
Freya terpana ketika melihat suaminya memakai celemek dengan cekatan, tidak terlihat kaku sama sekali. Sepertinya dia sudah sering melakukan hal itu.
“Ada apa? Menatapku seperti itu, jangan salahkan aku kalau nanti kita tidak jadi masak,” goda Pramudya seraya menyentil ujung hidung istrinya dengan main-main.
Freya mencibir dan memelotot. Paman Tua ini, semakin ke sini semakin ke sana. Otaknya berkeliaran ke mana-mana. Tidak bisa fokus dengan benar, kah? Sedikit-sedikit dianggap menggoda. Jangan-jangan kalau ia kentut pun nanti sedang dianggap menggoda.
Ia menyimpan semua keluhannya dalam hati dan kembali menatap suaminya.
“Kamu bisa masak?” tanyanya penuh minat.
“Hm. Waktu aku kuliah di luar negri, aku biasa masak sendiri,” jawab Pramudya sembari mengupas bawang.
“Benarkah? Tidak ada asisten rumah tangga yang membantu?” Freya berdiri di samping suaminya dan mencuci sayuran untuk dimasak capcai.
“Tidak. Aku tidak suka ada asing orang di rumah.”
Freya terdiam melihat suaminya yang mengiris bawang dengan lihai di atas talenan. Pria itu lalu mengambil udang di dalam wadah dan membersihkannya. Semua gerakannya tangkas dan gesit. Benar-benar terlihat seperti koki rumahan yang profesional.
“Siapa yang mengajarimu?” tanyanya lagi. Kali ini sambil memotong sayuran yang sudah bersih.
“Youtube.”
“Oh ....” Freya melirik ponselnya yang masih menyala. Video tutorial memasak masih dipause.
“Pertama kali mencoba, tanganku hampir selalu teriris. Masakanku kadang terlalu asin, kuahnya kadang terlalu encer, kadang terlalu kental, tapi lama-lama jadi terbiasa dan menemukan takaran yang pas.” Pramudya mengambil kepiting seukuran dua telapak tangan dan membelahnya, mengeluarkan isi perutnya dan mencucinya hingga bersih.
“Oh ....” Freya tidak tahu harus mengatakan apa. Tampaknya ia tidak memerlukan video tutorial dari Youtube lagi. Ia menyingkir dan membiarkan suaminya mengambil alih tugas memasak itu.
__ADS_1
Pramudya bergerak dengan gesit, memotong ini, mencuci itu, merebus dan memanggang, menumis ... semuanya dilakukan hampir bersamaan.
Freya sungguh terkesima. Kemampuan suaminya mematahkan asumsi bahwa hanya wanita yang mampu melakukan pekerjaan multitasking.
Padahal ia yang sudah berjanji untuk memasak untuk Kakek ....
Pramudya melirik istri kecilnya yang memandangnya dengan tatapan memuja. Ia tidak dapat menahan diri untuk merasa bangga. Sudut-sudut bibirnya berkedut samar. Tidak sia-sia kemampuan memasak ini dipelajarinya.
“Pram?” panggil Freya.
“Hm?”
“Kamu bukan psikopat, ‘kan? Atau vampir? Kamu tidak sedang menjebakku untuk dibawa pergi ke negeri antah berantah atau dijual ke luar negri, kan?” tanya Freya, masih terus memandangi suaminya seperti orang bodoh.
Pria ini terlalu tampan dan serba bisa, sangat di luar nalar. Mana ada manusia paket komplit seperti ini?
Pramudya mengangkat alisnya, lalu tertawa terbahak sampai air matanya hampir keluar. Gadis konyol ini ... selalu berpikir sembarangan dan tidak masuk akal.
“Istriku yang imut, kamu adalah harta karunku. Untuk apa menjualmu? Aku akan berkelahi dengan siapa pun yang ingin merebutmu dariku.” Pramudya mengurai pelukannya dan pergi memeriksa kuah sup kepiting yang mulai meletup-letup.
Freya masih berdiri di tempat semula, terlalu terkejut mendapatkan respons seperti ini dari suaminya.
Bagaimana bisa dirinya mendapatkan suami sekaligus kekasih seperti ini?
Dirinya bukan siapa-siapa. Tidak berasal dari kalangan atas. Tidak pula memiliki sesuatu yang bisa dibandingkan dengan semua wanita yang tergila-gila kepada suaminya. Tapi lihatlah perlakuan pria itu kepadanya.
Betapa beruntungnya ....
__ADS_1
Kebaikan apa yang telah dilakukannya?
Mungkinkah ia telah menghabiskan keberuntungan seumur hidupnya sehingga bisa bersama Pramudya Antasena. Atau mungkin, di kehidupan sebelumnya ia berjasa menyelamatkan nyawa banyak orang sehingga mendapat karma baik seperti ini.
“Sayang, tolong bantu aku siapkan piring dan mangkuk.”
“Oh, oke.” Freya masih belum terbiasa dengan panggilan sayang itu, tapi ia sangat menyukainya.
Ia mengambil mangkuk dan piring, lalu menatanya di atas meja.
Pramudya mengangkat panci berisi sup kepiting asparagus dan membawanya ke dekat meja. Ia meletakkan panci itu ke atas tatakan anti panas, kemudian memindahkan isinya ke dalam mangkuk porselen putih yang telah disiapkan oleh istrinya.
Sekali lagi Freya terkesima. Ia benar-benar sudah hampir meneteskan air liur. Entah karena aroma masakan yang harum menguar di udara, atau karena penampilan suaminya terlalu seksi dan menggoda.
Ia pernah melihat Pak Pram dengan tampang seriusnya ketika mengenakan setelan kerja. Ia juga pernah melihat pria itu mengenakan pakaian santai yang membuatnya terlihat jauh lebih muda. Tapi baru kali ini ia melihat tampang “rumahan” suaminya. Benar-benar seorang suami idaman.
“Sudah lapar? Tunggu sebentar lagi, tinggal sayur yang belum matang,” ucap Pramudya ketika melihat istri kecilnya berdiri mematung sambil menatapnya.
Freya mengerjap dan buru-buru mengambil piring dan sendok, membawanya ke ruang makan dan menyusun semuanya dengan rapi di atas meja.
Setelah itu ia pergi mencuci perabot yang kotor. Karena tidak membantu memasak, setidaknya ia harus melakukan sesuatu yang berguna, bukannya berdiri dan mengagumi suaminya sampai air liurnya hampir menetes.
Dari sela pintu, Pak Anton, Pak Tua dan asistennya berdiri berjejer, mengintip diam-diam tanpa bersuara. Pemandangan ini terlalu indah untuk dilewatkan begitu saja.
“Lihatlah, bukankah Pram sangat memanjakan istrinya,” bisik Pak Tua.
Pak Anton mengangguk. Ia merasa sangat terharu. Sepertinya setelah pulang dari bulan madu, hubungan Tuan dan Nyonya semakin membaik. Tidak sia-sia ia mempertaruhkan nyawa untuk memberikan ide kepada Tuan Besar.
__ADS_1
Sekarang melihat Tuan Muda dan Nyonya yang sangat rukun dan harmonis, ia ikut bahagia.
***