Istri Untuk Iman

Istri Untuk Iman
Bab 89


__ADS_3

Tanpa berkata-kata, Aiman langsung menyetop sebuah taxi yang melintas dengan satu tangannya. Membiarkan wanita aneh tadi duduk di atas jok motor yang terparkir di belakang mobil berwarna merah darah itu.


“Tolong antarkan mbak ini ke alamat yang dia minta, Pak!” ucap Aiman saat sebuah taxi berhenti di sampingnya.


Si supir taksi pun segera mengangguk dan menunggu pelanggan pertamanya hari ini. Ia yang bernama Udin ini adalah seorang ayah beranak tiga yang emmang menggantungkan nasib hanya dari penghasilan menjadi supir pun begitu semangat.


Aiman pun berdiri, sambil melipat kedua tangan di depan dada. Matanya seolah meminta wanita itu turun dari mobilnya dan naik ke mobil taksi itu. Namun, Trisa seolah tidak tahu maksud dari isyarat mata pria itu pun tetap duduk dengan nyaman.


“Mas, itu mbaknya jadi gak naik taksi saya!” teriak Udin dari dalam mobilnya.


Aiman mendesah kasar dan mulai mengambil rencana lainnya. “Maaf, Pak. Saya bisa minta tolong buat minta perempuan itu turun dari motor saya? Nanti, saya akan memberikan tips untuk Anda,” bujuknya yang memang tidak ingin berurusan terlalu lama dengan manusia bebal seperti wanita itu.


Niat baiknya ternyata justru disalahgunakan. Karena Trisa, Aiman akan terlambat datang ke kantor. Bayangan akan teguran dari sang atasan pun mulai merasuk ke dalam otaknya. Membuat pria itu tak sabar untuk menyingkirkan wanita itu dari kok motornya.


“Baik, Mas!” Udin begitu semangat, apalagi setelah tahu akan ada tips dari Aiman. Ia pun turun dari mobil, lalu membujuk dengan halus. Namun, cara itu justru tidak membuahkan hasil apa pun.


Akhirnya, dia menggunakan cara kedua, yaitu mulai menakut-nakuti jika ada sesuatu di belakang rambut panjang si calon pelanggannya. Akan tetapi, itu semua sama sekali tak berguna. Alias zonk.


“Apaan, sih? Jauhkan wajah kampunganmu itu!" Tangan Trisa segera mendorong jauh pria itu dari pandangannya.


Di saat Trisa sibuk mengurus si supir taksi yang ternyata senang sekali bercanda itu. Aiman menggunakan kesempatan itu untuk mengambil motornya. Dia sudah menaruh uang satu lembar di jok depan milik si supir taksi. Jadi, tak ada utang, maupun hal lainnya.


"Dasar wanita gila. Jangan sampai aku bertemu lagi dengan orang itu," cibir Aiman setelah dirinya bisa kabur membawa motornya.


Sementara itu, Trisa yang masih dirusuhin oleh si Udin rese, semakin kesal. Dia yang ingin mengejar Aiman justru tidak bisa karena kelakuan si supir taksi. Kesal dan marah pun hanya bisa dipendam seorang diri.


"Menyingkir! Dasar, Kuda Nil! Jauh-jauh kamu dari hidupku. Udah jelek, burik, bau lagi. Sudah sana! Sebaiknya kamu balik ke tempat asal kamu, sebelum aku melakukan hal yang tidak-tidak!" usir Trisa, sambil melotot.


"Ish, cantik-cantik, kok, galak, sih. Jadi makin cantik, deh," goda Udin yang sepertinya tak merasa sakit hati setelah dihina habis-habisan oleh Trisa.

__ADS_1


"Diam!" teriak Trisa. "Jangan pernah muji aku. Karena orang yang berhak itu cuma Iman. Bukan kamu yang seorang supir!"


Udin pun memajukan bibirnya. "Sakit hati aku, Mbak!" Ekspresi wajahnya seolah hampir tumbang karena telah dihina lagi, membuat Trisa melipat bibirnya untuk menahan tawa.


S14l! Bagaimana bisa ada orang aneh seperti ini di dunia! Laki, tapi, kok, ya, gak aneh bertingkah kayak gitu, batin Trisa menahan tawa.


"Ya udahlah, kalau gitu aku pergi aja. Kasihan banget, sih, aku. Pagi-pagi bukannya dikasih sarapan yang manis-manis, ini malah dikasih batu kerikil. Mana tajam banget lagi ujungnya." Udin menggerutu dengan wajah nelangsa, seperti baru saja terkena musibah setelah bertemu dengan Trisa.


Untuk terakhir kalinya, Udin menoleh dan memberikan wejangan. "Mbaknya hati-hati, yah. Soalnya di sini itu rawan!"


"Gak usah nakut-nakutin aku!" Bibir bisa mengomel, tapi batin tetap saja ingin tertawa. Ini istri di rumah kayaknya tiap hari ngebatin Mulu punya laki macam kaleng rombengan seperti dia, berisik banget.


***


"Nek, nanti Mas Asa dianterin sama umma saja, yah!"


