Istri Kesayangan Tuan Pram

Istri Kesayangan Tuan Pram
Keinginan Pak Tua


__ADS_3

Meski sedikit merasa heran, Pramudya tetap bangun dan menghampiri kursi tempat sang Kakek duduk.


Ia mendekat ke sisi Freya dan bertanya, “Ada apa, Kek?”


Pak Tua menarik satu tangan Pramudya, meletakkannya di atas tangan Freya dan berkata, “Kalian berdua ... berjanjilah tidak akan berpisah. Apa pun yang terjadi ke depannya, tidak boleh berpisah. Mengerti?”


Pramudya menjawab tanpa ragu, “Kakek tenang saja, aku akan menjaga dan merawatnya dengan baik, tidak akan meninggalkannya apa pun yang terjadi.”


“Bagus ... bagus ....” Mata Pak Tua semakin basah.


Ia menyusut air matanya dengan punggung tangan yang keriput sebelum mengimbuhkan, “Aku bertahan selama ini hanya untuk menunggu kamu menikah, agar ada yang dapat mendampingi dan menemanimu. Sekarang, mati pun aku akan merasa tenang ... tidak ada yang aku khawatirkan lagi ....”


“Kakek, jangan bicara sembarangan!” Freya berseru dengan suara yang serak. Matanya juga sudah memerah. Kenapa Kakek harus mengatakan hal-hal seperti ini? Ia takut ucapan itu akan menjadi kenyataan.


Pramudya mengambil tisu, lalu menyerahkannya kepada Kakek dan istrinya tanpa mengatakan apa-apa. Ia tidak terbiasa dengan situasi yang melankolis seperti ini, tapi hatinya terasa sedikit sesak ketika mendengar ucapan Kakek.


Pak Tua tidak mempermasalahkan sikap Pramudya yang hanya diam seolah tak peduli. Ia tahu cucunya itu hanya tidak bisa mengutarakan emosinya, jadi ia juga tidak ambil pusing. Yang ia pikirkan hanya Freya, cucu perempuannya yang sangat baik ini.


“Aku sudah berumur 89 tahun, cepat atau lambat pasti akan mati. Tugasku sudah selesai. Sekarang giliranmu untuk mendampingi bocah keras kepala ini. Aku sudah angkat tangan. Kalau dia macam-macam, tendang saja bokongnya. Kudengar kamu bisa menghabisi lima orang penjahat dengan mudah. Tentu tidak sulit untuk memberinya sedikit pelajaran jika berbuat ulah,” ucapnya separuh bercanda.


Ucapan Kakek membuat Freya tertawa di sela tangisnya. Rupanya rumor perkelahiannya di dermaga telah sampai juga ke telinga Kakek.


“Kakek akan sehat dan berumur panjang. Kalau Pram menindasku, Kakek harus membelaku dan memukulnya dengan tongkat,” ucapnya sambil menyusut hidung.


“Baiklah ... baiklah ... karena cucu perempuanku sudah berkata seperti itu, aku akan mendengarkannya. Aku akan hidup sehat dan berumur panjang, menggendong dan bermain dengan cicit-cicitku yang cantik dan tampan.”

__ADS_1


Freya tersenyum meski hatinya masih terasa sedikit masam. Janji tentang cicit ini ... ia tidak tahu kapan bisa mengabulkannya. Hubungannya dengan Pak Pram baru saja naik satu tahap. Jalan di depan mereka masih cukup panjang untuk bisa mewujudkan mimpi Kakek. Tapi tentu saja ia tidak berani mengatakannya.


Ia melirik Pramudya yang sudah duduk di sebelahnya dengan ekspresi wajah yang tidak terbaca. Ia cukup yakin suami sekaligus kekasihnya itu juga pasti merasa sedih. Hanya Kakek satu-satunya anggota keluarga yang dimiliki oleh suaminya.


Meski ada Tommy Antasena, tapi mereka berbagi hanya separuh darah. Selain itu, ia tahu Tommy juga selalu berusaha menjatuhkan suaminya. Manusia seperti itu sama sekali tidak layak disebut anggota keluarga.


