Istri Untuk Iman

Istri Untuk Iman
Bab 52


__ADS_3

“Ini Mas Iman juga kenapa belum sampai.”


Fatimah terlihat gringsang dalam duduknya. Dia khawatir terjadi sesuatu dengan suami tercinta. Seharusnya pria itu sudah sampai sedari tadi, tidak jauh berbeda dengan dirinya. Akan tetapi, ini sudah hampir 30 menit dan sang suami belum menunjukkan batang hidungnya.


“Apa dia terjebak macet, ya?” Kembali bibir itu melontarkan pertanyaan ke dirinya sendiri.


“Kenapa, Mbak? Kayaknya panik banget.”


“Oh.” Wanita itu terkejut saat pria di depan menegurnya, lalu dia pun sadar, kalau saat ini tengah bersama dengan Raisa dan juga Ibnu.


“Oh, ini, suamiku katanya lagi di deket sini. Jadi, dia mau gabung … boleh gak?” tanya Fatimah basa-basi.


“Silahkan saja, Mbak. Lagian, resto ini juga bukan milik saya. Jadi, mana mungkin saya melarang orang lain untuk makan di sini,” canda Ibnu dengan senyum yang terulas di bibirnya.


Fatimah balas tersenyum kikuk. Suasana ruangan yang sangat awkward ini, justru membuat Fatimah merasa tengah dicekik oleh udara yang ada di sekitar. Untuk menghilangkan rasa canggung, kemudian ia menyeruput minuman dingin yang sudah mulai tak ada rasa.


Hambar. Ekor mata Fatimah, lalu melirik ke arah si teman yang sedari tadi hanya diam dengan posisi kepala tertunduk.


Kenapa ini orang malah jadi, kek, kerasukan Jin Tomang begini, sih?!

__ADS_1


Ya, setelah dirinya mencuri dengar obrolan dua orang itu, Fatimah memilih masuk kembali ke ruangan. Dia berpura-pura tidak pernah mendengar apa pun dan berlagak tidak tahu siapa pria yang tengah dihadapinya. Kini, Raisa justru membuat Fatimah pusing dengan kebisuan yang dibuatnya.


Wanita itu, bahkan tidak mau menoleh, apalagi menatapnya balik. Raisa justru terlihat begitu patuh dan luluh ketika Ibnu menyuapinya. Tak ada ekspresi apa pun selain diam. Bagaikan mayat hidup, mati segan, hidup pun tak mau.


“Ra, kok kamu diem, sih? Apa makannanya membuatmu mual?” Fatimah sengaja memancing Raisa untuk menatap wajahnya. Dia juga ingin melihat wajah si teman yang jelas terlihat semakin pucat.


Di bawah meja, Ibnu sengaja m3r3m4s paha wanitanya hingga membuat Raisa memberikan reaksi atas pertanyaan Fatimah. Wanita itu terlihat seperti boneka hidup yang selalu dikontrol oleh sang kekasih.


Sungguh, ini bukanlah kemauan dirinya. Jikalau bisa kabur, sudah sedari awal ia pergi menjauh dari pria gila yang tengah berada di sampingnya.


“Se-benarnya aku ingin makan cumi, Fa,” aku Raisa mencoba jujur. Sedang menu yang ada di atas meja hanya ayam penyet, cah kangkung, dan itu sama sekali justru membuat dirinya mual.


“Kalau gitu biar aku pesankan.” Fatimah hendak berdiri, tetapi pria di depannya sudah lebih dulu menahan dengan suara.


“Gak usah, Mbak. Biar aku aja. Kasihan masa Mbak Fatimah lagi makan, malah jadi ngurusin calon istri saya,” tahan Ibnu seolah dialah pria paling pengertian dan perhatian di dunia ini.


Orang yang tidak mengenalnya mungkin akan mengira dia sebagai calon menantu idaman, atau suami idaman, tetapi nyatanya dia justru tengah menyimpan kebuasan di dalam tubuhnya.


Raisa bahkan tanpa sadar menggigil mendengar suara Ibnu yang begitu perhatian. Sesuatu di dalam tenggorokannya mendesak untuk keluar dan tanpa bisa dicegah, ia pun sudah mengeluarkan isi perutnya tepat di depan baju sang kekasih.

__ADS_1


Plak


Sebuah tamparan keras mendarat tepat di pipi mulus Raisa dan itu dilakukan begitu keras di hadapan Fatimah. Raisa sempat oleh, tetapi dia kembali memuntahkan semua isi makanan dari dalam perutnya.


Sakit? Tidak. Itu sudah biasa ia terima dari pria yang mengaku cinta mati kepada dirinya.


“Apa kamu gila, hah? Ini tuh bajunya mahal. Kenapa malah kamu muntahin. Dasar brengs–” Seketika bibir itu berhenti mengumpat kala menyadari jika dirinya kini tidaklah hanya berdua saja di ruangan. Ada seseorang yang tengah menatapnya berang.


Sedang Raisa sama sekali tidak mendengarkan umpatan apa pun yang terlontar dari mulut sang kekasih. Semakin pria itu banyak mengucapkan kata-kata, semakin sesuatu di dalam perutnya juga mendesak mengeluarkan semua isi makanannya.


“Apa yang kamu lakukan? Kegilaan apa yang telah kamu lakukan kepada temanku, hah?” Fatimah berteriak dan merangkak untuk menghampiri Raisa yang belum selesai memuntahkan semua isi di dalam perutnya. Tangannya otomatis memegang punggung tengkuk Raisa dan mengurutnya pelan.


Mata itu lalu menatap penuh benci kepada kekasih sahabatnya. “Jangan pernah sekalipun main tangah kepada temanku. Atau, aku akan melaporkan tindakanmu itu kepada polisi!”


Manik yang tadinya berwarna gelap seketika mengedip sekali dan Fatimah benar-benar tak percaya akan perubahan kilah yang ada dari kilat mata Ibnu. Pria ini benar-benar berbahaya. Ia tidak bisa mempercayakan hidup Raisa di tangan pria gila tersebut.


"Menjauh! Atau aku akan menjerit hingga orang-orang akan datang membantu kami!" ancam Fatimah dengan mata dinginnya.


...****************...

__ADS_1


Jangan lupa like, komen, dan giftnya yah, Bestie. 🥰


__ADS_2