Hassan tersenyum lebar kala menemukan si ibu sambung memberikan acungan jempol, tanda ia bersedia mengantarnya ke sekolah.


"Nenek, kan, udah tua. Kasihan harus bolak-balik nemenin Mas Asa. Jadi–"


"Tapi, nenek gak suka kalau di rumah sendirian. Di sini malah tambah capek, Sayang." Wanita paruh baya itu langsung memotong ucapan dari sang cucu. Dia menolak tinggal di rumah karena memang memiliki janji juga dengan seseorang di luar.


"Kalau gitu, biar nenek saja, Mas. Lagipula kerjaan umma juga belums elesai semua. Jadi, diantar umma besok lagi, yah, Sayang!" bujuk Fatimah.


Hassan merasa kecewa. Akan tetapi, dia juga tidak bisa membuat neneknya merasa sendirian. Wajah kusut itu lalu memandang ibu sambungnya dengan perasaan bersalah dan juga bingung. "Umma gak apa-apa di rumah sendirian?"


Fatimah mengangguk setuju, sembari mengusap kepala Hassan dengan penuh perhatian. "Tak apa, Sayang. Mas Asa sama nenek berangkat aja ke sekolah. Lagian, di rumah umma juga ditemani oleh adek kamu. Jadi, gak bosen, deh, di rumah."


"Enak adek gak sekolah." Hassan berkata seolah cemburu karena merasa adiknya beruntung tidak harus merasakan pening saat belajar, sedangkan Khumaira hanya rebahan, sambil ngoceh-ngoceh tidak jelas.

__ADS_1


Fatimah terkikik. Dia lalu melihat ke arah di mana Kepergian sang mertua setelah mendorong kursi cukup keras. Hela napas berat terembus dari rongga hidung mancungnya. Sepertinya ibu masih marah denganku. Lalu, aku harus melakukan apa, agar beliau mau kembali bersikap peduli lagi padaku?


"Umma … umma, kok, malah ngeliatin nenek terus, sih. Itu, adik nangis, loh!" Beritahu Hassan ketika mendengar Khumaira menangis di stroller.


"Eh, kenapa, Mas Asa?" tanya Fatimah bingung.


Hassan cemberut karena ibu sambungnya ternyata tidak mendengarkan apa yang dia ucapkan. "Umma lagi kelelahan, yah?"


Fatimah menggeleng. Wanita itu belum sadar sepenuhnya akan keadaan sekitar. Pikirannya bercabang sehingga tanpa sadar mengacuhkan raungan dari Khumaira yang meminta diangkat.


Hassan lalu menggenggam tangan Fatimah, lalu dia meminta ibu sambungnya untuk berjongkok. Diiringi suara tangisan Khumaira, sang kakak memeluk ibu mereka. Menepuk punggung yang lebih lebar dari miliknya dengan ritme pelan.


Kelopak mata itu berkedip beberapa kali saat menerima sebuah pelukan hangat, serta usapan lembut di belakang punggungnya. Nyaman, seolah apa yang tengah dilakukan oleh anak kecil itu mampu masuk ke relung hati yang tengah semrawut, seperti benang kusut.


"Umma selalu melakukan ini kepada Mas Asa ketika sedang marah, atau bersedih. Mas Asa gak tahu apa yang sedang dirasakan oleh umma, tetapi harapan terbesarku sekarang adalah senyum umma kembali hadir di sini!"


Deg


Jantung Fatimah serasa ditikam oleh sebuah pedang tak kasat mata, tepat di bagian tengah. Setiap untaian kata yang terlontar dari bibir manis sang buah hati membuat ia sadar jika bibir ini jarang sekali mengulas senyum.


"Maafkan umma, Nak. Maaf atas semua kesalahanku. Maaf, jika selama beberapa hari ini banyak mengacuhkanmu." Fatimah balas memeluk tubuh kecil Hassan dan mengusapnya dengan penuh kasih sayang. Air mata sudah menetes, membanjiri wajahnya yang cantik.


Hassan yang memang mempunyai perasaan yang lembut pun tak bisa untuk tidak menangis. Dia sedih melihat ibu sambungnya seperti orang linglung di rumah merek. Sedikit tahu saja jika semua ini berawal dari sikap sang nenek.


"Umma jangan sedih, ya. Karena ada kami di sini!" bisik sang anak, sambil mengeratkan pelukannya.


"Terima kasih, Sayang." Semua beban pikiran Fatimah seolah terangkat. Benang kusut yang selama beberapa hari ini membuatnya pusing, kini mulai terurai satu demi satu. Semua ini berkat si anak sambung–Hassan Baha Baseer.


Siti yang baru saja keluar dari kamar, langsung melengos malas melihat kelakuan sang menantu yang terlalu over acting dalam menyikapi hidup.

__ADS_1


"Ternyata benar apa kata Nak Trisa, kalau Fatimah ini terlalu lebay jadi orang. Ish kenapa, sih, aku punya mantu modelan kayak dia? Iyuh, jadi pengen tuker tambah, deh!"


__ADS_2