
Di ruang santai, Lisa berjalan mondar-mandir di depan Bayu seperti setrika.
Sudah lebih dari setengah jam, tapi Freya dan Pak Bos belum keluar dari kamar.
Apa yang sedang mereka lakukan? Tidak mungkin mereka sedang membuat adonan cicit yang lucu dan menggemaskan untuk kakeknya Pak Bos, ‘kan?
Jam berapa ini?
Apa mungkin semalam kurang ....
“Duduklah. Kamu membuatku sakit kepala.” Bayu yang sedang duduk di kursi mengalihkan tatapannya dari layar ponsel dan melirik Lisa dengan kesal. Melihat tingkah gadis itu membuat perutnya jadi ikut mulas.
Lisa menatap Pak Bayu sambil menggigit bibirnya. Ia ingin bertanya kira-kira apa yang dilakukan Pak Bos kepada Freya, tapi ia tidak berani. Bagaimana pun, itu sama sekali bukan urusannya. Tapi ia sedikit mencemaskan Freya.
“Tenanglah, Pramudya tidak mungkin melakukan hal-hal di luar batas,” ucap Bayu untuk menenangkan Lisa meski ia sendiri hampir tidak mempercayai ucapan itu.
Mengingat Pramudya yang mengimpit istrinya seperti itu di tembok membuatnya melirik Lisa dan memikirkan hal-hal tertentu.
Beberapa saat kemudian, ia memalingkan wajah dan mendengkus. Pramudya telah mengotori otaknya.
Seharusnya ia tidak menunjukkan potongan adegan romantis di Netflix kepada sahabatnya itu. Tampaknya Pram sudah mempraktekkannya dengan sangat baik.
Tapi sejujurnya ia ikut merasa senang. Sepertinya hubungan Pramudya dan istrinya maju satu langkah lagi.
Bagus sekali.
Selama ia mengenal Pramudya, tidak pernah sekali pun sahabatnya itu menunjukkan ketertarikan kepada lawan jenis. Fokusnya hanya ada pada Antasena Grup, bekerja keras tidak peduli siang atau malam agar perusahaan itu semakin berkembang.
Ia sempat khawatir sahabatnya itu memiliki kelainan orientasi dalam kehidupan pribadinya. Untunglah dengan kehadiran Freya membuktikan bahwa kekhawatirannya itu berlebihan dan tidak pada tempatnya. Pramudya hanya belum menemukan wanita yang tepat saja untuk melabuhkan hatinya.
“Pak,” panggil Lisa seraya memberi kode untuk melirik ke arah pintu kamarnya.
Bayu menggerakkan lehernya dan menoleh dengan sangat pelan. Pramudya sedang berjalan keluar sambil menggenggam tangan istrinya. Tanpa sadar seulas senyum merekah di bibirnya. Ia benar-benar ikut merasa senang melihat kemajuan itu.
Tapi ... uh, tiba-tiba ekspresi wajah Bayu berubah. Senyuman itu mendadak menghilang dari wajahnya. Apakah Pram akan memarahinya karena telah menyebabkan insiden istrinya mabuk dan tidak sadarkan diri tadi malam?
“Apa yang sedang kalian berdua bicarakan?” tanya Pramudya dengan santai.
“Um, sedang membicarakan harus pergi ke bandara pukul berapa,” jawab Bayu sambil menggosok ujung hidungnya. Ia tidak pandai berbohong di depan Pramudya.
__ADS_1
Ia lalu menoleh ke arah Freya dan menyapa, “Maaf, tadi malam aku sangat ceroboh dan hampir mencelakaimu. Bagaimana kondisimu sekarang? Sudah lebih baik?”
Freya mengangguk dan bergumam pelan, “Tidak apa-apa. Saya tahu Pak Bayu pasti tidak bermaksud seperti itu. Sekarang rasanya sudah jauh lebih baik. Terima kasih.”
Ia tidak berani mendongak untuk menatap Lisa dan Pak Bayu terang-terangan. Ia yakin bibirnya yang bengkak pasti terlihat dengan sangat jelas. Pak Pram menggerogoti bibirnya seperti seekor an jing yang sedang mengunyah tulang; terlalu bersemangat!
Bayu melambaikan tangannya di udara. “Tidak perlu berterima kasih kepadaku, Pramudya yang merawatmu sepanjang malam.”
“Benarkah?” tanya Freya seraya melirik ke arah suaminya. Pria ini benar-benar merawatnya sendirian sepanjang malam?
“Ya. Ada Dokter Intan yang datang memeriksa, tapi setelah dokter itu pergi, Pramudya yang menemanimu di kamar dan menjagamu.”
Freya menoleh ke arah Lisa untuk mengkonfirmasi ucapan Pak Bayu.
