
Banyak orang bilang, anak pasti lebih peka akan sekitar, bahkan mereka selalu jujur dalam berbicara. Apa yang ada di dalam hati, serta pikiran, ya, itu yang akan terlontar dari mulutnya. Maka dari itu, jangan salahkan Hassan jika dia menganalisa perubahan sekecil apa pun tentang sang ayah.
Kini, si orang dewasalah yang bertugas untuk memahami kericuhan yang tengah mereka buat sendiri. Aiman berjongkok di depan wajah si kecil yang tengah melengos, tak mau melihat pria tersebut. Anak berusia 7 tahun tersebut mungkin sedang mellow, atau bahkan cemburu dengan kehadiran adik cantiknya–Khumaira.
"Mas Asa," panggil si bapak anak dua itu dengan lembut. Tangannya ia genggam penuh sayang, lalu diletakkan di atas paha si sulung. Mata Itu menatap teduh penuh akan ketakutan. "Maafkan Abi jika beberapa waktu ini kurang dalam memperhatikanmu. Tapi, Abi tak pernah pilih kasih dalam menyayangi kalian."
Ada rasa sesak di dalam dada ketika melihat sang anak masih saja tidak mau melihat ke arahnya. Aiman tidak tahu jika kesibukannya sudah membuat Hassan menjadi merasa diabaikan, padahal tak ada maksud sama sekali untuk melakukan hal itu.
Setitik kristal bening itu jatuh membasahi pipi sang ayah. Namun, dengan cepat ia hapus agar anaknya tidak melihatnya. Senyum tegar pria itu ulas agar si buah hati tidak merasa bersalah.
Selama hampir lima belas menit, Aiman terus mengoceh, mengajak berbicara, bahkan selalu mengatakan hal yang ordinary dari hari biasanya. Dia bahkan sempat menjadi badut hanya untuk membuat senyum, serta tawa sang buah hati muncul.
Namun, Hassan tetap bergeming. Mengacuhkan wajah memelas sang ayah.
Aiman yang merasa sang buah hati butuh waktu pun undur diri. Akan tetapi, sebuah tarikan di ujung baju membuat langkah kaki pria itu diurungkan. Wajahnya menoleh untuk melihat si pelaku dan ternyata dia adalah Hassan.
“Ada apa, Nak? Apa kamu butuh sesuatu?”
“Abi,” jeda Hassan, sambil mencari keberanian untuk angkat bicara.
Aiman sendiri hanya menunggu.
Si kecil terlihat begitu kebingungan. Dia bahkan tak berani menatap ayahnya yang masih menunggu dengan sabar. Bibirnya hendak mengucapkan kata-kata, tetapi menutup kembali. “Abi marah dengan Mas Asa?” tanyanya dengan mata berkaca-kaca.
Aiman langsung berjongkok kembali dan membawa tubuh si sulung ke dalam rengkuhannya. Dia mengucapkan kata maaf, bahkan memberikan kecupan bertubi-tubi di puncak kepala Hassan.
“Abi gak marah sama sekali dengan Mas Asa. Justru abi yang seharusnya minta maaf karena belum bisa jadi sosok ayah yang baik untukmu, Nak. Tolong maafkan abi, Sayang!” Aiman terus saja menghujami sang anak dengan banyak permintaan maaf, serta kasih sayang yang tulus.
__ADS_1
Dia tidak mau ada kesalahpahaman di antara mereka. “Kita ini satu keluarga, Sayang. Jangan pernah merasa diduakan, apalagi cemburu dengan saudaramu sendiri. Mungkin, jika umma, serta abi sedikit menaruh perhatian kepada Maira, itu dikarenakan adikmu itu sedang banyak perhatian,” jedanya, sambil mengusap rambut Hassan.
“Tapi, percayalah, Itu semua dilakukan karena masa pertumbuhan yang sedang dialami oleh Maira memang sedang butuh banyak perhatian dari kita semua, termasuk Mas Asa juga. Mas Asa sebagai akaka yang baik juga harus menemani adik, serta merawatnya.”
“Jadi, Mas Asa mau, kan, memaafkan abi?” Jari kelingking Aiman kini disodorkan di depan anaknya. Pria tersebut juga sudah memberikan penjelasan semudah mungkin agar anak kelas 1 SD itu mengerti dan memahami.
Hassan yang memang sangat menyayangi Khumaira pun mengangguk. Dia lagi mengaitkan jari kelingkingnya dengan milik sang ayah. Dua lelaki tampan, beda generasi itu kini saling menatap, saling melempar senyum, hingga berpelukan bersama.
Sementara itu, di luar kini sudah menanti Fatimah dan juga Khumaira. Si bayi kini sedang sibuk menonton televisi di atas pangkuan ibunya, sambil tetap menyuapkan makanan pendamping ke dalam mulut mungilnya.
“Umma!” seru Hassan yang kini sudah berada di dalam gendongan Aiman.
