
“Lihatlah, cucu menantuku ini sangat cantik! Benar-benar sangat cantik! Pramudya, kamu sangat beruntung. Kelak perlakukan istrimu dengan baik!” seru Pak Tua bersemangat.
Ia terlihat jauh lebih segar dibandingkan penampilannya kemarin. Hari ini, ia pun mengenakan setelan jas dan dasi, juga sepatu pantofel yang membuatnya terlihat gagah sekaligus berwibawa.
“Kakek juga sangat tampan, bahkan lebih tampan dari Pram.” Freya balas memuji dengan rendah hati.
Seketika air muka Pramudya berubah suram, sementara Bayu di sampingnya menutup mulut dengan kuat agar tidak sampai terbahak.
Seorang Pramudya Antasena bahkan tidak lebih tampan dibandingkan Pak Tua di hadapan istrinya sendiri. Sungguh sangat menyedihkan.
Berbanding terbalik dengan mendung di wajah Pramudya, senyum di mulut Pak Tua semakin lebar sampai-sampai asistennya takut ujung bibir majikannya itu akan tersangkut di daun telinga.
“Kamu sangat pintar merayu. Sudah, sudah ... ayo cepat, jangan sampai terlambat.” Pak Tua menoleh ke arah Pramudya dan memberi perintah, “Tunggu apa lagi? Cepat bawa pengantinmu.”
Pramudya melangkah maju dengan patuh, lalu menyodorkan lengannya ke arah Freya. Tubuhnya yang tegak dan ramping terlihat sangat serasi dengan Freya. Dengan jas edisi khusus berwarna hitam, aura Pramudya sangat mendominasi. Setangkai bunga di saku jasnya sepasang dengan buket bunga yang dibawa oleh Freya.
Dengan diiringi tatapan kagum dari para pelayan, sepasang suami istri itu melangkah keluar menuju Mercedes Benz yang sudah dihiasi pita dan bunga.
Bayu segera duduk di kursi pengemudi. Hari itu ia yang bertugas menjadi supir untuk pengantin baru. Bukan Pramudya yang memerintahkannya untuk melakukan hal itu, ia sendiri yang menawarkan diri dengan senang hati.
Biar bagaimana pun, ini adalah pernikahan sahabatnya, tentu saja ia harus mengambil bagian di dalamnya.
Pramudya membungkuk, membukakan pintu dan membantu Freya masuk ke mobil, lalu berputar dan masuk dari sisi yang lain.
Dengan mobil sedan yang ukurannya lebih kecil, jarak keduanya hanya terpaut tidak terlalu jauh, tidak seperti ketika mereka berada di dalam Lexus edisi khusus milik Pramudya.
Freya sangat tegang. Ia tidak berani menoleh ke arah Pramudya. Punggungnya tegak dan ia bernapas dengan sangat hati-hati.
Meskipun ini hanya sandiwara, tapi rasanya seperti pernikahan sungguhan. Ia sangat gugup. Bagaimana kalau ia melakukan kesalahan ketika melakukan janji pernikahan?
Yah, walaupun ia sudah menghafalkan catatan yang diberikan oleh Pak Bayu, tetap saja ia merasa cemas.
Di sampingnya, Pramudya duduk bersandar dengan tenang, tidak terpengaruh dengan iring-iringan mobil pengantin yang mengikuti dari belakang. Seolah-olah yang ia lakukan hanyalah perjalanan biasa untuk menemui rekan bisnis.
Freya berusaha mengabaikan pria itu dan menenangkan diri. Ia menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya perlahan, menutup mata dan mengulanginya lagi ...
__ADS_1
Sekali lagi ....
“Jangan terlalu gugup, anggap saja sedang tampil di acara pentas seni ketika SMP.”
Tubuh Freya menegang ketika sebuah telapak tangan yang besar dan hangat hampir menutupi kedua tangannya. Ia menoleh perlahan, lalu bersitatap dengan sepasang mata obsidian yang cemerlang, sepasang mata yang sangat menawan ... seolah mampu mengikat jiwa siapa pun yang melihatnya.
Lalu padangannya turun pada sepasang bibir yang penuh, melengkung seperti buah anggur yang memabukkan.
Sial.
Freya sangat ingin mengangkat tangan dan menampar mempelai laki-laki yang telah mencuri ciuman pertamanya dengan kurang ajar di depan semua orang, lalu hanya meminta maaf dan melarikan diri begitu saja.
Ia mendorong telapak tangan Pramudya sambil berkata, “Anda tenang saja, saya tidak akan membuat kesalahan dan mempermalukan Anda.”
