
“Harusnya aku yang bertanya, kamu kenapa berpakaian seperti itu?” Freya balik bertanya dan menatap Pramudya dengan aneh.
Mana ada orang yang pergi ke pantai memakai kemeja dan celana kerja? Masih lengkap dengan sepatu kulit yang mahal pula.
Sekejap tatapan semua orang beralih kepada Pramudya.
Ucapan Freya benar. Penampilan Pramudya tidak sesuai tempat, tapi sialnya mereka harus mengakui bahwa dia tidak terlihat aneh meski dengan penampilan seperti itu. Sepertinya apa pun yang ia kenakan terasa pantas dan pas.
Pramudya sendiri ikut menunduk dan mengamati pakaiannya. Ia memang belum sempat berganti pakaian. Tadinya ia mencari Bayu untuk menanyakan rencana mereka hari itu, tapi sahabatnya justru menyeretnya ke sini.
Freya mengangkat alis dan menanti jawaban.
Pramudya mendongak dan melihat sepasang mata bulat jernih yang seolah sedang mengejeknya.
Ya. Sekali lagi ia telah kehilangan kendali dan melanggar kesepakatan mereka: tidak boleh ikut campur dalam urusan pribadi masing-masing.
Meski kali ini perjalanan mereka adalah dalam rangka “bulan madu”, tapi ia sama sekali tidak berhak mengomentari apa pun yang dilakukan oleh gadis itu.
Tapi ... ia sunguh tidak rela ....
“Aku tidak ingin semua orang melihatmu berpakaian seperti ini.”
Bayu hampir tersandung, padahal ia hanya sedang berdiri diam. Sepertinya sahabatnya yang sudah kerasukan. Ia tidak pernah mendengar Pramudya mengatakan hal-hal semacam ini terhadap perempuan.
Lisa mundur dua langkah. Sepertinya ini adalah waktu yang tepat untuk melarikan diri. Seharusnya Pak Pram dan Pak Bayu tidak akan menyadari kepergiannya.
Freya terbengong beberapa saat. Ia tidak salah dengar, kan? Apakah Pak Pram baru saja secara tidak langsung mengatakan tidak ingin dirinya berpakaian terbuka di tempat umum?
Tapi ini pantai ...
Apa yang salah dengan celana santai dan kaos berlengan pendek?
__ADS_1
“Bisakah kamu menukarnya dengan yang lain?” tanya Pramudya lagi sebelum Freya merespons ucapannya sebelumnya.
Suaranya terdengar serak dan tidak stabil. Ia hampir tidak mengenali suaranya sendiri yang selalu tegas dan tidak ragu-ragu. Tapi kali ini ia benar-benar gugup. Bagaimana kalau gadis di hadapannya itu menolak dan marah lagi karena merasa dirinya terlalu ikut campur?
Lisa sudah separuh berlari menjauh ketika Bos Besarnya mengatakan kalimat itu. Ia tidak mau terlibat dalam apa pun yang terjadi di belakang sana. Lebih baik kembali ke kamar dan mengambil kardigan. Jantungnya hampir copot ketika Pak Bayu memelototinya seperti itu tadi.
Bayu menoleh ke belakang, melihat gadis cerewet yang selalu melarikan diri dengan cepat ketika menghadapi masalah. Ia menggelengkan kepala dan mengulum senyum. Dasar pengecut. Sepertinya ia perlu mengajari gadis itu untuk menjadi sedikit lebih pemberani.
Ia berbalik dan pergi menyusul si gadis penakut itu. Biarkan sepasang suami istri ini menyelesaikan masalah mereka sendiri.
Angin laut menerbangkan anak rambut Freya ke segala arah, menutupi separuh wajah dan lehernya. Ia mengangkat tangan dan merapikan rambutnya, menyelipkannya ke belakang telinga.
Ia sangat gugup. Otaknya mendadak tidak bisa diajak kerja sama.
Harus menjawab apa?
Melihat Freya yang hanya diam dan tidak menatap ke arahnya, Pramudya menghela napas pelan. Ia sudah cukup beruntung karena gadis ini tidak meledak dan marah-marah karena ditegur olehnya.
Ia menyugar rambutnya dengan kaku dan berkata, “Sudahlah. Lupakan saja. Maaf aku sudah—“
“Aku akan pergi ganti. Sebaiknya kamu juga. Carilah pakaian yang nyaman. Setelah itu kita pergi jalan-jalan bersama. Oke?” Setelah mengatakan serentetan kalimat itu, Freya melarikan diri dengan cepat.
Kakinya sedikit tersandung-sandung di atas pasir, membuatnya berdoa dalam hati agar jangan sampai terjatuh karena terlalu gugup. Itu benar-benar akan sangat memalukan.
Pramudya terpana, berdiri diam di tempatnya sampai sosok istri kecilnya menghilang dari pandangannya.
Apa katanya tadi?
Carilah pakaian yang nyaman?
Apakah istrinya baju saja menunjukkan perhatian kepadanya?
__ADS_1
Tanpa sadar sudut-sudut bibirnya terangkat, membentuk seringai tipis yang ringan ... seringan awan yang berarak di langit ... seringan perasaan di dalam dadanya yang membuncah karena bahagia yang datang tiba-tiba.
Ternyata begini rasanya diperhatikan ....
Rasanya hangat dan manis, membuat suara debaran jantungnya mengalahkan debur ombak di tepi pantai, datang beruntun dan mengikis karang yang kokoh, memecahnya menjadi butiran pasir putih yang lembut.
Dengan wajah yang masih dipenuhi senyuman, Pramudya berjalan kembali ke villa.
Rasanya ia ingin terbang kembali ke Jakarta, memeluk erat Kakeknya dan berterima kasih ribuan kali. Kalau bukan karena Kakek, mungkin sampai saat ini ia masih perang dingin dengan Freya. Mungkin gadis itu akan semakin menjauh darinya, alih-alih menunjukkan perhatian seperti tadi.
Hm.
Sebenarnya selain Kakek, ia masih harus berterima kasih kepada Bayu. Kursus kilat selama beberapa hari dengan sahabatnya itu ternyata cukup membantu. Sedikit demi sedikit ia mempelajari emosinya sendiri dan mengolahnya dengan baik sebelum mewujudkannya ke luar.
Sabar.
Tarik napas.
Tatap matanya.
Katakan apa yang kamu rasakan.
Katakan dengan lembut.
Katakan apa alasannya kamu keberatan atau tidak setuju.
Katakan dengan jelas.
Hasilnya ... untuk pertama kalinya ia merasakan bahagia yang sesungguhnya. Bahagia yang sederhana. Bahagia karena diperhatikan oleh seseorang yang juga dipedulikan olehnya.
Ia berjanji dalam hati, akhir tahun nanti ia akan memberikan bonus tiga kali lipat untuk Bayu. Sahabatnya itu benar-benar sudah bekerja keras.
__ADS_1
***