Istri Kesayangan Tuan Pram

Istri Kesayangan Tuan Pram
Mencintai Selamanya


__ADS_3

Lima tahun kemudian.


Seorang gadis cilik bermata bulat berlarian di ruang tamu Keluarga Antasena. Pak Anton dan Ruth mengikuti gadis cilik itu sambil mengusap keringat di kening.


“Naya, jangan lari, pelan-pelan. Nanti pakaianmu berantakan!” seru Ruth putus asa karena sejak tadi si imut yang menggemaskan itu tidak mau mendengarkan ucapannya.


Nayara Antasena. Bocah perempuan ini sangat mirip dengan Nyonya mereka yang penuh semangat. Setiap hari berlari keliling ke sana kemari untuk menyapa para pelayan, atau sekadar menggoda mereka lalu melarikan diri sambil tertawa lebar.


Lucunya, semua orang justru sangat senang melihat tingkah Naya, tidak ada yang keberatan diganggu olehnya.


Siapa yang tidak senang, dengan kehadiran Naya, rumah menjadi lebih hidup dan ceria. Ada saja suara gelak tawa yang terdengar setiap hari. Tuan Pram yang kaku dan tidak pernah tersenyum kini selalu tertawa sepanjang waktu. Situasi itu sangat jauh berbeda dengan kondisi rumah ketika Nyonya dan si kecil Naya belum ada.


Pak Anton berhenti mengejar Naya. Ia hanya melambaikan tangan sebagai isyarat kepada Ruth agar terus mengikuti si kecil. Ia menghela napas dalam-dalam. Sayang sekali Tuan Besar tidak sempat melihat semua kebahagiaan yang ada di rumah ini.


Dari lantai atas, Pramudya menggandeng Freya yang perutnya membulat. Ia menuntut istrinya dengan hati-hati menuruni anak tangga.


Freya cemberut dan mengomel, “Lisa itu benar-benar, kenapa harus memilih tanggal untuk menikah menjelang HPL-ku? Memangnya tidak bisa menunggu sampai keponakannya ini lahir?”


Pramudya tertawa. Pipi Freya memang terlihat semakin berisi, kakinya pun mulai bengkak, tapi di mata Pramudya, wanita itu justru terlihat jauh lebih cantik dan menarik.


“Kamu tetap paling cantik untukku,” bujuknya.


Freya malah melotot mendengar ucapan itu. Jadi benar ‘kan, ia terlihat lebih jelek pada kehamilan kedua ini.


Kata orang kalau mengandung anak laki-laki memang seperti itu. Kulit menjadi kusam dan gelap, wajah berjerawat, rambut rontok. Ia hampir-hampir tidak mengenali dirinya sendiri di depan cermin, tapi suaminya masih sempat memujinya cantik.


Huh! Ingin menipu siapa?


“Aku ‘kan jadi seperti ini karena kamu!” serunya. Kesal setengah mati. Setiap malam menyiksa orang. Tidak puas dengan satu anak yang super aktif, masih minta tambah satu lagi.


“Iya, iya ... semua salahku. Terima kasih sudah mengandung anak kita.” Pramudya mengusap lengan istrinya dengan sabar dan membantunya menuruni anak tangga yang terakhir.


Semua kemarahan Freya seketika sirna. Hatinya memang selalu lemah ketika berhadapan dengan mulut manis suaminya.


Para pelayan di sekitar menunduk dan tersenyum diam-diam. Lihatlah singa jantan yang galak itu, sekarang selalu mengalah dan menyanjung istrinya di mana pun, tidak peduli di dalam rumah atau di luar, Tuan mereka tidak pernah membantah istrinya dan bersikap sangat perhatian. Ada banyak dari mereka yang berharap dapat memiliki suami seperti itu. Meski tidak bergelimang harta, tapi setidaknya bisa bersikap lembut dan mengerti mood swing yang kerap dialami oleh ibu hamil.


Dari ruang tamu, Ruth berjalan dengan napas ngos-ngosan sambil menggendong Naya yang sedang cekikikan. Bocah perempuan itu meniup-niup telinga Ruth sehingga ia bergidik karena kegelian. Tawa Naya semakin kencang ketika melihat responsnya.


“Naya, turun. Tidak boleh membuat Tante Ruth capek.” Freya melotot sambil berkacak pinggang. Anak ini terlalu dimanja oleh ayahnya sampai kelewatan.


