
Dengan niat awal berpura-pura pingsan untuk mengecoh Bayu dan Yoga, Freya akhirnya benar-benar tertidur. Mungkin karena ketegangan telah mereda sehingga urat dan syaraf di tubuhnya menjadi relaks. Matanya terpejam erat dan ia terlelap sepanjang perjalanan pulang di kursi belakang.
Ketika tiba di kediaman Tuan Pramudya, sang pengawal bimbang, apakah ia harus membangunkan Nyonya Muda atau membiarkannya tidur sebentar di dalam mobil. Ia menatap rekannya yang menyopiri mobil untuk meminta pendapat, tapi pria itu hanya mengangkat bahu dan tidak mengatakan apa-apa, jelas ia tidak ingin ikut campur dalam masalah itu.
Akhirnya pengawal bertubuh kekar itu turun dan berdiri di sisi mobil dengan linglung. Harus membangunkan Nyonya atau tidak?
Ketika sang pengawal masih galau memutuskan apa yang harus dilakukan, tiba-tiba terdengar suara yang datang dari pintu masuk utama.
“Di mana dia?”
Pengawal itu berbalik dengan cepat dan terkejut ketika mendapati Pramudya sudah berdiri di depan pintu dengan kedua tangannya berada di dalam saku celana. Penampilan Tuan Pram yang terlihat asal itu sudah cukup membuat nyali sang pengawal menciut.
“Tuan, Nyonya ada di dalam mobil,” lapornya seraya membungkuk memberi hormat.
“Tidur?”
“Ya. Itu ... sepertinya Nyonya kelelahan. Nyonya melumpuhkan kelima pria yang ada di dermaga seorang diri.” Ada sedikit rasa bangga dalam suara pengawal itu ketika melaporkan informasi yang disampaikan oleh rekannya melalui ponsel. Kata mereka, semua pria itu terluka cukup parah.
“Oh?” Pramudya mengangkat alisnya dan berjalan mendekati mobil.
Sang pengawal menyingkir dan memberi jalan sambil melaporkan lagi, “Hanya saja sayang, sang pemimpin berhasil melarikan diri lewat jalan belakang meski terluka. Keempat kaki tangannya sudah ditangani oleh ketua."
“Kalian kubayar mahal tapi hanya membereskan pekerjaan yang dilakukan oleh istriku pun tidak becus.”
Suara yang dingin dan penuh penghinaan itu membuat sang pengawal terdiam. Meskipun ia tidak terlibat di lapangan untuk menangkap para penculik itu, ia tetap merasa malu. Ucapan Tuan Pram memang benar. Sangat memalukan jika dibandingkan dengan gelar “Pasukan Elite” yang ia dan timnya bangga-banggakan.
“Di mana Bayu?”
Sang pengawal semakin diam. Haruskah ia melaporkan bahwa Tuan Bayu sedangkan berkelahi dengan saingan cinta tuannya itu?
Pramudya menyipit dan menatap pengawal itu dengan intens. “Di mana dia?”
“Tuan Bayu tadi sedang berkelahi dengan ... um, teman Nyonya Muda.”
“Teman?”
__ADS_1
Pengawal itu mengangguk meski terlihat ragu-ragu. Untuk saat ini, seharusnya status Nyonya Muda dan pria bernama Yoga itu hanya teman, kan?
Pramudya mendengkus sinis sebelum membuka pintu mobil. Pemandangan di dalam membuat keningnya berkerut. Istrinya yang biasanya selalu berulah dan membuatnya kesal sedang bersandar di kursi dan tertidur, sepertinya sangat pulas. Ia berdeham satu kali.
Tidak ada respon.
Dua kali.
Masih belum ada respon.
Pengawal di belakangnya berkeringat dingin.
Tuan, bukankah aku sudah memberitahumu bahwa Nyonya tertidur? Kenapa tidak percaya?
Pamudya benar-benar mengira gadis konyol itu hanya sedang berakting. Mana mungkin begitu lelah hanya karena menghajar beberapa bajingan? Seharusnya dia malah bersenang-senang karena bisa berkelahi untuk menyalurkan energinya yang berlebihan itu.
“Hei.” Pramudya memanggil sambil mengulurkan jari dan menusuk pipi istrinya.
Kepala Freya langsung miring ke samping. Tubuhnya ikut miring dan hampir merosot.
Ada banyak emot menangis di kepala pengawal saat ini. Ia merasa sangat sakit hati. Mana ada suami yang membangunkan istrinya dengan cara seperti itu?
