
Perjalanan ke rumah utama Keluarga Antasena memakan waktu hampir satu jam. Freya dan Pramudya duduk berjauhan tanpa berbicara sepanjang perjalanan.
Pramudya sibuk membaca berita bisnis di ponselnya, sedangkan Freya sibuk chatting dengan Lisa dan sesekali membalas pesan Doni.
Lalu ketika sudah tidak ada lagi yang bisa digosipkan, Freya membuka IG Instagram dan berseluncur di dunia maya.
Akan tetapi, itu pun hanya sebentar, ia sudah mulai bosan. Sebenarnya ia bukan tipe orang yang suka menenggelamkan diri dengan gadget dan menelusuri beranda tanpa henti. Namun, situasi saat ini sangat tidak mendukung. Tidak ada yang dapat diajak bicara. Ia bahkan tidak bergerak dengan bebas. Sangat membosankan.
Untung saja saat ia sudah hampir mati karena bosan, mobil akhirnya memasuki sebuah pelataran yang sangat luas. Rumah itu terlihat lebih besar dan megah ketimbang kediaman Pak Pram.
Freya terkagum-kagum ketika melihat deretan pelayan yang menyambut mereka di depan pintu masuk.
“Ingatlah untuk bersikap baik di depan Kakek, jangan membuatku malu,” ucap Pramudya ketika mobil semakin mendekat ke rumah.
Ia tidak peduli jika gadis tengil ini berulah di depan ibu atau kakak tirinya, tapi ia tidak akan membiarkannya bersikap dengan asal di depan kakeknya.
Freya yang sejak tadi hanya duduk diam akhirnya menoleh ke arah Pramudya ketika mendengar ucapan itu. Pria itu bahkan tidak sungkan untuk mengingatkannya dengan wajah tanpa ekspresinya yang menjengkelkan itu. Tentu saja ia harus membalasnya dengan sangat baik, ‘kan?
Bukankah hanya berpura-pura? Siapa yang tidak bisa bersandiwara?
Ia mengulas senyum yang menurutnya paling manis dan imut sebelum menjawab, “Baik, Sayang.”
Pramudya terpeleset. Kaki kanannya tergelincir turun dari paha kirinya dan menghantam sandaran kursi depan. Wajahnya yang kaku dan tanpa ekspresi akhirnya berfluktuasi. Kelopak matanya bergetar.
Gadis konyol ini ....
Sopir yang sejak tadi merasa tegang karena suasana yang dingin dan kaku tiba-tiba tersedak. Ia terbatuk hingga wajahnya memerah.
Selama menjadi sopir, ia belum pernah melihat bosnya kehabisan kata-kata seperti ini. CEO Pram selalu sangat tenang dan tidak akan menunjukkan emosi apa pun. Namun, di depan Nyonya Muda, entah sudah berapa kali Tuan kehilangan kendali.
Sopir itu mengingatkan diri untuk kembali fokus, lalu memelankan laju mobil dan berhenti tepat di depan pintu masuk.
Salah seorang pelayan laki-laki bergegas maju dan membukakan pintu mobil untuk Freya, lalu segera berputar ke sisi lain untuk membukakan pintu yang satu lagi.
__ADS_1
Freya lebih dulu turun, meninggalkan Pramudya yang masih terbengong karena ucapannya barusan.
Ha!
Rasakan!
“Terima kasih,” ucapnya kepada pelayan yang membukakan pintu.
“Tidak perlu sungkan, Nyonya Muda.” Pelayan itu membungkuk dengan sopan. “Silakan, Tuan Besar sudah menunggu Anda dan Tuan Muda.”
Freya tersenyum dan mengangguk. Ia menoleh ke arah Pramudya yang baru turun, lalu segera menghampirinya dan sengaja merapikan dasinya yang sebenarnya baik-baik saja.
“Sayang, kamu sangat tampan. Aku sangat beruntung karena dapat memilikimu.” Freya bergumam pelan dan bergantung dengan manja di lengan Pramudya.
Pramudya yang telah mempersiapkan diri sudah tidak menunjukkan keterkejutannya lagi. Ia mengulurkan tangan dan mengusap puncak kepala Freya dengan lembut.
“Patuh sedikit, ada banyak orang yang melihat,” ucapnya.
“Maaf, Tuan kalian terlalu tampan. Aku tidak bisa menahan diri,” ucap Freya seraya menempel semakin erat ke lengan Pramudya.
Tubuh Pramudya sedikit menegang. Gadis sialan ini ... apakah tidak bisa berakting dengan biasa saja? Bukankah ini sedikit berlebihan?
Sebelum Pramudya sempat protes, Freya telah berseru dan menarik lengannya dengan bersemangat mengikuti pelayan yang menunjukkan jalan.