Dimarahi seperti itu, bibir Naya langsung mengerucut. Air mata bergantung di pelupuk matanya. Ia merosot turun dari pelukan Ruth dan berlari kepada ayahnya.


“Papa, Mama marahin Naya,” adunya sambil mengangkat tangan ke arah ayahnya.


Pramudya menunduk, menahan ketiak si kecil dan mengangkatnya. Ia menciumi pipi putrinya yang menggemaskan dan merapikan rambutnya yang berantakan.


“Naya harus mendengarkan ucapan Mama, tidak boleh merepotkan orang lain, oke?” ucapnya.


Naya mengangguk dengan patuh. “Oke, Papa.”


Gadis cilik itu lalu melirik ke arah ibunya. Ada seulas senyum tipis di wajahnya, seolah-olah sedang mengatakan “lihat, ayahku sangat baik, ‘kan?”


Freya memutar bola matanya, terlalu malas meladeni ayah dan anak itu. Sejak Naya lahir, ia merasa semua perhatian Pramudya dicuri oleh gadis tengil itu sehingga kadang-kadang ia merasa iri terhadap putrinya sendiri.


Pramudya tertawa dan meraih pinggang Freya, mendaratkan sebuah kecupan singkat di keningnya. “Sudah, sudah ... istriku yang cantik jangan marah lagi, ya.”

__ADS_1


Naya menjerit kesenangan sambil menutup mata dengan tangan mungilnya, tapi lalu mengintip dari sela-sela jarinya.


“Mama, malu dilihat sama Tante Ruth, tuh,” celetuknya.


Ruth buru-buru menunduk dan mengamati lantai yang mengilap di bawah kakinya. Sialan. Sangat memalukan.


Freya mendelik dan mencubit pinggang suaminya. Pria ini memang pada dasarnya tidak tahu malu.


“Ayo, cepat, nanti terlambat,” tegurnya.


Pramudya berjalan ke depan sambil menggendong Naya di satu tangan, merangkul pinggang istrinya di tangan yang lain.


Tanpa sadar Ruth menahan napas. Pemandangan ini terlalu indah. Ia berharap keharmonisan Tuan dan Nyonya bertahan selamanya.


Sopir yang berdiri di samping mobil segera membukakan pintu. Naya duduk di ujung. Freya duduk di sebelahnya. Pramudya masuk dan duduk di sebelah istrinya. Tangannya yang kokoh dan lebar menangkup perut istrinya yang cembung. Naya melihatnya, lalu melakukan hal yang sama.


Pada saat yang bersamaan, si kecil di dalam perut menendang dengan kuat. Pramudya dan Naya sama-sama terkejut, mereka saling menatap, lalu tertawa lepas.


“Adek nendang, Ma. Adek Naya, nendang .... lucuuu ....” celoteh Naya sambil bertepuk tangan.


Freya ikut tersenyum dan mengelus perutnya. Meski kehamilan kali ini lebih berat dibandingkan saat mengandung Naya, tapi ia juga tidak sabar untuk bertemu dengan buah hatinya ini.


Di kursi depan, sopir sesekali mencuri pandang dari cermin. Ia ikut bahagia melihat Tuan yang memiliki kehidupan seperti ini. Ia tahu tidak mudah bagi Tuan dan Nyonya untuk bersatu. Tapi sekarang ketika melihat semua kebahagiaan ini, ia merasa semua pengorbanan yang Tuan lakukan untuk Nyonya itu sepadan.


Mobil berbelok memasuki pelataran Hotel Ritz Carlton Kuningan. Acara Pernikahan Lisa diadakan di sana.


Freya yang tadi sempat mengomel mendadak bersemangat ketika melihat rangkaian bunga raksasa yang menghiasi pintu ballroom.


Suasananya semarak sekali. Ada tamu undangan yang datang dari berbagai kalangan, termasuk alumni kampus mereka yang diundang oleh Lisa. Freya bertemu beberapa di antara mereka dan saling bertukar kabar.


Sejak lulus kuliah, ia sibuk mengurus Butik Fn’L yang kini telah memiliki lima cabang, dua di antaranya berada di Paris dan Swiss. Namanya pun telah cukup terkenal di kancah internasional. Tentu saja semua pencapaian itu berkat suaminya mendukung semua yang ia lakukan tanpa merasa ragu sedikit pun.


“Freya!” Lisa berteriak dari atas panggung, seketika lupa kalau hari itu dirinyalah tokoh utama yang dipajang dan diamati oleh semua orang.


