Istri Untuk Iman

Istri Untuk Iman
Bab 50


__ADS_3

“Mas Ibnu.”


Fatimah menatap pria yang mengenakan pakaian serba hitam itu dengan pandangan mengernyit. Dari raut pria di depannya terlihat jika dia tidak suka dengan apa yang sedang dilihatnya.


Kenapa dia gak suka? Atau, mataku saja yang sedang rabun? Aish, kenapa juga pikiranku menjadi buruk kepada orang lain.


Kepalanya lalu ditolehkan ke arah si teman. Namun, keningnya kembali mengerut kala menemukan ketakutan yang ada di balik raut Raisa. Pikiran wanita itu pun seketika jelek hingga membuat spekulasi yang belum tentu benar, atau tidaknya.


“Apa yang kamu lakukan di sini, Sayang? Tadi aku udah datang ke kantor kamu, lho. Ternyata kamu malah udah ada di sini,” ujar Ibnu dengan senyum lebar, tetapi itu sangat dipaksakan dan itu bisa ditangkap jelas oleh Fatimah.


Aneh. Fatimah memiringkan kepala saat pikirannya menemukan kejanggalan, demi kejanggalan dalam pria itu. Dia pun berharap jika itu tidak akan pernah menjadi nyata. Wanita itu lalu berdehem. “Maaf, Mas Ibnu. Tadi Raisa hanya ingin mengantarkan ini kepada saya,” jelasnya, sambil memamerkan kertas undangan.


“Jadi, apa ada yang salah dengan pertemuan kami?” Wanita itu begitu terus terang. Ingat, dia ini bukanlah perempuan bodoh yang bisa dikibuli hanya dengan senyum palsu milik orang yang bermuka dua.


Anehnya, Raisa yang sedari tadi cerewet, ngomong panjang kali lebar kali tinggi, bahkan dia sempat mengumpat ini itu hingga menjelekkan suami, serta anaknya justru kicep. Diam seribu bahasa dengan kepala tertunduk, tanpa ada sanggahan, apalagi bantahan.


Hei, ada apa dengan temannya ini? Apa pri itu memang menjadi penyebab kebungkaman dari Raisa? Kalau iya, berarti orang ini gak beres.


Pria itu tersenyum begitu lebar, lalu menatap Fatimah yang tengah menatapnya tak kalah santai seolah tidak merasakan terintimidasi oleh dirinya yang sedang berdiri menjulang di depan dua perempuan itu.


“Oho. Slow. Santai aja, Mbak!” Kedua tangan Ibnu sengaja dimajukan seolah meminta Fatimah untuk tidak menuduhnya yang tidak-tidak. “Saya tadi hanya bingung, kemana calon istri saya pergi. Dihubungi nomor ponselnya juga mati. Makanya saya panik, dong.”

__ADS_1


Fatimah sama sekali tidak respek dengan pria satu itu. Jujur, waktu pertama kali bertemu, mereka memang tidak banyak bicara. Namun, setelah mendengar cerita tentang Ibnu dari Raisa, tentang sifat, dan sikapnya justru sedikit tak percaya.


Tapi ….


Setelah melihat bagaimana dominannya Ibnu hari ini, Fatimah jadi curiga, ada sesuatu yang disembunyikan oleh temannya.


“Kalau Anda ini memang panik, kenapa mukanya justru terlihat seperti sedang menahan amarah? Atau, saya salah?”


Tangan pria itu mengepal di samping tubuhnya. Ibnu memandang wajah Fatimah sepersekian detik dengan pandangan datar, tetapi segera berubah menjadi senyum lembut yang bagi orang lain akan terlihat tampan, tetapi tidak bagi Fatimah dan Raisa.


“Mana mungkin saya marah. Lah, wong kami sebentar lagi akan menikah dan mau punya anak juga. Jadi, tak ada alasan buat emosi ke calon istri, dong?” Ibnu berusaha untuk mendekat ke arah Raisa, tetapi wanitanya justru menggeser tubuhnya ke Fatimah.