Apakah Tuan tidak pernah menonton Drakor? Cobalah perhatikan bagaimana cara Lee Min-ho atau Song Joong-ki memperlakukan pasangan mereka di setiap serial romantis. Itulah yang membuat para wanita tergila-gila pada kedua pria itu.
Hei, jangan tertawa. Ia memang bertubuh kekar dan menjadi anggota Pasukan Elite, tapi ia juga manusia biasa. Oke? Menghabiskan waktu bersama pasangan menonton Drakor sambil ngemil itu sangat menyenangkan. Coba saja. Dijamin pasti ketagihan!
Pramudya yang tidak mengetahui isi kepala pengawal di sampingnya menunduk lebih dalam. Ia meraih tubuh Freya dan memeluknya erat. Kemudian dengan sangat hati-hati membopong gadis itu masuk ke rumah.
Akhirnya pengawal di belakangnya mengembuskan napas lega. Setidaknya Tuan masih tahu menggendong istrinya dengan benar. Ia sudah khawatir Tuan Pram akan menjatuhkan Nyonya Muda sebelum memasuki pintu.
Di ruang tamu, para pelayan dan Pak Anton tercengang. Siapa yang menggendong Nyonya Muda? Tuan Muda tidak pernah menggendong siapa pun dengan cara seperti itu!
Pak Anton mengeluarkan ponselnya dan diam-diam memotret Tuan Muda yang sedang membawa istrinya ke atas. Ia lalu mengirimkan pesan gambar itu kepada asisten Pak Tua. Senyum lebar terpampang di wajahnya. Ia sangat yakin Pak Tua akan sangat bahagia ketika melihat foto yang baru saja diambilnya dengan mempertaruhkan jiwa dan raganya.
Diam-diam pria tua itu menyeka keringat dingin di keningnya. Untung saja Tuan Muda Pram sangat fokus dan tidak menyadari kalau ia mengambil fotonya. Kalau tidak ... habislah nasibnya ....
__ADS_1
Ruth yang telah menunggu di depan kamar Freya segera membantu membukakan pintu, kemudian menyingkir diam-diam. Ia tidak ingin mengganggu waktu romantis antara Tuan dan Nyonya. Momen seperti ini sangat jarang terjadi dan belum tentu akan terjadi ke depannya.
Tepat ketika Pramudya akan membaringkan Freya di atas kasur, sepasang mata bulat yang berair itu terbuka dan menatapnya dengan bingung.
Tubuh Pramudya yang separuh menunduk mendadak kaku. Jarak antara wajah mereka sangat dekat. Ia bahkan bisa melihat bulu mata istrinya yang panjang dan lentik sedikit bergetar.
Gadis konyol ini kenapa harus bangun di situasi canggung seperti ini?
“Pak ... ah!”
Freya memekik ketika Pramudya membanting tubuhnya begitu saja dan berbalik pergi tanpa mengatakan apa-apa.
Sial!
Kepala Freya yang sudah benjol terantuk kepala ranjang. Ia meringis dan mengaduh sambil mengusap-usap kepalanya.
Tubuh Pramudya mendadak berhenti. Ia berputar perlahan dan memperhatikan gadis yang sudah terduduk di tepi kasur itu dengan saksama.
Kenapa ia tidak menyadari luka-luka di tubuh gadis itu barusan?
Apakah karena terlalu fokus membawanya ke kamar? Atau karena ia tidak berani menatap wajah yang tampak cukup imut dan menggemaskan saat sedang tidur itu?
Pramudya mengumpat dalam hati. Ia merasa menjadi seperti seorang bajingan yang tertarik kepada anak di bawah umur.
“Mulai besok tidak perlu pergi bekerja di kantor lagi.” Setelah mengucapkan kalimat itu, Pramudya berpaling dan meneruskan langkah berjalan ke luar, meninggalkan Freya yang tercengang mendengar ucapannya.
Pramudya pergi mencari Ruth dan memerintahkannya untuk membantu mengobati Freya.
Mengenai “teman” istrinya itu, tampaknya ia sudah harus menghadapinya dengan sedikit serius. Kalau tidak, “teman” itu pasti akan terus mengganggu seperti seekor hama yang tidak tahu diri.
Tidak ada yang bisa merebut apa yang telah menjadi Pramudya Antasena. Seorang pun tidak ada. Kalau terlalu keras kepala, ia tidak akan segan-segan meratakan Pratama Group sampai tidak bersisa.
Huh. Hanya anak kemarin sore, tapi berani menantang dan memprovokasi. Cari mati.
***
__ADS_1