
"Menikahlah dengannya, Bi."
Mata yang tadinya terpejam, seketika terbuka lebar. Napas terlihat memburu, lalu pandangan diarahkan ke ruangan sekitar seperti seseorang yang sedang mencari sesuatu.
"Apa aku baru saja tertidur? Tapi, kapan?" Pertanyaan itu cukup membingungkan bagi dirinya sendiri. Jelas-jelas tadi dia dan Pak Imron sedang duduk berdua, membahas masalah kurikulum fiqih untuk kelas 12.
Lantas, kenapa dia bisa tertidur di mejanya sendiri? Entahlah, Aiman sendiri juga masih linglung.
Kembali kedua bola mata Aiman menatap mejanya. Dia mengedip linglung. Seolah sedang berusaha mengingat-ingat akan kejadian sebelumnya. Buntu.
Satu yang bisa ditangkap olehnya saat ini adalah, almarhum istrinya baru saja datang ke dalam mimpinya. Hanya sekadar untuk meminta si suami kembali menikah. Gila. Mimpi macam apa itu? Jika, disuruh memilih antara menduda, atau menikah lagi. Aiman lebih memilih menduda seumur hidup.
"Ummi, padahal aku begitu merindukanmu. Tapi, kenapa kamu datang hanya untuk mengatakan hal yang sangat sulit kulakukan. Apakah benar ini memang keinginanmu?” tanya Aiman ke wajah istrinya yang dipajang di dalam pigura, di atas meja.
Tubuhnya tiba-tiba terasa penat, lalu disandarkan ke kursi di belakangnya. Tatapan menerawang jauh ke masa lalu. Di mana kebahagiaan selalu ada walau dulu belum memiliki momongan.
Redup. Sinar kehidupan seolah tergerus dengan kepergian dari sosok istrinya. Namun, kehadiran Hassan di dalam hidupnya seakan sebagai pelipur lara, setelah kehilangan istri tercinta.
Sedih, hancur, tetapi Allah itu masih sayang kepada Aiman. Di mana kepergian Aisyah diganti dengan kedatangan bayi mungil dan lucu seperti Hassan.
"Ummi, haruskah diriku yang begitu mencintaimu bisa mencintai wanita lain, selain dirimu? Benarkah itu?” Takut. Perasaan itulah yang kini sedang dirasakan oleh Aiman. Dia takut, jika kelak tidak bisa bersikap adil kepada istri barunya karena belum bisa memberikan cinta yang utuh.
"Arghhh!" Tiba-tiba, kepalanya terasa berat hingga tanpa sadar dijedotkan ke atas meja hingga menimbulkan bunyi bugh beberapa kali.
__ADS_1
Kejadian tadi pagi saat Fatimah mengajaknya berbicara empat mata, cukup menyita pikiran. Bagaimana tidak, wanita itu begitu santai. Seolah-olah, pernikahan bukanlah hal besar sehingga tanpa sadar pria tersebut membandingkan dengan mantan istrinya.
Dulu, Aisyah begitu gugup, bahkan terlihat sangat cemas ketika tahu dirinya akan menikah dengan Aiman. Walau semua persiapan dilakukan oleh pihak keluarga, tetapi Aisyah tidak mau hanya berpangku tangan dan tetap membantu sebisanya.
Dari undangan, katering, make up, hingga hal-hal kecil lain yang memang berhubungan dengan pernikahan mereka tidak luput dari pantauan. Berbeda dengan perangai Fatimah yang begitu cuek dan seakan masa bodo.
“Apa benar Fatimah ini sahabat baikmu, Mi? Kenapa kalian begitu berbeda, bahkan abi merasa jika pernikahan ini tak akan berlangsung lama.” Aiman merasa skeptis akan masa depannya, jika menikah dengan Fatimah.
“Pak Iman,” panggil salah satu seorang siswa, terlihat dari seragam yang dikenakan tengah berdiri canggung di depan meja kerja sang guru.
Aiman pun lantas membetulkan posisi duduknya, lalu memasang wajah berwibawa agar si anak didik merasa segan pada dirinya. Sebenarnya tanpa diminta pun, Aiman memang sudah menjadi guru yang cukup disegani oleh siswa-siswi di sekolahnya.
Walaupun memiliki tampang yang rupawan, Namun, duda beranak satu itu cukup irit berbicara, kecuali jika sedang menerangkan tentang pelajaran. Itu beda lagi. Pria itu akan banyak bicara jika berhubungan dengan agama.