Fatimah pun cepat tanggap, lalu merangkul bahu Raisa. “Apa kamu lapar, Ra? Kok, aku tiba-tiba pengen makan pecel ayam langganan kita, ya. Kamu mau gak?”


Ya, Allah. Jika memang orang ini tidak baik untuk temanku, tolong jauhkanlah dia! Tapi, jika memang firasatku ini tidak benar, maka tolong beri kami jawaban yang sebenarnya!


Setelah itu, mereka–Fatimah, Raisa, dan Ibnu– pun berjalan menuju kendaraan mereka masing-masing. Beruntung Raisa tadi pergi menggunakan ojol, jadi dengan dalih masih rindu dengan teman, Ibnu pun mengizinkan mereka berdua berboncengan, sedangkan dirinya mengikuti dari belakang.


Di jalan, Fatimah dan Raisa tidak bisa melakukan hal lain, selain tetap melajukan dan menikmati senja sore itu dalam kebisuan. Namun, sebelum mencapai tempat tujuan, Fatimah sudah chat kepada sang suami tentang tempat yang akan mereka tuju.


Untuk jaga-jaga bila terjadi sesuatu.

__ADS_1


Sementara itu, Aiman dan Siti yang masih terdiam di rumah tiba-tiba dikejutkan dengan denting pesan masuk ke ponsel si anak. Pria itu dengan tak berselera mengambil gawainya. Keningnya seketika berkerut. “Bu, kok Fatimah share loc doang, ya? Kira-kira maksudnya apa?”


Siti yang melihat kebingungan anaknya pun segera mendekat dan mengambil alih ponsel. Wanita paruh baya itu ikut bingung dengan maksud dari chat si menantu. “Apa kamu sudah mencoba menghubungi nomornya?” tanyanya memastikan.


Pria itu hanya menggeleng. “Aku hanya tidak mau dikira terlalu posesif, Bu.”


“Abi … Nenek. Kalian sedang apa?” Seorang anak kecil baru saja keluar dari kamar dengan keadaan cukup berantakan. Hassan yang baru bangun tidur pun bertanya heran dengan dua orang dewasa yang tengah saling berdiri bersisian itu.


Siti segera berbisik ke telingan Aiman, lalu pria itu pun mengangguk. Namun, sebelum pergi, pria itu segera mendatangi si anak yang masih terlihat masih mengantuk. “Sayang, Abi keluar dulu, yah. Mau jemput umma, oke!”


“Ikut!” Bibir itu ketika menyerukan keinginannya untuk pergi bersama dengan sang ayah, apalagi setelah mendengar tujuannya adalah menjemput bidadari rumah mereka. “Pokoknya Mas Asa ikut!” lanjutnya tidak mau dibantah.


Aiman menggeleng. “Abi hanya sebentar, kok. Mas Asa di rumah sama nenek, ya!”


“Gak mau. Pokoknya Mas Asa ikut!” kekehnya.


“Nek!”


Siti pun tersenyum mengerti, lalu dia pun menggendong tubuh Hassan ke dalam pelukannya, lalu membujuk sang cucu untuk mandi terlebih dahulu, baru setelah itu makan dan bermain. Semua dilakukan supaya Aiman bisa pergi seorang diri untuk menjemput Fatimah.


Aiman pun mengangguk tanpa bicara dan pergi menuju garasinya. Dia sengaja memakai motor agar mempermudah dia untuk menyalip kendaraan lain. Lalu lintas di jam seperti ini sangatlah padat karena berbarengan dengan jam pulang kerja karyawan pabrik.

__ADS_1


Oleh sebab itu, motor pun menjadi pilihannya. “Aku harap kamu baik-baik saja, Sayang! Aku gak akan pernah memaafkan diriku sendiri jika terjadi sesuatu pada dirimu!”


__ADS_2