“Sudah, sudah, jangan sedih lagi. Kakek yang salah karena sudah membuatmu sedih. Terima kasih, hadiah ini Kakek terima dengan senang hati,” ucap Pak Tua seraya menatap bungkusan di tangannya seolah sedang menatap batu permata yang langka.


Akhirnya Tuhan menjawab doa yang ia lantunkan siang dan malam. Cucunya yang pendiam dan menutup diri akhirnya menemukan seseorang yang tepat untuk berbagi suka dan duka. Ia merasa sangat tenang.


Sekarang rasa bersalahnya terhadap almarhumah menantu perempuannya yang malang akhirnya terlepas sudah. Ia telah menyelesaikan janjinya untuk merawat dan menjaga Pramudya dengan baik. Kelak, jika mereka bertemu di alam baka, ia bisa menghadapi menantunya dengan kepala tegak dan mengatakan bahwa Pramudya hidup dengan bahagia.


“Baik, Kakek. Aku tidak sedih lagi. Lain kali, Kakek harus ikut berlibur bersama kami,” ucap Freya.


Freya mendekat ke sisi Pak Tua dan berbisik, “Kakek tenang saja, ada Pram ... nanti Kakek bisa menyuruhnya untuk menggendong jika Kakek merasa lelah.”


Sepasang mata kelabu Pak Tua membola.


“Ide bagus. Aku akan memintanya untuk menggendongku meski masih kuat berjalan. Anggap saja balasan waktu dulu aku sering menggendongnya berkeliling.”


Freya menutup mulutnya dan terkikik. Ia senang Kakek sudah tidak membahas hal-hal yang membuatnya merasa sedih lagi.


“Malam ini aku yang memasak. Kakek menginap satu malam lagi, ya. Cicipi masakanku,” pintanya penuh harap.


Pak Tua mengiyakan tanpa ragu. “Baiklah. Aku akan tinggal untuk mencicipi masakan cucu perempuanku.”

__ADS_1


“Oke! Kakek suka makan apa?”


“Apa saja yang kamu masak, Kakek pasti akan habiskan.”


Freya tertawa lagi. Ia benar-benar merasa sangat bahagia.


“Kalau begitu sekarang Kakek istirahat saja dulu. Aku akan memanggil Kakek jika semuanya sudah siap.”


“Baiklah. Aku akan mendengarkan ucapanmu.” Pak Tua menoleh untuk mencari asistennya, tapi Pramudya lebih dulu bangkit dan membantunya.


“Ada apa? Tumben kamu begitu perhatian kepadaku?” sindirnya meski tetap menyambut uluran tangan cucunya.


“Kakek, terima kasih untuk hadiah bulan madu itu.”


Meski hanya satu kalimat singkat yang tidak ada ujung pangkalnya, ucapan Pramudya itu membuat Pak Tua tertegun cukup lama sebelum akhirnya tertawa sampai hampir menangis.


Rupanya instingnya tidak salah. Istri Pramudya telah membawa dampak yang cukup besar. Dan itu adalah dampak positif yang sangat luar biasa. Ia benar-benar merasa sangat senang!


Dari sudut ruangan, sang asisten diam-diam menyeka matanya yang juga telah basah. Ia telah mengikuti Pak Tua puluhan tahun. Ia tahu dengan jelas bagaimana majikannya itu mengkhawatirkan cucunya siang dan malam. Tuan Muda Pertama, Tommy Antasena, masih memiliki seorang ibu yang ambisius, ibu yang mampu mendukungnya dalam kondisi apa pun.


Sedangkan Tuan Muda Kedua tidak memiliki siapa-siapa selain kakeknya. Dengan perangainya yang dingin dan menjaga jarak dengan semua orang, wajar saja jika Pak Tua sangat mencemaskannya.


Tapi sekarang, ia ikut bahagia ... benar-benar bahagia untuk Pak Tua dan Tuan Muda Kedua.


***

__ADS_1


__ADS_2