Para pelayan akhirnya berani mengangkat kepala mereka setelah Tuan Muda Antasena pergi bersama Nyonya Muda. Mereka saling menatap dan menahan seringai di wajah. Ini adalah gosip hot!
Tuan Muda yang sekaku kayu dan sedingin gunung es itu akhirnya bisa luluh di hadapan seorang wanita!
Dulu, jangankan bergandengan tangan, tidak ada satu perempuan pun yang bisa mendekat sampai jarak 1 meter. Tiga meter adalah batas toleransi maksimal. Tapi tampaknya pesona Nyonya Muda telah membuat Tuan Muda mereka melanggar batasannya.
Pasangan suami istri itu memasuki sebuah aula perjamuan. Freya bisa melihat wanita yang waktu itu datang dan memarahinya pagi buta sudah duduk di sana. Wanita yang dipanggil para pelayan dengan sebutan Nyonya Besar. Wanita yang mengecamnya dengan keras karena telah menjadi istri Pramudya Antasena.
Hanya seorang selingkuhan, tapi bertingkah seperti putri bangsawan yang terhormat. Lucu sekali.
__ADS_1
Di sebelah wanita itu, duduk Tommy Antasena yang baru saja ditemuinya tadi pagi. Berbeda dengan wajah ibunya yang terlihat murung dan cemberut, pria itu tersenyum dan melambaikan tangan begitu melihat Freya dan Pramudya datang.
“Adik, Adik Ipar ... kalian sudah datang ... cepat duduk, pelayan sedang memanggil Kakek untuk turun,” ucapnya seraya berdiri dan menunjuk kursi di seberangnya.
Pramudya hanya mendengkus ringan. Tangannya melingkar di pinggang Freya dan membawanya duduk di sisi yang paling jauh dari Tommy. Ia tidak sudi duduk berhadapan dengan berandalan itu.
Melihat sikap permusuhan itu, Tommy sama sekali tidak merasa canggung. Ia menepuk tangannya yang tadi terulur di udara untuk menyalami Freya dan Pramudya, seolah penolakan itu bukanlah apa-apa.
“Lihatlah, Bu. Sudah kukatakan Pram sangat mencintai istrinya. Dia takut aku akan memakan istrinya sehingga membawanya duduk sangat jauh,” ucap Tommy, lalu dengan santai duduk kembali di kursinya dan tertawa lepas.
“Cinta apanya? Jelas-jelas itu hanya tipuan agar dia menguasai semua peninggalan ayahmu,” hina Tari Antasena.
Wanita itu kesal setengah mati karena Pramudya telah menahan semua kesempatan Tommy untuk menjadi pewaris Antasena Group yang sah. Ia bersumpah akan membongkar kedok pasangan suami istri palsu itu di depan ayah mertuanya malam ini. Setelah semuanya terbongkar dan pasangan menyebalkan ini berpisah, lihat saja siapa yang akan tertawa sampai akhir.
Para pelayan yang berdiri di sekitar meja makan segera menundukkan kepala, berpura-pura tidak mendengar ucapan barusan. Mereka bukannya tidak tahu, perselisihan antara Nyonya Besar dan Tuan Muda telah berlangsung lebih dari dua puluh tahun.
Pramudya mengabaikan pasangan ibu dan anak itu sepenuhnya. Fokusnya berada pada istri kecilnya yang duduk dengan sangat patuh dengan senyuman lebar di wajahnya. Dilihat dalam jarak sedekat ini, istrinya terlihat sangat menawan. Bulu matanya lentik, hidungnya mungil tapi runcing, ujung dagunya lancip, bibirnya terlihat lembab dan segar.
“Sayang?”
Pramudya mengerjap ketika suara yang lembut dan merdu itu sampai di gendang telinganya. Ia mengalihkan pandangan dari bibir Freya dan menatap sepasang matanya yang cemerlang.
“Kamu terpesona kepadaku?” goda Freya seraya mengerjapkan matanya ke arah Pramudya. Sepasang mata bulat itu tampak sangat jernih dan bersinar.
Pramudya mencubit dagu gadis kecil itu seraya tersenyum. “Kamu semakin nakal. Aku akan memberi pelajaran saat pulang nanti.”
Rahang para pelayan hampir jatuh. Suara yang lembut dan penuh perhatian itu tidak mungkin keluar dari mulut Tuan Muda mereka! Lalu, apa-apaan tatapan memuja dan penuh cinta itu? Mana pernah Tuan Muda berperilaku aneh seperti ini? Pasti mereka telah salah lihat!
Di ujung meja, Tari Antasena mencibir dan memberikan tatapan menghina. Pasangan itu sangat pandai berpura-pura, tapi ia bersumpah akan merobek topeng mereka hingga hancur berkeping-keping!
***
__ADS_1