Istri Kesayangan Tuan Pram

Istri Kesayangan Tuan Pram
Salah Paham


__ADS_3

“Ada lagi?” tanya Pramudya dengan tenang. Ia bisa melihat raut wajah istri kecilnya yang masih tampak gelisah. Pasti ada omong kosong lain yang ingin dibicarakan olehnya.


“Apakah Bapak melarang Doni untuk bertemu dengan saya?” tanya Freya seraya menatap lurus ke sepasang mata Pramudya. Masalah ini harus dijelaskan.


Pramudya sedikit heran mendengar pertanyaan itu. Siapa pula Doni?


“Apa maksudmu?” Pramudya balik bertanya. Ia tidak mengenal seseorang dengan nama Doni, apalagi bertemu dan mengancamnya.


“Tadi di kafe saya bertemu Doni, dari gaya bicaranya, dia menyiratkan bahwa Anda mengancam dia agar menjauhi saya,” jelas Freya.


Pramudya mengernyit tidak senang. Sejak kapan ia begitu kurang kerjaan? Untuk apa ia mengurusi hal tidak penting seperti itu? Ia terlalu malas untuk menanggapi gadis konyol ini.


Tapi, sikap Pramudya yang tidak bersedia menjelaskan justru membuat Freya semakin kesal. Selain itu, ekspresi wajah Pramudya yang buruk membuat Freya mengira pria itu merasa tidak senang karena ditegur olehnya.


“Pak, di surat perjanjian pernikahan telah disepakati bahwa kita tidak boleh mencampuri kehidupan pribadi satu sama lain. Saya tidak pernah melarang Bapak melakukan apa pun, termasuk bertemu atau menjalin hubungan dengan Nona Carissa, jadi tolong Bapak juga jangan ikut campur dalam urusan saya. Masalah saya mau dekat dengan Doni atau Yoga, tolong Bapak jangan ikut campur,” tegas Freya dengan wajah sungguh-sungguh.


Garis pembatas harus ditarik dengan jelas. Ia tidak mau menjadi satu-satunya pihak yang dirugikan dalam hubungan ini.


Freya sama sekali tidak menyadari ucapannya itu membuat wajah Pramudya semakin suram. Gadis sialan ini masih berani membahas Yoga Pratama dengannya?


“Jadi aku harus membiarkan istriku berpelukan dengan pria lain dan bertemu di mana pun sesuka hati?” sindir Pramudya.


“Jangan lupa, meski pernikahan ini hanya pura-pura, tapi yang orang lain tahu kamu adalah istriku. Apalagi Kakek, pikirkan apa yang akan terjadi dia mengetahui kamu berkeliaran dengan pria asing di luar,” imbuhnya sebelum Freya sempat membalas ucapannya.


“Anda tahu bukan itu maksud saya. Saya masih tahu batasan, tidak mungkin membuat Anda malu di depan umum, tapi tolong Anda juga bekerja sama. Jangan menyentuh atau mencium saya dengan sembarangan tanpa izin dari saya, termasuk di depan Kakek.”


Rahang Pramudya mengetat sampai-sampai suara geliginya yang beradu terdengar dengan jelas dalam ruangan itu.


Lihatlah si bodoh ini. Apakah dia tidak tahu berapa banyak wanita yang rela mengantri untuk dipeluk dan dicium olehnya? Para wanita itu rela melakukan segala cara untuk bisa mendapatkan keinginan itu. Bahkan Carissa pun tidak pernah berinteraksi seintim itu dengannya, tapi gadis konyol ini justru seolah-olah telah ditindas karena dicium olehnya.

__ADS_1


Ego dan harga diri Pramudya seolah baru saja dilempar ke dalam kubangan dan diinjak-injak sampai terbenam ke dasar lumpur.


“Apakah aku terlalu menjijikkan untukmu? Ciuman itu membuatmu menderita?” tanya Pramudya dari sela giginya.


Sialan! Ia juga sudah meminta maaf dan membayar kompensasinya. Kurang apa lagi?


“Apa?” Freya mendongak dan menatap Pramudya dengan wajah terkejut.


Kenapa pria di hadapannya ini bisa berpikiran sembarangan seperti itu? Alasan ia tidak ingin dicium sembarangan oleh suaminya itu adalah karena ....


Freya menggigit bibirnya dan mengalihkan pandangan dari wajah Pramudya yang jelas sedang menahan amarah.


Bagaimana menjelaskan kepada pria ini?


