
Senja itu sedikit mendung. Awan hitam berarak di langit Kota Jakarta. Cuaca akhir-akhir ini memang susah diprediksi. Kadang mendung sepanjang hari tanpa turun hujan. Kadang tiba-tiba hujan meski panas sejak pagi.
Keadaan itu, sedikit mirip dengan suasana hati Tommy Antasena.
Sejak Pramudya menikah dan mendapatkan apa yang tertulis dalam surat wasiat ayah mereka, ia sudah kehilangan minat untuk bertarung lagi dengan adik tirinya itu. Akan tetapi, ibunya masih saja terus mendesak sepanjang waktu untuk merebut kembali apa yang seharusnya menjadi milik mereka.
Tommy berada di persimpangan dan merasa bingung untuk memilih, tapi ibunya selalu menggunakan istri Pramudya untuk mengancamnya. Kejadian beberapa waktu lalu ketika Freya diculik, ia tahu ibunya lah yang membayar orang-orang itu untuk mencelakai istri Pramudya.
Kalau bukan karena dirinya yang mencuri dengar pembicaraan ibunya dengan pemimpin kelompok penculik itu, mungkin akibatnya bisa fatal.
Tommy dengan sengaja melacak keberadaan orang-orang itu dan memberikan petunjuk dengan menggunakan nomor anonim kepada pengawal yang diutus oleh Pramudya.
Ia sendiri tidak tahu mengapa terdorong untuk melakukan hal itu, tapi yang jelas, ia merasa tidak rela jika istri Pramudya sampai terluka hanya karena perselisihan di antara mereka.
Selain itu ... sebenarnya ia sedang berencana untuk mengundurkan diri dari Antasena Grup. Ia ingin fokus membesarkan perusahaan yang dirintis olehnya dari nol. Tapi, kendalanya sekali lagi adalah ibunya ... wanita itu jelas tidak akan membiarkan ia pergi dari Antasena Grup dengan mudah.
Jadi, haruskah ia mundur dan mengembangkan bisnisnya sendiri? Atau tetap tinggal dan berseteru dengan Pramudya selamanya.
Nada dering telepon ekstension yang ada di atas meja membuyarkan lamunan Tommy. Suara sekretarisnya langsung terdengar ketika ia mendekatkan telepon itu ke telinga.
“Selamat siang, Pak. Ada yang mencari Bapak di lantai bawah.”
“Siapa? Apa sudah ada janji sebelumnya?” tanya Tommy. Seingatnya, hari itu ia tidak ada jawdal rapat atau bertemu dengan perwakilan perusahaan mana pun. Ia hanya mampir untuk memeriksa laporan bulanan.
“Belum ada janji, Pak. Tapi katanya Bapak kenal, namanya Yoga Pratama. Oh ... tunggu sebentar, Pak.”
Tommy diam dan mendengarkan sekretarisnya yang tampaknya sedang berbicara dengan orang lain yang baru datang. Suaranya terdengar tidak jelas, tapi sepertinya yang sedang berbicara dengan sekretarisnya adalah seorang wanita.
“Halo, Pak. Ini ada Nona Carissa yang juga ingin bertemu dengan Bapak,” ucap sang sekretaris. “Apakah Bapak ingin bertemu dengan mereka atau ....”
__ADS_1
Tommy mengernyit. Apa tujuan kedua orang itu datang ke kantornya? Dari mana mereka mengetahui informasi ini? Lokasi kantornya tidak diketahui oleh sembarang orang.
“Suruh keduanya masuk,” perintah Tommy. Apa yang diinginkan kedua orang itu, ia sudah bisa menebaknya. Mengenai dari mana mereka mendapatkan informasi mengenai perusahaannya ini, ia akan bertanya secara langsung.
Tak lama kemudian, terdengar suara ketukan di pintu, lalu sekterarisnya muncul bersama dua orang tamu tak diundang yang entah bagaimana bisa datang secara bersamaan.
“Silakan, Tuan dan Nona.” Sekretratis Tommy mempersilakan kedua tamu itu untuk duduk di kursi yang ada di bagian tengah ruangan.
Yoga dan Carissa mengangguk, kemudian menyapa Tommy yang sedang berjalan menghampiri mereka.
“Maafkan kedatanganku yang tiba-tiba. Aku harap aku tidak mengganggu waktu Kak Tommy,” ucap Carissa sembari mengulas senyum. Ia telah cukup lama mengenal Tommy. Sama seperti Pramudya, ia tumbuh besar bersama Tommy Antasena.