Lisa mengangguk dua kali dan mengacungkan jempolnya.
Itu artinya Pak Pram benar-benar menjaga dirinya yang tidak sadarkan diri karena pengaruh alkohol.
Freya menebak Pak Pram bisa mengetahui di mana pakaiannya berada dari Lisa. Apakah tadi malam ia muntah-muntah atau bagaimana?
Ia sungguh tidak ingat.
Apa saja yang sudah dikatakannya?
Apa saja yang sudah dilakukannya?
Pantas saja Pak Pram berani menyatakan perasaannya dengan lantang. Ia cukup yakin telah membocorkan setidaknya lebih dari 50 persen isi hatinya.
Itu artinya, kemungkinan besar kenyataan bahwa ia menyukai Pak Pram juga telah diketahu oleh suaminya itu.
Freya menggigit bibir dan menunduk. Ia tidak berani mengingatnya lagi. Meski begitu, ia masih tetap harus berterima kasih dengan benar.
Tadi Pak Pram terlalu bersemangat mengungkapkan isi hatinya, ia sampai lupa untuk mengucapkan terima kasih karena sudah merawatnya dengan baik.
Freya mengumpulkan segenap keberaniannya dan menatap suaminya.
“Terima kasih. Aku pasti sudah sangat merepotkanmu,” ucapnya.
Pramudya mengangkat tangannya dan mengusap rambut Freya dengan lembut. “Bukan masalah besar. Aku tidak merasa direpotkan.”
__ADS_1
Wajah Freya memerah menerima perlakuan dan jawaban itu.
Mata Bayu hampir copot melihat tingkah manja Pramudya kepada istrinya. Sedangkan Lisa tak kalah terkejut dibandingkan sang wakil CEO. Apakah barusan Pak Bos memamerkan kemesraan di depan mereka secara terang-terangan?
Sombong sekali!
Setelah pulih dari rasa terkejutnya, Bayu tergagap, menunjuk Freya dan Pramudya bergantian. “Ka ... kalian ... kalian berdua ....”
Pramudya melingkarkan tangannya di pinggang Freya, menariknya hingga menempel dengan tubuhnya.
“Dia pacarku,” ucapnya seraya sedikit mengangkat dagu. Nada sombong terdengar jelas dalam suaranya dan tidak ditutup-tutupi.
Status “pacar” ini, rasanya jauh lebih membanggakan dari pada pencapaian apa pun yang pernah diraihnya. Ia merasa sangat bahagia dan puas.
Bayu terdiam dan menatap Pramudya seperti baru saja melihat hantu. Ia tidak tahu harus merespons bagaimana. Kemajuan yang dicapai oleh sahabatnya sangat pesat. Sepertinya ia telah ketinggalan banyak hal.
Hanya dalam semalam, sahabatnya yang tidak berpengalaman itu sudah mencapai tahap seperti ini, benar-benar patut diacungi jempol.
Selain itu, haruskah ia membuka jasa konsultasi masalah percintaan secara profesional?
Di sebelah Bayu, Lisa menarik napas panjang dan menutup mulutnya agar tidak latah. Pantas saja bibir Freya terlihat seperti baru habis dikeroyok semut; bengkak dan merah. Jadi tadi itu Pak Bos dan Freya benar-benar sedang ....
Lisa tidak berani melanjutkan pikirannya. Ia bekerja lebih lama di Antasena Grup, tentu saja tahu dengan jelas rumor yang beredar di antara para karyawan: sang CEO yang berkuasa, Pramudya Antasena, tidak bisa didekati oleh wanita mana pun.
Pria itu bagaikan bongkahan es di Kutub Selatan yang akan membekukan siapa pun yang mendekat. Dia selalu bekerja secara profesional dengan semua kolega wanitanya. Hal ini menimbulkan desas-desus miring yang mengatakan bahwa sang CEO memiliki ketertarikan terhadap sesama jenis.
Lisa sendiri hampir mempercayai rumor itu. Namun, sekarang ia tahu dengan pasti: Pak Bos hanya belum menemukan wanita yang tepat untuk dicintai.
Meski ikut merasa senang atas kemajuan hubungan Freya dan Pak Bos, Lisa sungguh tidak menyangka sang CEO yang selalu berwajah galak dan menjaga jarak dengan perempuan itu bisa begitu ganas ketika mencium istrinya.
Ia bertanya-tanya dalam hati, jika ia menjual informasi ini ke luar, kira-kira berapa bayaran yang akan didapatkannya?
Di samping Pramudya, Freya menyusutkan tubuhnya sekecil mungkin karena merasa sangat malu.
Suami sekaligus pacarnya ini terlalu ... aih, bagaimana mengatakannya?
Pria ini terlalu narsis dan sangat sombong!
Dasar tukang pamer!
__ADS_1
***