
"Permisi, paket!"
Suara si kurir dan bunyi bel di rumah milik keluarga Baseer menjadi alarm bagi si pemilik rumah yang tengah sarapan di ruang makan untuk berhenti sejenak.
Mereka lalu saling melihat satu sama lain, lalu si menantu lah yang akhirnya berdiri untuk membukakan pintu.
"Biar ibu aja, Fa!" Siti mencoba menahan Fatimah yang hendak meninggalkan ruang makan.
"Gak usah, Nek. Biar ummaya saja yang ambil!" cegah sang menantu dengan senyum ramahnya.
Siti sendiri hanya mengedikkan bahu dan kembali menyuapkan nasi ke dalam mulutnya.
"Abi, maaf nitip maira sebentar, ya!" izin si istri tanpa.mengurangi rasa hormat kepada sang suami.
Aiman sendiri menerima si bayi yang tengah digendong oleh si istri dengan senyum merekah lebar. Lagipula, Khumaira ini terlalu tidak mau jauh dari sang ayah. Alhasil, Aiman harus pandai-pandai meluangkan banyak waktu untuk si buah hati.
Beruntung luka di kepala sudah mulai sembuh walaupun belum total, hanya tinggal nyeri-nyeri sedikit saja.
"Siap, Ummaya. Maira aman bersama abinya!" Aiman tersenyum lebar kala si kecil tengah terkikik geli di pangkuannya.
Siti yang melihat kelakuan Aiman pun hanya menggeleng. Dia melihat ke arah sang menantu yang sudah pergi meninggalkan ruang makan dengan sedikit tidak suka. Kini, tinggal mereka. Dia, Hassan, Aiman, serta si bontot Khumaira. Seringai pun langsung terulas di salah satu sudut bibirnya.
__ADS_1
"Bi, apa kamu masih bertemu dengan Trisa?" tanya Siti sedikit penasaran. "Tiba-tiba, ibu jadi rindu ingin melihatnya."
Tangan Aiman yang sedang menggelitik tubuh Khumaira pun berhenti. Wajahnya mendongak ke atas, menatap raut ibunya yang tengah menunggu dengan pandangan aneh.
"Ibu gak salah?" tanya Aiman balik.
Siti menggeleng.
Aiman mendesah panjang. "Bu, dia itu bukan Aisyah. Dia itu hanya orang asing yang tidak ada hubungan apa pun dengan Aisyah, atau keluarga kita. Lagipula, jika Fatimah sampai mendengar ini, dia akan terluka, Bu," jelasnya.
Siti memberengut. Dia lantas meletakkan sendoknya di atas piring yang masih tersisa setengah, lalu meninggalkan ruang makan dengan kesal.
"Emang kenapa, sih? Apa salahnya aku bertanya seperti itu? Lagian, Fati juga gak berhak dong marah sama ibu. Di situ hanya menantu, bukan Ratu di sini," gerutu wanita paruh baya tersebut, sambil berjalan menuju kamarnya.
Aiman mencoba menenangkan hingga menepuk-nepuk punggung si kecil agar tangisannya mereda. Mata itu pun menatap sedih pintu kayu yang kini sudah tertutup rapat. Dia tidak mengerti kenapa sang ibu berubah seperti sekarang.
"Nenek kenapa, Bi?" Hassan yang melihat perubahan mood dari neneknya segera bertanya. Ia juga merasa, kalau beberapa hari ini wanita paruh baya tersebut sering mengucilkan ibu sambungnya.
"Nenek juga kemarin marahin umma. Padahal umma gak sengaja numpahin kecap ke lantai. Kan, umma jadi sedih," adu Hassan dengan bibir cemberut.
Hassan memang anak kecil, tetapi dia tidak bodoh untuk melihat sang nenek mulai berubah. Namun, ia memilih diam dengan perasaan kecewa.
__ADS_1
"Abi juga gak tau, Nak. Tapi, nanti Abi akan coba tanyakan kepada nenek. Jadi, Mas Asa gak usah risau seperti itu. Ok?" Aiman menghibur Hassan yang tengah murung. Dia jelas tahu jika anak pertamanya itu sangatlah dekat dengan si nenek. Maka dari itu dialah orang yang pertama kali kecewa saat melihat perubahan mood neneknya.
Hassan pun mengangguk mengerti. Dia memilih mengaduk-aduk sisa makanan yang ada di atas piring. Nafsu makan pun telah hilang bersama dengan kepergian Nenek Siti. Wanita paruh baya yang sudah dianggap sebagai pengganti ibu setelah kepulangan Aisyah ke pangkuan Sang Khaliq.
Sementara itu, tanpa disangka-sangka Fatimah ternyata mendengar obrolan ringan dari anak dan ibu, serta si cucu. Dia meremas daster panjangnya dengan perasaan berkecamuk.
Belum hilang rasa terkejut saat membuka isi paket yang ternyata berisi bangkai ayam dengan banyak darah berlumuran, sekarang timbul masalah baru lagi.
Fatimah juga tidak bodoh untuk merasakan perubahan ibu mertuanya dan semua itu terjadi semenjak kedatangan si wanita mirip almarhum istri pertama Aiman–suaminya. Siti berubah walau tidak banyak, tetapi itu jelas terasa dan mengena di dalam hati.
"Tuhan, tolong hambamu ini! Jauhkanlah keluargaku dari orang-orang yang berniat menghancurkan keharmonisan keluarga ini! Jangan sampai hubungan ini retak hanya karena ada pihak ketiga yang tidak suka dengan kebahagiaan kami!" Mohonnya, sambil mengusap kristal bening dengan jilbab bagian bawahnya.
**
"Bagaimana? Apa kamu sudah mengirimkan paket itu?"
"Beres, Bu!" jawab pria berpakaian serba hitam itu dengan senyum menyeringai.
"Bagus. Kalau begitu, jangan biarkan hidup si wanita itu tenang sehari saja!" ucap wanita itu dengan pongah.
Bibir yang tengah disumpal dengan satu batang rokok itu menyungging penuh kemenangan, lalu ia pun meniupkan asapnya ke udara.
__ADS_1
"Rasakan kamu, Fatimah. Ini yang akan kamu dapatkan jika tak mendengarkanku untuk meninggalkan Iman!" ucapnya dengan seringai penuh misterius.