“Iya, Ris. Ada apa?”
Aris ini adalah ketua kelas 11b dan kemungkinan dia datang atas desakan, keingintahuan para murid lain kepada guru agamanya yang tidak kunjung datang.
“Maksud kamu? Ya, saya datang ke sekolah tentu saja untuk mengajar. Ya, kali saya ke sini hanya untuk numpang duduk, dan ngopi. Pertanyaan kamu sepertinya cukup random, ya, Ris?” Ada sedikit penekanan di setiap kata yang keluar dari mulut Aiman. Tersinggung, sepertinya.
“Sebelumnya saya minta maaf, Pak. Bukan bermaksud untuk lancang atau apa. Tapi, kita sudah menunggu bapak hampir setengah jam di kelas dan kedatangan saya ke sini untuk memastikan keabsenan Pak Iman.” Aris menggaruk belakang kepalanya ragu.
Aiman lantas melihat ke arah jam di pergelangan tangannya. Kedua bola mata pria itu seketika membelalak kaget. Rasa bersalah langsung menyelimuti hati tatkala sudah menelantarkan murid-muridnya hanya karena ketiduran.
__ADS_1
Jika kepala sekolah tahu, bisa kena sanksi Aiman. Namun, yang membuat heran adalah, bagaimana bisa guru lain tak membangunkan pria tersebut. Apa mereka semua tak peduli kepada dirinya?
Dengan cekatan, Aiman segera mengambil buku LKS serta buku jurnal yang memang selalu dibawanya ke mana-mana. Pria itu berdiri canggung, kemudian mengajak Aris untuk berjalan lebih dulu. Masa bodoh dengan yang lain karena sekarang tujuan utama Aiman adalah mengajar.
Ini semua karena pernikahan konyol itu. Jika saja Siti tak mengusulkan tentang hal tersebut, mungkin Aiman–yang terkenal rajin–tidak akan terlambat datang ke kelas, atau buruknya lagi ketiduran di saat jam mengajar.
*
Sementara itu, di sebuah ruangan dengan banyak aneka hiasan manis, lucu, bahkan ada pula yang cukup random terpampang jelas di setiap sudut memanjakan mata. Sungguh ramai dan membuat semua orang yang masuk ke dalamnya terpukau akan kreasi dari tangan mungil mereka.
Di antara sibuknya anak-anak dengan dunia mereka–berjumlah 15 anak, hanya ada satu murid yang hanya diam duduk di bangku, tanpa terganggu dengan bisingnya suara cempreng dari murid lain. Dia seolah sudah menemukan dunia sendiri. Di mana tidak ada yang bisa menyelami, selain dirinya.
"Mas Asa, ayo main bareng sama yang lain! Itu Rendra dan Bagas sedang main bola, loh. Apa kamu gak ingin bergabung dengan mereka?" Bu Wardah–wali kelas TK B1 mendatangi meja dari muridnya yang terkenal sangat pendiam di antara lainnya.
Anak kecil itu hanya menggeleng.
Bu Wardah mendesah pasrah. Bukan sekali dia mengajak anak muridnya untuk berbaur dengan yang lain, bahkan hampir setiap saat. Namun, tetap ditolak. Walau tidak terlalu frontal, tetapi wanita yang sudah mempunyai suami tersebut cukup sedih.
"Sayang, ibu boleh nanya gak?" Bu Wardah akhirnya mengalah. Dia kemudian mencari topik obrolan lain dan dengan sengaja duduk di bangku milik Zikri–yang terletak di depan bangku Hassan.
Hassan mengangguk malu. Dia belum punya keinginan untuk melihat wajah dari wali kelasnya. Jujur, anak kecil itu juga ingin bersosialisasi. Dia sudah mencobanya. Ketika itu, mereka baru memasuki tahun ajaran baru dan tentunya jiwa bermainnya masih sangat besar.
Waktu pertama kali masuk ke TK, Hassan sebenarnya sudah memiliki teman. Akan tetapi, saat sudah berjalan satu bulan mereka–teman sepermainannya mulai menyadari kejanggalan dengan keluarga Hassan.
__ADS_1
Sejak saat itu, Hassan mulai menjauh dan menyendiri sampai sekarang.
"Apa yang membuat Mas Asa enggan bermain bersama mereka? Apa mereka sudah merundung Mas Asa?"