Istri Untuk Iman

Istri Untuk Iman
Bab 42


__ADS_3

"Bisa tolong mundur sedikit, Mas!"


"Gak mau. Aku masih pengin kayak gini."


Allahu Akbar. Sebenarnya suamiku ini kemasukan setan apa, sih? Sumpah, aku tuh gak ngerti sama perubahan mood dia yang sebentar baik, mesra, terus bentar lagi diemin aku. Oh, Ya Allah. Tolong biarkan aku mengerti akan dirinya ini!


Fatimah tersenyum kaku saat sang suami masih saja bersikap manja pada dirinya. Ini sudah lebih dari 4 jam Aiman selalu mengikuti setiap aktivitas yang dilakukan oleh si istri. Bukan jengah, melainkan lelah hati Eneng, Bang.


"Abi." Kali ini Fatimah mulai merengek hingga tanpa sadar suara yang dikeluarkan terdengar begitu menyeramkan bagi wanita itu sendiri.


Itu beneran suaraku? Oh, ya ampun. Aku harap Mas Iman gak enek dengernya! Harapan itu hanya diucapkan di dalam hati. Tidak berani wanita itu mengatakannya langsung.


"Iya, Ummaya," balas Aiman dengan senyum begitu lebar. Pria itu masih betah bermanja-manja ria kepada sang istri, bahkan semakin menenggelamkan wajahnya ke ceruk leher wanita tersebut.


Tangan pria itu bahkan tak membiarkan genggaman tangan mereka terlepas. Dengan dagu yang diletakkan di atas bahu sang wanita. Pria itu begitu leluasa saat beberapa kali mengendus leher jenjang istrinya yang putih mulus, atau mencium pipi halus nan lembut milik Fatimah.


"Aku ingin ke toilet, Abi. Bolehkah aku pergi?" Wajah wanita itu sudah memelas, dia tak berani menoleh ke belakang. Karena jelas bisa ditebak, kalau nanti akan seperti apa kejadian selanjutnya, jika Fatimah bersikeras menoleh.


Oh, memikirkan saja sudah membuat jantungku ini seperti habis maraton. Hei, diamlah! Jangan membuatku malu! sungutnya dalam hati ketika diafragma di dalam tubuh seperti hendak keluar dari tempatnya.


"Ya, udah, yuk! Sini, biar Abi antar!" Pria itu begitu enteng berkata ingin mengantar istrinya sampai toilet. Dia lupa, jika Fatimah ini masihlah beradaptasi dengan perubahan tingkah laku dan sifat Aiman Baha Baseer.


"Abi!" Wanita itu tanpa sadar menaikkan nada suaranya. Namun, dalam sekejap dia menyesal. "Maaf, Bi. Tadi keceplosan," lanjutnya dengan penuh penyesalan.


Aiman sendiri justru terkikik geli. Tangannya dengan cepat menarik wajah wanita di depannya yang tengah menunduk bersalah. Diangkatnya dagu itu hingga kini wajah mereka pun saling berhadapan.

__ADS_1


"Jangan minta maaf untuk hal yang memang tak seharusnya dimaafkan," ujarnya tersenyum lebar, sambil menelusuri wajah lembut istri dengan jari telunjuknya.


Tatapan yang beberapa hari lalu terlihat enggan untuk menatap wajah si istri, kini sudah kembali penuh kagum. Aiman bahkan sengaja menelpon ibunya untuk mengajak Hassan pergi ke rumah si mantan ibu mertua supaya dirinya bisa punya waktu berdua dengan Fatimah.


Siti jelas tahu itu hanya alasan Aiman untuk bisa berduaan dengan si menantu. Namun, dia tidak keberatan melakukannya, asal dia cepat mendapatkan kabar baik dari si pengantin baru.


"Jadi, aku bolehkan ke toilet?" tanya Fatimah sekali lagi. Tatapannya begitu menyiratkan harapan dan permohonan.


Aiman mengusap puncak kepala istrinya. Surai si istri begitu lembut hingga membuat tangan pria itu tak bosan memainkannya. "Baiklah," ujarnya mengalah, "tapi, jangan lama-lama!" lanjutnya dengan manja.


"Astaga, Abi. Aku, kan, ke toilet juga mau buang air kecil, bukan mau berperang." Bibir itu mengerucut lucu kala melihat suaminya yang cukup lebay.


"Jangan pergi kalau begitu! Biar aku saja yang berper–"


Pria itu pun cengengesan kala melihat wajah istri yang mulai bosan dengan ucapannya. Tangannya diangkat, sambil mengangkat jari telunjuk dan jari tengah secara bersamaan. "Damai!"