Tommy hanya mengangguk sekilas. Ia memang mengenal Carissa, tapi tidak merasa dekat dengannya.
Sementara Yoga Pratama ... ia bukannya tidak mengetahui berita menggemparkan mengenai pria itu. Ia hanya tidak memperhitungkannya. Baginya, Yoga Pratama tidak ada kaitan apa-apa dengan dirinya. Meski begitu, ia juga tidak keberatan jika pria itu ingin mengajukan kerja sama.
Tommy menjabat tangan Yoga dan berkata, “Tidak apa-apa. Jangan terlalu sungkan. Kebetulan aku sedang senggang. Duduklah.”
Carissa dan Yoga duduk bersebelahan di sofa abu-abu tua yang memanjang, sedangkan Tommy duduk di seberang kedua tamunya itu.
“Mau minum apa?” tawar sekretaris Tommy yang masih berdiri menunggu di sebelah mereka.
“Kopi, terima kasih,” jawab Yoga.
“Air mineral saja,” timpal Carissa.
“Baik, mohon tunggu sebentar.” Sekretaris itu bergegas keluar dan menutup pintu.
Di dalam ruangan, Tommy bersandar dengan santai dan mengamati kedua tamunya bergantian.
__ADS_1
“Apa yang membuat Tuan Yoga dan Nona Carissa repot-repot mendatangi tempatku yang kecil ini?” tanya Tommy membuka percakapan.
“Kak Tommy, aku datang untuk berterima kasih karena Kakak telah membantuku mencarikan tempat tinggal selama di sini. Bibi Tari yang memberikan alamat ini kepadaku. Bibi bilang, mungkin ... kita bisa bekerja sama ....” Carissa yang lebih dulu menjawab pertanyaan itu.
Tommy hanya mengulas senyum simpul. Ia menatap wajah Carissa dengan penuh arti.
“Kerja sama seperti apa?” tanyanya.
“Bibi bilang, Kakak membutuhkan bantuan untuk mendapatkan Antasena grup. Keluarga Winata pasti tidak akan segan membantu Kak Tommy ... asalkan ... bantu aku mendapatkan kembali Pramudya.” Carissa tersenyum dan menyelipkan ikal anak rambutnya ke balik telinga.
Yoga memperhatikan Carissa dari samping. Tampaknya wanita itu memiliki tujuan yang sama dengannya. Baguslah kalau begitu. Setidaknya ia memiliki dukungan untuk membantu memisahkan Pramudya dengan Freya.
Tiga tahun tinggal dan belajar di luar negri membuatnya tidak tahu berita apa pun di Indonesia. Ia juga tidak tahu siapa itu Pramudya dan Tommy Antasena sampai beberapa hari lalu anak buahnya menemukan informasi mengenai pernikahan Freya dengan Pramudya.
Ia sudah mencoba semua cara, tapi tidak ada yang berhasil. Selain karena Freya yang masih marah dan tidak ingin bicara dengannya, bajingan Pramudya itu juga tidak membiarkannya mendekat sedikit pun. Benar-benar sialan.
Tommy masih bersandar di sofa dengan santai, tampak seperti sedang mempertimbangkan tawaran Carissa.
Tak lama kemudian, ia menegakkan punggungnya dan berkata, “Itu bisa dipertimbangkan ... tergantung dari dukungan seperti apa yang ditawarkan oleh Keluarga Winata.”
Suara ketukan di pintu menyela pembicaraan itu. Tak lama kemudian, seorang office girl masuk dengan membawa nampan berisi minuman di tangannya. Ia meletakkan dua gelas kopi dan sebotol air mineral di atas meja dengan hati-hati, kemudian pamit undur diri.
“Kak Tommy tenang saja, aku akan bicara dengan ayah ....” Carissa mengerling dan menyilangkan kakinya. Rok berlipit yang ia kenakan sedikit tersingkap, mempertontonkan kakinya yang jenjang dan pahanya yang mulus.
Tommy mengangkat alisnya, melirik ke bawah dan dengan perlahan menaikkan pandangannya hingga ke wajah Carissa, lalu menoleh dan menatap Yoga Pratama. Pemuda itu terlihat tampan, cukup serasi dengan Freya.
Entah kenapa Tommy sedikit merasa kasihan kepada Pramudya. Istri yang baik dan polos, jika dibandingkan dengan wanita seperti Carissa ini ... juga saingan yang cukup memiliki kemampuan ... benar-benar sangat disayangkan.
***
__ADS_1