Freya melambaikan tangannya dengan dan menghampiri sahabatnya itu dengan langkah panjang-panjang. Naya melompat-lompat di samping ibunya, melambaikan tangan dan menyapa semua orang yang berpapasan.


Pramudya mengejar dari belakang, takut istrinya tersandung dan jatuh.


“Aku kira kamu tidak datang,” ucap Lisa begitu Freya tiba di hadapannya.


“Mana mungkin aku tidak datang. Dua orang penting dalam hidupku menikah, tentu saja aku harus datang,” balas Freya seraya melirik ke arah pengantin laki-laki yang sedang tersenyum kepadanya.


“Selamat, Yoga Pratama. Kamu sangat beruntung bisa mendapatkannya. Jaga dia baik-baik, kalau tidak aku sendiri yang akan menghajarmu,” ucap Freya sambil mengepalkan tangannya.


Yoga tertawa. Bukan perkara mudah untuk melupakan Freya. Bukan perkara mudah juga untuk mendapatkan Lisa. Tentu saja ia akan menjaga kedua wanita penting di dalam hidupnya itu dengan cara yang berbeda. Apa yang ada di belakang, biarkan saja tersimpan rapat dalam tempatnya masing-masing, bagian dari keindahan masa lalu yang memang hanya ditakdirkan untuk menjadi kenangan.


Naya menghampiri Lisa, menarik-narik ujung gaunnya sambil berkata, “Tante Lisa, cepat bikin adek bayi, biar nanti bisa main sama adeknya Naya.”


Lisa hampir tersedak. Wajahnya merah padam. Bocah kecil ini tidak diragukan lagi merupakan putri kandung Freya.


Yoga mengulurkan tangan dan mengusap kepala Naya. “Tenang saja, Om pasti bakalan kasih adik bayi buat teman main adiknya Naya, oke?”


“Oke! Janji, ya, Om! Jangan kalah, dong, dari papanya Naya.” Naya mengacungkan jari kelingkingnya.


Pramudya mengangkat alisnya dan menyeringai bangga. Itu baru putrinya. Sangat kompetitif.

__ADS_1


Freya menyikut tulang rusuk suaminya dengan kesal. Apa-apaan seringaian itu? Bangga, kah? Dasar tidak tahu malu!


Yoga mengaitkan kelingkingnya di jari yang mungil itu seraya tersenyum dan berkata, “Janji.”


Suara musik yang mengalun berbaur dengan percakapan para tamu undangan. Pramudya merangkul istrinya dan membawanya pergi duduk, meninggalkan Naya untuk mengganggu pengantin baru.


Wanita hamil tidak boleh berdiri terlalu lama.


Pramudya berjongkok di depan Freya. Ia menunduk untuk membuka sepatu istrinya, kemudian memberikan pijatan-pijatan kecil di sekitar pergelangan kaki yang bengkak.


Freya ingin menarik kakinya, tapi Pramudya menahannya. “Tidak apa-apa. Kamu pasti lelah. Aku pijit sebentar saja.”


Mata Freya memanas. Pria ini ... betapa beruntung dirinya.


Orang bilang, seumur hidup terlalu lama jika dihabiskan dengan pasangan yang salah. Tapi untuk dirinya, seumur hidup terlalu singkat.


Jika ia bisa mengulang kehidupan, ia pasti akan memilih untuk bersama pria luar biasa ini.


Pramudya mendongak, mendapati tatapan istrinya yang secerah bintang, hanya tertuju kepadanya seorang. Seulas senyum lembut mengambang di wajahnya.


Kata-kata cinta yang tak terucapkan bertabrakan di udara, melayang bersama simfoni yang merdu.


Aku akan mencintaimu selamanya, itu adalah sumpah sakral yang tidak akan lekang oleh waktu.


Dan jika Tuhan mengizinkan, biarkan mereka menghabiskan waktu hingga maut yang memisahkan.


***


Tamat.


***


Heii, maaf baru update. Sibuk banget di duta, huhu ...


makasih untuk kalian yang tetap setia menunggu dan membaca sampai di sini.


Aku harap kalian semua terhibur.


Untuk kalian yang bertanya-tanya, kok bisa Lisa nikah sama Yoga, nanti aku bikin spin off ya ...


Kapan?


Belum tau, wkwkwk...


follow aja FB: Biru Samudera atau akun NT ini supaya dapat notif ketika aku up cerita baru yaa...


sekali lagi makasihh, God bless you all💙


***




__ADS_1




__ADS_2