Sebelum Freya memutuskan apakah akan memberitahukan alasannya kepada Pramudya atau tidak, suara pria itu telah lebih dulu terdengar.


“Apa? Tapi ....” Freya terkejut mendengar pernyataan suaminya. Jika bukan Pak Pram yang mengancam Doni, lalu siapa? Apakah ada orang yang memakai nama pria itu untuk merusak hubungan di antara mereka berdua?


Pramudya mendengkus dan mencibir. Ia tidak pernah menjelaskan dirinya kepada siapa pun. Apa pun yang orang lain katakan atau pikirkan tentang dirinya, ia tidak pernah peduli. Tapi untuk si bodoh ini, ia akan melakukan pengecualian.


“Dua, jika kamu sangat jijik dengan ciuman itu, aku—"


“Bukan begitu!” Freya menyela cepat. Ia tidak mau kesalahpahaman ini semakin berlarut-larut.


“Saya tidak jijik, tapi ....” Freya melirik ke arah Pramudya dan mengamati ekspresi wajah pria itu dengan saksama.


Ia juga sangat ingin tahu, sebenarnya apa isi kepala pria itu. Apa pendapat Pak Pram tentang dirinya?


Ia tidak tahu mengapa pendapat Pak Pram tentang dirinya termasuk penting, tapi ia sedikit penasaran ....

__ADS_1


Pramudya duduk dan menunggu dengan sedikit tidak sabar. Sebenarnya apa lagi yang ingin dikatakan oleh gadis ini?


“Apakah Bapak tahu kalau Bapak sangat tampan? Apalagi saat Bapak memakai kacamata, benar-benar terlihat sangat hangat dan tampan.”


Ucapan yang keluar dari mulut Freya membuat Pramudya tertegun. Kenapa arah pembicaraan mereka berubah drastis seperti ini?


Meski heran, ia tetap menunggu Freya meneruskan ucapannya.


Melihat Pramudya yang tidak merespon ucapannya, Freya mendesah pelan. Pria ini memang benar-benar balok es. Dipuji tampan pun tidak bereaksi sama sekali.


Freya berdeham dua kali untuk menghilangkan perasaan emosional yang melintas di hatinya. Ia sudah membulatkan tekad untuk mengutarakan isi hatinya. Sejujurnya, rasanya sedikit memalukan berbicara blak-blakan seperti ini, tapi ia harus tetap melakukannya. Semuanya harus dikatakan dengan jelas, kalau tidak ... ia sendiri yang akan dirugikan.


Gadis itu mendesah pelan sebelum melanjutkan ucapannya, “Dengan ketampanan itu, tidak perlu kita bicarakan kekayaan Bapak, tanpa harus menebar pesona atau melakukan apa-apa, tidak sulit untuk membuat wanita mana pun jatuh cinta kepada Bapak, termasuk saya. Oleh karena itu, tolong Bapak jangan asal memeluk atau mencium saya, kecuali ... eng, kecuali Bapak memang menginginkannya dengan sungguh-sungguh, bukan karena harus bersandiwara di depan orang lain.


Nanti kalau saya terpikat dan jatuh cinta sama Bapak, terus kontrak pernikahan ini berakhir, satu-satunya orang yang akan terluka adalah saya sendiri. Saya tahu, dalam keadaan normal, kita tidak akan mungkin menjadi suami istri. Perbedaan status sosial kita juga terlalu jauh. Jadi ... anggap saja saya pengecut, tapi saya mohon, tolong Bapak mengerti ....”


Freya menahan napas agar air mata tidak semakin banyak mengambang di pelupuk matanya.


Membicarakan perasaan seperti ini hanya mengingatkan rasa sakitnya saat ditinggalkan oleh Yoga.


Selama berbulan-bulan ia menyalahkan dirinya sendiri, mengira ia kurang baik sehingga akhirnya Yoga memilih untuk menelantarkannya seorang diri. Butuh waktu yang sangat lama untuk memulihkan lukanya. Ia tidak ingin mengulangi pengalaman yang sama.


Pramudya tidak berkedip. Ia terus menatap Freya dengan serius selama gadis itu berbicara. Selama hidupnya, baru kali ini ada seorang perempuan yang berbicara berterus terang dan rasional kepadanya dengan tenang seperti ini.


Ia merasa mereka seperti sedang membicarakan kesepakatan bisnis, alih-alih membahas masalah perasaan yang rumit.


Dirinya juga pernah ditelantarkan dan ditinggalkan, jadi sebenarnya perasaan seperti itu ... sedikit tidak asing untuknya ....


***

__ADS_1


__ADS_2