
"Pak Iman, mulai Senin depan Anda dan Pak Rahmat akan menemani saya ke Kalimantan. Bisa, kan?"
"Tapi, Pak. Istri saya sedang hamil. Tidak mungkin saya pergi jauh darinya. Apalagi, ini adalah bulannya dia melahirkan. Jadi, apa bisa posisi saya digantikan?" Aiman menolak dengan halus permintaan dari sang kepala sekolah.
Bukan ingin menentang, melainkan kondisi sang istri untuk saat ini memang lebih penting dari segalanya.
"Tapi, dari pihak dinas sudah memilih kamu untuk bertugas di sana, Pak Iman. Jadi, kalau kamu menolaknya itu sama saja sudah membuat nama saya jelek di depan Kepala Yayasan," balas Pak Budi sedikit tidak suka.
Budi Santoso ini adalah orang yang menjabat sebagai Kepala Sekolah di tempat Aiman mengajar. Pria yang berusia hampir setengah abad itu tidak ingin namanya tercoreng karena ada salah satu guru yang menolak penugasan dari atasan.
Sementara itu, Aiman merasa terjepit dengan situasi yang tengah dihadapinya. Pria itu memikirkan akan kondisi Fatimah yang sebentar lagi akan melahirkan. Usia kandungannya sudah memasuki minggu ke-35 dan perkiraan dari dokter sekitar dua minggu lagi calon anak mereka lahir.
"Maaf, Pak. Saya benar-benar tidak bisa," sesal Aiman.
"Apa kamu tahu konsekuensinya, Man?" Hilang sudah keformalan Pak Budi selama ini. Kini, berganti dengan sikap arogan, serta tak mau dibantah yang biasanya ditujukan untuk orang-orang seperti Aiman
"Semua poin kamu akan saya pangkas, bahkan bisa saja jabatan kamu sebagai guru di sini lenyap dalam sekejap jika kamu menolak tugas ini. Apa itu yang kamu mau?" tanyanya penuh ancaman.
Aiman menghela napas berat. Kepala ia tundukkan untuk meredam amarah yang tengah bercokol di dalam hatinya. Ada perasaan tak percaya akan tindakan yang dilakukan oleh sang kepala sekolah.
__ADS_1
Mengancam, adalah hal yang sering dilakukan oleh pengecut, apalagi ini semua demi pencitraan dari orang tersebut. Sungguh tidak beradab.
"Bukankah ada Pak Ridwan, atau Pak Tulus. Kenapa harus saya, Pak?" Aiman mengangkat kepalanya, lalu memandang wajah Pak Budi dengan berani.
"Apa karena saya tidak pernah memberikan apa pun kepada Anda? Atau, karena ini memang sudah direncanakan oleh kalian semua? Jadi, bapak bisa beralasan semua ini sudah dibuat oleh orang yayasan. Saya tidak sebodoh itu untuk dikelabui lagi oleh bapak!"
Sebuah tamparan keras tiba-tiba melayang ke pipi Aiman. Pria itu menggelengkan kepala karena cukup terkejut dengan apa yang dilakukan oleh sang kepala sekolah. Ia lalu mengepalkan kedua tangan erat saat rasa panas dan perih menjalar ke wajahnya.
"Br3ngs3k!" gumamnya menahan amarah.
Telinga Aiman bahkan berdengung saking kerasnya tangan Pak Budi menyapa wajahnya. Mata itu mengerjap, mencoba berpikir waras untuk tidak terbawa emosi.
"Jaga mulut kamu, Man! Kamu pikir aku adalah orang yang culas hingga membeda-bedakan kalian semua, gak sama sekali? Jadi, sebelum berbicara sebaiknya kamu saring dahulu. Mana yang benar dan mana yang tidak!" hardik Pak Budi dengan wajah memerah, menahan amarah.
Bukan rahasia lagi di kalangan mereka jika
Pak Budi terkenal pilih kasih dan akan menyanjung siapa pun yang mau memberikan dia banyak hadiah. Lain perlakuan juga didapatkan kepada guru seperti dirinya dan Aiman, hanya akan disuruh-suruh seperti kacung.
"Apa kamu akan membantah juga, hah?" Pak Budi langsung menatap wajah tertunduk Pak Rahmat dengan raut dingin, serta mata tajamnya.
__ADS_1
"Tidak, Pak. Saya ikut saja," jawab pak Rahmat sedikit gugup.
"Bagus." Tangan pria itu menepuk bahu Pak Rahmat dengan cukup keras. "Setidaknya kamu menunjukan di mana kualitasmu," lanjutnya penuh cemooh.
"Dan untuk kamu, Man," jedanya masih dengan mata menuding tajam. "Sebaiknya kamu ikuti teman kamu itu. Jangan jadi pembangkang! Karena kamu tahu, kan, konsekuensi apa yang akan kamu terima?"
Aiman kembali berdiri dengan tegak. Wajahnya sama sekali tak menunjukkan ekspresi apa pun dan hanya tatapan datar. Sama seperti raut yang selama ini ditujukan hanya kepada orang busuk, atau bermuka dua seperti pria tua di depannya.
"Apa kamu masih akan tetap membangkah, eoh?" Kembali tangan Pak Budi hinggap di pipi Aiman. Dia bahkan tidak segan untuk menepuknya hingga berkali-kali. Walaupun tidak keras, tetapi tetap saja ini sudah termasuk dalam penghinaan, serta tidak pantas dilakukan oleh atasan kepada bawahannya.
"Singkirkan tangan Anda dari wajah saya!" gertak Aiman dengan suara lirih, tanpa mau melihat balik wajah sang kepala sekolah.
Pria tua itu mendengkus sinis. "Apa kamu kira aku takut? Tidak, Man."
"Kalau begitu, biar saya saja yang pergi," putusnya, "tapi, bukan untuk menjadi penjilat seperti yang lain, melainkan untuk bebas dari jeratan gila yang dibuat oleh orang gila seperti Anda!"
Aiman langsung melengos pergi tanpa melihat bagaimana reaksi keras dari sang kepala sekolah. Dia menuliskan telinga saat umpatan demi umpatan keluar begitu saja dari mulut orang di belakang. Suami dari Fatimah Azzahra itu hanya ingin menjauh dari orang-orang munafik dan gila akan takhta seperti mereka.
"Maafkan aku, Sayang. Mungkin keputusanku ini akan membuat kalian terkejut. Tapi, aku hanya tidak ingin diam lagi setelah seringkali mereka injak-injak harga diri ini," gumamnya saat membayangkan istri, serta anaknya di rumah.
__ADS_1
"Tapi, aku janji akan tetap berjuang demi bisa menghidupi kalian semua. Semangat, Man! Kamu pasti bisa melalui ini semua!"
Ya, Aiman memilih melepaskan pekerjaan sebagai seorang guru daripada dirinya harus selalu diinjak-injak karena tak pernah menuruti aturan dari kepala sekolah. "Kalau bisa, aku akan menciptakan lapangan pekerjaan sendiri dan menjadi seorang bos!" tekadnya kuat.