Pramudya mengerutkan kening dengan tidak senang. Jelas bukan itu maksudnya. Ia hanya ingin menghibur gadis ini dan membuatnya merasa sedikit nyaman. Kenapa responnya seperti ini?
“Kamu masih marah karena masalah ciuman kemarin?” tanyanya.
“Menurut Anda bagaimana?”
“Aku sudah minta maaf.”
“Kenapa Anda tidak menikahi Nona Carissa saja? Bukankah dia sangat mencintai Anda? Dia juga sangat cantik dan terlihat kaya. Anda pasti tidak akan rugi jika menikahinya. Saya ingin mengatakannya sejak kemarin, tapi Anda tidak muncul.”
Pramudya mengeratkan rahangnya hingga geliginya yang beradu terdengar jelas. Gadis sialan ini ingin bertengkar dengannya di jalan menuju upacara pernikahan mereka? Benar-benar keterlaluan!
Pramudya melepaskan tangan Freya dengan kesal, lalu memegang ujung dagu gadis itu hingga menghadap ke arahnya dan berkata, “Kamu sudah menandatangani perjanjian. Bisa saja kalau mau mundur, tapi kamu harus membayar ganti rugi senilai lima puluh persen dari total yang akan kamu dapatkan setelah menikah denganku.”
Freya memperhatikan wajah Pramudya yang hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajahnya. Garis tulang rahang yang kokoh itu mengeras. Cekalan tangan pria itu terasa kuat dan mendominasi.
Sial. Kenapa dia marah? Bajingan ini, jangankan lima puluh persen; 0,1% pun ia tidak sanggup!
Apakah suaminya yang kurang ajar ini tidak tahu kalau ia sangat miskin?!
Embusan aroma mint menyapu wajah Freya saat Pramudya membuka mulutnya dan berkata lagi, "Aku tidak mengizinkanmu pergi."
__ADS_1
"A ... apa?"
"Kamu tidak boleh pergi, mengerti?" sela Pramudya, "Apanya yang menikahi Nona Carissa? Duduk dengan tenang dan lanjutkan pernikahan ini."
"Ta ... tapi ...." Freya terlalu terkejut dengan respon Pramudya sampai tidak bisa berbicara dengan benar.
"Tidak ada tapi. Sudah terlalu terlambat untuk mengganti pengantin wanitanya. Apa yang harus kukatakan kepada Kakek? Bagaimana harus menjelaskan kepada kolegaku? Apa kamu pernah memikirkannya?” Nada suara Pramudya meninggi. Ia benar-benar dibuat kesal setengah mati oleh pengantin sialannya ini.
"Apa kau mengerti ucapanku?" tanya Pramudya lagi ketika Freya tak kunjung memberikan respon.
“Mengerti. Maaf.” Air muka Freya berubah tenang. Sangat tenang sampai-sampai terlihat sedikit aneh.
Pramudya menghela napas. Ia memejamkan mata dan memijit alisnya. Tidak pernah ada orang yang membuatnya sakit kepala seperti ini.
Bersikap lunak salah, bersikap keras pun tidak bisa.
"Mengenai Carissa, jangan kamu khawatir. Dia hanya masa laluku. Dia sudah menolak untuk menikah denganku. Ke depannya dia tidak akan datang mengganggu lagi," jelas Pramudya.
"Tapi, bagaimana jika nanti dia datang dan mengacau?"
"Tidak akan," janji Pramudya.
Ia tahu gadis ini bersikap konyol karena kemunculan Yoga Pratama dan Carissa yang tiba-tiba. Tapi untuk sekarang, mereka benar-benar sudah tidak bisa mundur lagi. Ia takut kesehatan Kakek akan langsung memburuk jika mengetahui kebenarannya. Oleh sebab itulah ia telah menggunakan semua sumber daya untuk memblokir Yoga dan Carissa dari acara pernikahan ini.
Freya menggigit bibir mendengar perkataan Pramudya. Haruskah ia mempercayai ucapannya?
Melihat Freya yang hanya menatapnya dengan ekspresi ragu-ragu, Pramudya kesal lagi. Ia menggeram dengan suara rendah, “Percaya atau tidak, terserah. Itu urusanmu.”
Freya memutar bola matanya dengan kesal, lalu menoleh ke luar jendela. Ia terlalu malas untuk menghadapi manusia ini.
Di kursi depan, Bayu juga ikut memutar bola matanya dengan kesal.
Bro, bukan begitu caranya membujuk wanita. Benar-benar payah.
Tampaknya ia sendiri yang harus turun tangan untuk mengajari sahabatnya yang tidak berguna itu.
__ADS_1
***