Wanita itu pun tersenyum lebar, lalu menerima pelukan hangat, serta kecupan di pipi dari si sulung. Raut lega setelah melihat ayah dan anak itu sudah berbaikan pun tak bisa ditutupi. “Apa kalian sudah lapar?” tanyanya mencari topik lain.
“Ehm. Perut Mas Asa sudah demo sedari tadi, Umma.” Kini rengekan itu pun kembali terdengar di rumah keluarga Baseer. Fatimah, Aiman, serta Maira pun ikut meramaikan suasana tersebut dengan makan bersama.
“Wangi sekali, Sayangku. Apa kau berniat menggodaku, hm?” Aiman mengedipkan satu kelopak matanya ke hadapan sang istri. Namun, pria itu harus kecewa karena Fatimah hanya membalasnya dengan kibasan rambut basahnya.
“Ckckck, istri macam apa yang selalu menggoda suaminya di saat sedang datang bulan?” Kalimat penuh sindiran itu terus terlontar dari bibir suami yang merasa bagaikan di neraka karena tidak bisa menyentuh istri tercinta.
“Gak usah lebay, deh, Bi. Lagian, emang gak bisa apa lelaki itu menahan hasratnya selama satu minggu saja?” Fatimah mulai meladeni sikap sang suami yang mulai merajuk, atau malah minta gelut? Akan tetapi, yang kedua sepertinya lebih masuk akal.
“Siapa yang lebay? Kami ini para lelaki, kan, hanya ingin istrinya tahu jika kami ini tengah merasakan panas dingin karena berpuasa tidak menyentuh istrinya,” elak Aiman masih tetap mempertahankan tatapan matanya ke arah punggung si istri.
“Mas? Kok, aku gak yakin, yah?” Kini, Fatimah dengan sengaja menatap wajah sang suami. Satu kaki jenjang si istri mulai diangkat hingga kini duduknya bagaikan bak wanita angkuh, tetapi tetap mempesona dengan rambut basah, serta aroma vanilanya.
Aiman mengetatkan rahangnya kedal, kemudian melengos ke arah lain untuk menghindari wajah memukau Fatimah. Wanita itu begitu tahu kelemahan sang suami sehingga membuat pria tersebut memilih mengalah daripada harus merasakan sakit di bawah sana karena harus menahan diri.
__ADS_1
“Yuhuuu, Abi. Where are you?” Dengan sengaja, Fatimah berjalan mendekati ranjang. Kakinya yang kini sudah berada di atas kasur pun ditarik lebih dekat ke arah buntelan selimut di mana di bawah sana ada Aiman.
Kini, tubuh si istri pun sudah berada di atas tubuh sang suami yang tidak mau keluar dari selimut tebalnya. Fatimah sendiri berusaha semaksimal mungkin untuk menyingkirkan benda tersebut, tetapi Aiman justru terus bertahan.
“Menyingkir kau setan licik!”
“No. Aku akan selalu datang ketika dirimu tengah lengah, Sayang,” jawab Fatimah, sambil terkikik geli.
“Kau memang paling bisa membuatku frustasi, Sayang. Tapi, please! Aku mohon untuk membiarkan satu minggu menyebalkan dan penuh siksaan ini berjalan tanpa godaanmu, Ummaya!” pinta Aiman memelas dari dalam selimut.
“Aih, tapi aku gak bisa, Abi,” tolak Fatimah yang begitu random.
Mendengar jawaban sang istri pun membuat selimut yang sedari tadi menahan mereka untuk saling menatap pun, akhirnya terbuka. Dengan wajah cemberut, Aiman langsung membalikkan situasi dengan mengukung tubuh si istri di bawahnya.
“Why? Apa aku begitu cantik, hm?” tanya Fatimah, lalu mengedipkan satu matanya di depan wajah sang suami.
“Kamu itu tahu, Sayangku. Jika diri ini begitu lemah akan kecantikanmu, tetapi kenapa selalu saja kau mengusikku ketika dirimu datang bulan, hm? Tak tahukah engkau wahai istri tercintaku, kalau itu sama saja tengah menyiksaku?”
Fatimah terkekeh geli. “Entah kenapa, jika diriku tengah kedatangan tamu, justru begitu bersemangat menggodamu, Bi. Entahlah. Ini terjadi hanya padaku, atau memang di luaran sana ada yang sepertiku? Aih, pokoknya abi itu gak boleh protes!”
Aiman mendengkus, lalu dengan pelan jarinya menyentil dahi si istri. “Sesuka kamu ajalah, Sayang. Abi gak bisa melarangmu. Pasrah aku!” balas pria itu tak bisa menawar lagi.
Tubuhnya pun menyingkir dari atas sang istri, lalu berganti memeluk bantal hidupnya.
“Nanti dulu apa, Bi! Aku belum membereskan handukku.”
“Gak peduli. Pokoknya aku mau peluk kamu sampai pagi. Tak ada penolakan!”
__ADS_1
“Ini, sih, senjata makan tuan. Rasakno, Fat-Fat!” ujarnya lirih dengan nelangsa saat dirinya tak bisa berkutik di dalam pelukan sang suami.