Fatimah kemudian tersenyum manis. Dia tidak tahu jika sang suami begitu lucu kala tengah ketakutan. Wanita itu pun mengusap rahang tegas milik Aiman, sambil melengkungkan bibir. "Bercanda, Abi. Kalau begitu, umma ke toilet, ya. Bentar doang, kok," bujuknya.


Aiman mengangguk patuh, layaknya kucing yang ditinggalkan majikan pergi ke kantor, atau hangout bersama teman. Pria itu justru tersenyum-senyum seorang diri di atas ranjang menunggu si istri, sembari memikirkan kelakuan dia yang begitu manja kepada istri hari ini.


"Maafkan aku, Ais. Aku harap, kamu bisa mengerti diriku. Aku tidak boleh egois memikirkan hatiku sendiri. Karena ada dua orang juga yang sudah begitu nyaman dengan keberadaan Fatimah di sini, termasuk aku," ujarnya sendu saat melihat langit-langit kamar seolah di atas sana ada sosok almarhum Aisyah.


Dia berbaring di atas ranjang, sembari menunggu sang istri yang tengah ke toilet. Aiman sudah memutuskan untuk hidup di masa kini, bukan terjerat di dalam masa lalu. Namun, cinta untuk Aisyah akan selalu ada di dalam hatinya. Selalu.


Hanya saja kali ini Aiman ingin memberikan kesempatan bagi Fatimah untuk masuk ke dalam hidupnya. Wanita itu berhak bahagia dan pria tersebut tidak mau menjadi salah satu penyebab kesengsaraan dari sang istri.

__ADS_1


"Abi mau makan gak? Biar aku ambilkan." Fatimah yang baru selesai menunaikan urusannya seger bertanya kepada sang suami. Tungkai wanita itu dibiarkan berjalan mendekat ke arah ranjang di mana pria itu sudah tersenyum manis menyambutnya.


"Kemarilah! Aku belum puas memelukmu, Ummaya," pinta Aiman, sambil menepuk ranjang kosong di samping kirinya.


Wanita itu pun dengan senang hati mendekati suaminya. Dia duduk di bagian tepi ranjang. Akan tetapi, belum ada tiga detik kepala Aiman sudah lebih dulu diletakkan di atas paha Fatimah tanpa izin.


"Usap!" Pria itu merengek, sembari menarik tangan si istri untuk berada di atas kepala, mengusapnya dengan lembut.


Sore itu, Fatimah benar-benar dibuat pusing akan tingkah manja dan juga manis. Jari-jemarinya kini tengah mengusap lembut rambut pendek suami di atas kedua kakinya. Senyum pun tak pernah luruh dari bibir kala mendengar setiap untaian kata-kata manis, serta mengandung banyak gula sehingga membuat pipi si wanita merona merah.


Senja yang saat itu tengah menghiasi langit sore, kini sudah berganti dengan rembulan. Sinar terang bulan tengah mengintip malu-malu dari celah jendela kamar milik pasangan suami-istri yang tengah memadu kasih di atas ranjang. Malam bertabur bintang menjadi saksi, bagaimana buaian pria itu mampu meluluhkan hati wanita yang berada di bawahnya.


Waktu setengah hari yang diminta Aiman untuk bersama Fatimah, justru dibalas satu hari penuh oleh Siti. Hassan malam itu izin menginap bersama dengan kedua neneknya di rumah ibu dari almarhum Aisyah. Membebaskan si pengantin baru untuk melewati malam panjang tanpa ada gangguan yang datang.


"Ummaya," panggil Aiman yang kini sudah menyelimuti tubuh polos mereka dari terpaan angin dingin.


"Iya, Abi," balas Fatimah, sembari menyembunyikan wajah malu miliknya di dada bidang sang suami.


Ini adalah kegiatan malam yang ketiga kali setelah mereka menikah dan itu selalu membuat Fatimah belum terbiasa. Akan selalu ada saat di mana ia dilambungkan begitu tinggi akan untaian kata-kata manis yang dilontarakan oleh suaminya hingga kadang dirinya lupa di mana mereka tengah berpijak. Dunia nyata yang penuh akan kejutan.


"Bantu aku!"


Wanita itu mendongak untuk bisa melihat wajah suami yang ternyata sudah lebih dulu menatapnya. "Bantu apa, Abi?" tanyanya bingung.


"Bantu aku untuk mencintaimu!"

__ADS_1


__ADS_2