Istri Untuk Iman

Istri Untuk Iman
Bab 79


__ADS_3

Aiman memandang hamparan hijau di depannya dengan pandangan bertanya. Suara air terjun mengiringi setiap langkah menuju pohon besar yang begitu rindang, serta lebat memayungi kursi terbuat dari kayu. Di bawah pohon tersebut ada sosok wanita bergaun putih dan bersinar tengah duduk diam, sembari memunggungi.


“Siapa dia? Dan kenapa aku bisa ada di sini? Di mana istri, serta anak-anakku? Fatimah, Mas Asa, Maira!” teriaknya frustasi.


Kedua maniknya mengitari sekitar sekali lagi. Mencoba mengingat akan keberadaannya sekarang. Namun, ia yakin di penjuru dunia pun tidak ada tempat seindah ini. Lantas, sedang di mana ia sekarang? Atau, apakah ini yang dinamakan surga?


“Berarti, aku sudah mati?” Langkahnya suda berada cukup dekat dengan sosok yang memunggunginya. “Benarkah aku sudah mati beneran? Ah, ini tidak mungkin. Aku pasti sedang ada di alam mimpi,” racaunya mulai ketakutan.


“Abi.”


Telinga itu langsung mengenali suara siapa yang tengah memanggilnya. Matanya mengedar untuk mencari di mana wanita yang diketahui bernama Fatimah berada. Aiman mulai menggigil ketakutan saat semua terlihat begitu aneh di depan matanya.


“Ummaya! Kamu di mana? Abi di sini, Umma.” Suara bergetar Aiman menunjukkan jika dirinya ini memang tengah menggalau karena tidak menemukan keberadaan sang istri. “Tolong bawa aku pergi dari tempat ini, Sayang! Aku takut, aku gak mau sendirian di sini.”


Lagi suara wanita itu kembali masuk gendang telinga Aiman sehingga membuat kernyitan di dahi muncul saat mendengarnya. Wajah itu semakin dibuat frustasi kala mendengar suara tangisan Fatimah, wanita yang kini sudah bertakhta di hatinya.


“Ummaya, jangan menangis, Sayang! Kau membuatku seperti menjadi lelaki paling b3r3ngs3k di dunia ini. Tenanglah, Umma! Aku akan mencari cara untuk keluar dari sini. Kamu sabar, ya, Sayang. Semua pasti akan berlalu dengan baik-baik saja!”


Entah itu ucapan untuk siapa. Apakah Aiman mengucapkan untuk sang istri, atau buat dirinya sendiri yang tengah kalut juga?


Sementara itu, sosok yang sedari tadi tengah duduk memunggungi Aiman. Kini mulai membalikkan tubuh bersinarnya. Paras cantik, sorot mata teduh, dan juga senyum indahnya membuat sinar yang tengah mengitari semakin berkilau terang.

__ADS_1


Aiman langsung menutup mata dengan satu lengan saat ada sinar terang mencoba menerobos masuk ke dalam retinanya. “Apa itu?” tanyanya masih belum jelas melihat sosok yang mulai berdiri, berjalan menghampirinya.


Setelah jaraknya sudah dekat, barulah Aiman mulai menurunkan lengannya untuk melihat sosok yang kini ada di depan. Sinar terang masih bertengger di sekitar tubuh, tetapi itu tak menyulitkan pria itu untuk mengenali sosok yang selama ini sudah dirindukan setiap malam.


“Ummi … benarkah itu kamu?” Aiman bertanya dengan mata membulat lebar. “Abi gak salah lihat, kan?”


Wanita yang diketahui bernama Aisyah itu tersenyum begitu indah saat sang suami mengenali dirinya. Dia pun mengangguk dalam diam kemudian menuntun mantan suami menuju kursi yang tadi baru saja dipakainya.


Perasaan takut dan ingin kembali ke Fatimah pun langsung menguap saat dirinya sudah bisa bersama dengan sang mantan istri. Semua pikiran lelaki seperti sama. Sama-sama suka nyakitin hati perempuan, egois sekali apalagi setelah bertemu dengan orang tercinta.


“Ummi, benarkah itu kamu? Kenapa aku bisa ada di sini? Apakah aku sudah meninggal?” tanya Aiman yang sudah tidak tahan lagi untuk melontarkan banyak pertanyaan di dalam pikirannya.


“Kembali ke mana, Ummi? Apakah kamu tidak ingin memelukku? Apa kamu juga tak merindukanku?” Aiman memandang sendu paras cantik dan bersinar itu dengan penuh merindu.


Senyum melengkung indah di bibir wanita tersebut. “Tentu aku sangat rindu kepada kalian, Bi. Tetapi, ada seseorang yang lebih membutuhkanmu sekarang, Bi, dan orang itu bukanlah aku, melainkan sosok ibu dari anak-anakmu.”


Aiman menggeleng sedih. “Kamu juga ibu dari anakku, Sayang. Tak bisakah kita tinggal di sini saja?”


Wanita itu menggeleng. “Abi, alam kita itu sudah berbeda. Jadi, kembalilah sebelum kamu menyesal nanti!”


“Tapi, aku juga sangat mencintaimu, Ummi!” Aiman berusaha mengungkapkan perasaan yang sudah lama sekali tak dilontarkan oleh pria itu kepada sosok istrinya dulu.

__ADS_1


“Iya, kau tahu. Tapi, kita sudah tidak mungkin bersama lagi. Kini, orang yang harusnya kamu cintai adalah Fatimah, Bi. Dia lebih berhak memilikimu seutuhnya, bukan aku! Pergilah, Mas! Kamu harus berada di sisi anak dan istrimu sekarang. Mereka lebih membutuhkanmu!” ujar Aisyah dengan senyum tulus.


Aiman menggeleng sedih. “Tapi, aku masih merindukanmu, Ummi!”


“Pulanglah, Bi! Aku akan mengantarkanmu ke pintu yang seharusnya kamu berada, bukan di sini!”


Aiman pun hanya bisa menunduk sedih saat mantan istrinya itu justru membawanya pergi. Di satu sisi, ia ingin bersama dengan Aisyah. Akan tetapi, di sisi lain ada keluarga juga yang tengah menunggunya. Pria itu pun kini juga sering mendengar suara Fatimah lebih jelas.


“Apa kamu mendengarnya, Bi? Dialah sosok yang seharusnya kamu jaga dan lindungi. Jangan pernah kau sakiti dia! Apalagi karena wanita lain!” tutur Aisyah sedih.


Aiman pun mengangguk. “Maafkan aku, Ummi.”


“Minta maaflah kepada istrimu, Bi. Dia yang berhak menerima semua ketulusanmu, bukan aku. Berbahagialah kalian di sana, aku akan memantau kalain dari atas sini!”


Aiman mengangguk minta maaf, lalu hendak menuju pintu terang itu. Namun, sebuah tangan mencegahnya. “Ada apa, Ummi?”


“Jangan pernah menyakiti hati Fatimah, Bi!” Setelah itu sosok terang itu menghilang, berganti dengan gelap yang membuat pria itu terdiam akan maksud dari ucapan Aisyah.


“Abi, aku mencintaimu!” Suara itu seolah kunci dari pintu yang sedari tadi memanggil Aiman untuk cepat kembali dari alam bawah sadarnya.


“Ummaya,” gumamnya bergetar saat dua kelopak mata itu mulai terbuka secara perlahan.

__ADS_1


__ADS_2