud di kaki Pramudya dan menangis semakin kencang. Ia benar-benar sudah menyadari kesalahannya.
Ketika mendengar berita bahwa Pramudya akan mengadakan resepsi pernikahan, dunianya langsung jungkir balik. Ia pikir Pramudya tidak akan keberatan menunggunya sampai kapan pun. Pria ini selalu memanjakannya ... dulu ....
Pramudya bangkit berdiri, kembali menarik tangan Freya dan menggenggamnya. “Menyingkirlah. Kamu akan membuat istriku salah paham.”
Dengan ingus dan air mata di wajahnya, Carissa menoleh ke arah Freya dan memohon, “Tolong kembalikan Pramudya kepadaku. Aku akan membayar berapa pun yang kamu inginkan. Aku tahu kalian baru bertemu, perasaan kalian belum terlalu dalam. Tapi aku ... aku sudah mencintai Pram selama bertahun-tahun ... tolong lepaskan dia, ya?”
Genggaman tangan Pramudya mengerat. Ia berdiri diam, menanti apa yang akan dikatakan oleh istri kecilnya. Apakah gadis itu akan menyerah dengan mudah?
Bayu mengunyah kuaci yang didapatkannya dari kepala pelayan, menonton dari sudut ruangan dengan sangat seru. Ini bahkan lebih menegangkan daripada film box office mana pun!
Melihat Freya yang hanya diam dan menatapnya dengan ekspresi yang rumit, Carissa membungkuk hingga keningnya menyentuh lantai dan terus memohon, “Tolong, aku mohon ... kembalikan Pram kepadaku. Aku berjanji akan merawatnya dengan sangat baik. Bisakah?”
Freya menarik kakinya menjauh dari kepala Carissa. Ia menoleh ke arah Pramudya dan berkata, “Bisa atau tidak, itu tergantung suamiku. Jika dia mau, aku bisa—“
“Tidak akan!” Pramudya menyela dengan cepat.
Entah kenapa ia merasakan kesal yang sangat. Gadis sialan ini, bukan hanya menolaknya di depan Bayu dan Valentina, tapi juga ingin menyerahkan dirinya kepada wanita lain?
Kembalikan?
Memangnya ia adalah sebuah barang yang bisa dioper ke sana-sini sesuka hati? Benar-benar minta dihajar!
__ADS_1
Sebelum Freya menyadari kemarahan yang meletup-letup di mata Pramudya, ia merasakan tarikan yang kuat pada pergelangan tangannya. Sedetik kemudian, wajah yang tampan itu menutupi seluruh pandangannya, lalu rasa lembap dan hangat menekan permukaan bibirnya.
Freya terperangah karena sangat terkejut.
Pramudya memanfaatkan kesempatan itu untuk mengisap bibirnya dengan sangat kuat. Benar-benar kuat sampai Freya mendesah sekaligus mengaduh kesakitan.
Bajingan ini!
Freya meronta dengan panik, tapi di depan semua orang, Pramudya menekannya lebih kuat dan menjarah sampai paru-parunya hampir meledak.
Ketika Pramudya selesai, kaki Freya terlalu lemas untuk berdiri. Ia bersandar di dada Pramudya dengan napas terengah-engah. Ia terlalu malu untuk mengangkat wajahnya.
Mangkuk kuaci Bayu terguling. Mulutnya yang tadi sibuk mengunyah kini terbuka lebar. Ketika kembali tersadar, ia memukul pahanya sendiri dengan keras.
Sial!
Seharusnya ia merekam adegan tadi dan memasangnya di story IG!
Bayangkan kehebohan yang akan terjadi!
Carissa merangkak dari atas lantai, berusaha berdiri dengan tubuh sempoyongan, menunjuk ke arah Pramudya dan Freya dengan tangan gemetaran. Matanya merah seperti ceri, terlihat sangat terkejut sekaligus tidak berdaya.
Di antara semua orang, ia yang paling tahu dengan jelas, Pramudya sangat menyukai kebersihan. Pria itu tidak pernah asal berdekatan dengan sembarang wanita, apalagi menciumnya. Dan lagi, Pramudya tidak pernah menciumnya seperti itu!
Tidak pernah!
Tubuh Carissa gemetaran. Ia terlihat seperti akan pingsan kapan saja. Ia tumbuh besar bersama Pramudya. Mereka terikat dalam perjanjian pernikahan yang dibuat oleh orang tua mereka.
Sejak kecil, ia selalu menempel ke mana pun Pramudya pergi. Mungkin karena itulah ia merasa sedikit jenuh dan ingin mencari suasana lain untuk sementara waktu. Ia mencoba berkarir di dunia modeling, dan hasilnya melebihi perkiraannya.
Kontrak dan tawaran kerja sama berdatangan dari mana-mana. Ia harus keliling dunia untuk mengikuti peragaan atau menjadi brand ambassador dari produk kecantikan tertentu. Ia terlena dengan kehidupan baru yang menurutnya lebih menantang dan mengasyikkan.
Oleh sebab itulah, ketika Pramudya mengajaknya untuk menikah, ia dengan berat hati meminta pria itu untuk menunggu.
Ia sangat yakin Pramudya akan menunggu.
__ADS_1
Akan tetapi, ternyata waktu berjalan dengan sangat cepat. Empat tahun terlewati begitu saja, dan ia telah kehilangan satu-satunya kesempatan yang ia miliki.
Bagaimana ini ... bagaimana?
Ia harus bagaimana?
Pak Tua akhirnya turun tangan. Ia menghampiri Carissa dan menepuk-nepuk ringan pundaknya sambil berkata, “Sudahlah ... sudah seperti ini, kamu lepaskan saja Pram, ya. Kakek yakin kamu bisa mendapatkan pria yang lebih baik darinya.”
Carissa menggeleng dengan putus asa. Ia tidak menginginkan pria lain. Hanya Pramudya ... hanya Pramudya Antasena seorang!
Pramudya tampaknya sudah tidak ingin berlama-lama di tempat itu. Ia menarik Freya pergi dari sana dan kembali ke kamarnya.
Freya tidak mengatakan apa-apa dan terus menunduk sampai Pramudya menutup pintu kamar. Ia langsung mundur dua langkah ketika pria itu mendekat.
Pramudya mengulurkan tangan, tapi Freya menghindar dengan cepat. Tangan Pram tergantung di udara. Ia menatap istrinya dan tidak tahu harus mengatakan apa. Sejujurnya, ia sadar perbuatannya tadi terlalu impulsif.
“Maaf, aku tidak bermaksud seperti tadi,” ucapnya pelan.
Freya masih tidak mau menatap mata Pramudya.
Ciuman tidak ada dalam klausul perjanjian, oke? Dasar bajingan!
Bukannya tidak berani, ia hanya takut akan kehilangan kendali dan meninju wajah tampan suaminya yang menjengkelkan itu. Bagaimana kalau ia lepas kendali dan memukulinya sampai mati? Ia tidak mau menjadi janda dan masuk penjara.
Karena Freya hanya terus diam dan tidak mau menatapnya, Pramudya mengalah.
“Tetap di sini, jangan ke mana-mana. Panggil saja pelayan kalau butuh apa-apa,” ucapnya sebelum keluar dari kamar itu.
Ia tidak memiliki alasan apa pun untuk membela diri. Tadi itu murni kesalahannya. Ia hanya ingin memberi istrinya sedikit pelajaran, tapi justru dirinya yang tidak bisa menahan diri dan bertindak terlalu jauh. Tidak ada alasan apa pun untuk membenarkan hal itu.
***
uhuk!
__ADS_1
Jangan lupa like, uhuk!