Istri Untuk Iman

Istri Untuk Iman
Bab 54


__ADS_3

Setiap hidup sudah ada masanya. Kapan dan di mana ajal mendatang itu semua rahasia Illahi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


“Itu?” Aiman sedikit menyembunyikan senyum di saat sang istri masih betah mengusap bibirnya. Dia bukan pria bodoh yang tidak tahu akan maksud dari Fatimah, hanya saja ia ingin mendengar secara langsung dari mulut wanita di depannya.


Sebenarnya apa yang sedang aku lakukan? Kenapa ada rasa ingin menciumnya? Lagian, bukankah tadi diriku ini tengah kesal dan malu, terus … ini kenapa malah jadi melenceng jauh ke arah sana? Oh, Ya Tuhan. Sepertinya otakku ini sudah mulai gila karena kerasukan setan mesum.


“Manisku,” panggil Aiman sengaja, lalu melipat bibirnya ketika senyum hampir lepas saat melihat wajah malu-malu sang istri.


"Iya, Bi." Fatimah menelan ludah gugup kala melihat bibir itu bergerak sehingga membuat pikiran akan keadaan Raisa terlupakan sejenak dan itu semua berkat sesuatu di dalam tubuhnya. Mendesak untuk lekas membungkam mulut si suami.


Gila. Sepertinya otakku mulai tak waras. Hei, Fatimah. Jangan kau sampai membuat suami jijik karena tingkah murahanmu itu!


Aiman yang tahu maksud dan keinginan Fatimah pun bertindak cepat. "Jika kamu memang menginginkanku … lakukan, Sayang! Aku milikmu seutuhnya."


Setelah itu, entah keberanian dari mana yang didapat oleh Fatimah hingga dia berani memulai duluan.

__ADS_1


Tautan mereka mulai terjalin hingga tak ada jarak lagi. Dua insan yang tengah dalam suasana hati yang berbeda, lalu disatukan dalam sebuah satu muara cinta.


Muara yang begitu pas untuk disinggahi oleh mereka yang tengah saling merindu dan saling cinta. Luapan gairah dari sepasang insan yang haus akan melodi indah yang terlontar merdu dari bibir satu sama lain.


Tidak butuh waktu lama untuk mereka mencapai puncak surga duniawi yang kadang membuat pasangan berlomba-lomba untuk saling memberi kepuasan. Bulir keringat pun sudah tak menjadi masalah saat rasa nikmat menyerang mereka.


Oleh sebab itu, melodi itulah yang akan menjadi candu setiap pasangan untuk selalu ingin mengulanginya lagi dan lagi.


***


Fatimah yang baru saja selesai shalat berjamaah dengan sang suami pun terduduk saat mendengar isakan keluar dari seberang telepon. Dia menyusutkan hidung kala ingus hendak mengalir karena menahan tangis.


“I-bu kenapa menangis?” tanyanya terbata.


Aimah yang tengah merapikan sajadah pun menoleh kaget saat mendengar isakan sang istri. Dia segera mendekati istrinya yang tengah membekap mulut dengan satu tangan, sedangkan satunya lagi digunakan untuk memegang ponsel.


Bulir kristal itu seolah sudah bisa menggambarkan kesedihan yang begitu mendalam dari Fatimah. Dia mendongak untuk melihat wajah sang suami, lalu menangis tanpa kata. Berita yang didengar pagi ini begitu mengguncang hati, serta perasaannya.

__ADS_1


“Ada apa, Sayang?” Aiman bertanya dengan nada lembut. Tidak lupa tangan itu masih setia mengusap punggung istrinya.


Wanita itu langsung memeluk pinggang suaminya, kemudian menyembunyikan wajah yang bersimbah air mata itu di perut rata Aiman. Gawai pun sudah terlepas dari tangan setelah orang tersebut mematikan panggilannya.


“Raisa, Mas,” ujarnya pilu hingga tak sanggup meneruskan ucapannya.


Kabar duka datang menyelimuti hati mereka. Kala sosok yang baru saja ditemuinya kemarin justru kini dikabarkan telah berpulang ke rumah Allah dalam keadaan tak bernyawa.


"Innalilahi wainnailaihi rojiun." Aiman segera memeluk erat tubuh Fatimah kala mendengar tangisan sang istri. Dia bahkan merelakan bajunya basah oleh air mata.


"Aku bahkan belum melakukan apa pun, Bi. Tapi, kenapa? Kenapa dia sudah pergi? Lalu, aku harus bagaimana, Abi?" Tangisan kehilangan Fatimah menjadi momen pertama bagi mereka berdua setelah menjadi suami istri. Wanita itu merasa bersalah, bahkan menghujat dirinya tak becus dalam mengurusi masalah si teman.


"Sebaiknya kita ganti baju, Sayang. Lalu, kita berangkat bersama ke rumah duka. Kita beri penghormatan terakhir untuk Raisa. Dan aku harap kamu bisa menerima takdir ini dengan ikhlas, Istriku!"


"Insya Allah, Mas."


Ra, kenapa dirimu pergi begitu cepat? Apakah benar kamu melakukan itu? Atau, memang ini adalah kesengajaan orang lain agar dirimu pergi dari dunia ini? Jika memang itu perbuatan orang lain, aku harap … semua cepat terbuka!

__ADS_1


__ADS_2