Istri Untuk Iman

Istri Untuk Iman
Bab 22


__ADS_3

Aiman kini tengah merebahkan tubuhnya yang lelah di atas ranjang. Dia dan keluarga sudah pulang dari rumah calon istrinya–Fatimah. Mata itu masih menerawang, sembari menatap langit-langit kamarnya. Memikirkan akan kata-kata yang terucap dari bibir manis si perempuan.


"Cih."


Bibir itu tak sedikitpun melengkungkan senyum, justru wajahnya terlihat biasa-biasa saja. Pikiran mulai berkelana kembali tentang kejadian di rumah calon istrinya. Saat di mana Fatimah yang dicecar oleh sang ibu untuk dimintai pendapat tentang pernikahan impian si calon menantu.


"Apa dia pikir berumah tangga itu mudah?"


Seringai mengejek pun kini tersungging di bibirnya. Menertawakan kepolosan dari Fatimah yang begitu mendambakan sebuah pernikahan akan berjalan dengan baik dan lancar, tanpa berpikir banyak aral melintang yang siap menghadang mereka.


Pria itu memang tak berniat untuk menjelaskan, tetapi ada banyak rasa yang belum selesai tentang masalah hidupnya. Di dalam sebuah hubungan dua orang tersebut harus memiliki pondasi yang kokoh. Seperti kejujuran, saling menghormati, siap menjadi baju, atau tidak boleh membuka aib masing-masing pasangannya, kemudian cinta.


"Cinta? Apa aku masih punya rasa itu?" tanya Aiman kepada langit-langit kamarnya dengan pandangan remeh


"Sudah lebih dari lima tahun aku tak pernah merasakan, bahkan memikirkan yang namanya cinta. Semua seolah ikut dibawa pergi oleh Aisyah." Bibirnya begitu fasih dalam menyebutkan nama sang almarhum. Nama yang akan selalu dan selalu ada hingga tertanam di dasar hati yang paling dalam.


"Apakah rasa itu akan bisa hadir dalam pernikahanku nanti?" Keraguan akan masa depan membuat Aiman tak bisa memejamkan mata. Belum lagi, rasa cintanya sudah dia serahkan semua kepada Aisyah, serta Hassan.

__ADS_1


"Di saat raga ini masih mengira Aisyah masih di sini. Menemani setiap malam dalam tidurku. Menyertai setiap langkahku. Memelukku di saat aku butuh kehangatan. Lantas, apa diri ini masih pantas hidup bersama dengan dia yang sama sekali belum bisa menggetarkan hatiku?"


"Apa dia yang asing bisa masuk ke dalam rumah yang sudah aku pondasi sejak awal bersama Aisyah selama ini? Apakah memang aku harus membuka lembaran baru dengan dirinya yang sama sekali belum terlalu kukenal?"


Ketakutan akan masa depan tengah menghantui Aiman. Dia seolah takut akan tidak bisa menjadi adil dalam membagi kasih. Selama ini, Aisyahlah yang masih bertakhta di dalam hati.


Tidak akan mudah bagi Fatimah untuk bisa menyamai posisi Aisyah di dalam hidup Aiman.


"Aku," jeda Fatimah saat itu cukup lama. "Aku hanya ingin bisa dicintai oleh suamiku karena Allah. Seperti halnya kisah cinta Ali bin Abi Thalib, sahabat Nabi Muhammad SAW yang begitu mencintai Fatimah binti Muhammad. Walau hidup dalam rumah kecil dan sederhana, tetapi mereka selalu bahagia karena saling mencintai, saling jujur, dan saling mendukung satu sama lain."


Aiman jelas tahu kisah cinta sahabat Nabi Muhammad SAW. Dia dan Aisyah seringkali membaca kisah-kisah mereka, salah satunya kisah Ali bin Abi Thalib dan Fatimah binti Muhammad. Dia sahabat Nabi yang selalu membukakan pintu rumahnya untuk fakir dan miskin datang untuk meminta bantuan, serta masih banyak lainnya yang selalu menginspirasi umat muslim di dunia.


"Ah, aku jadi merindukan istriku. Aisyah apa aku boleh membagi cinta ini? Apa kamu tidak akan cemburu karena berbagi cinta dan kasih dengan Fatimah?" Aiman bertanya dengan perasaan bimbang dan ragu.


Di satu sisi, dia ingin membuat Hassan benar-benar merasakan kasih sayang seorang ibu. Namun, di lain sisi Aiman juga masih belum bisa untuk membuka hati untuk wanita lain.


"Man, apa kamu sudah tidur?"

__ADS_1


Aiman yang tengah menatap langit kamar tiba-tiba dikejutkan suara ibunya. Dia bergegas bangun dari rebahan, lalu berjalan menuju pintu kamarnya. Pria tersebut tersenyum kecil saat mendapati Siti yang masih mengenakan jilbabnya tadi.


"Ibu belum ganti baju?"


Siti menggeleng. "Belum," jawabnya lembut. "Oh iya, ada tamu di depan."


Aiman mengerutkan kening saat melihat wajah sang ibu terlihat ragu. "Memang siapa, Bu?"


"Itu, lelaki yang tadi, Man," jawabnya tersenyum kaku.


Aiman bertanya-tanya di dalam hati akan niatan Dhani bertamu semalam ini. "Baiklah, Iman akan menemui dia dulu. Titip Mas Asa, Bu." Setelah itu, kakinya pun melangkah ke ruang tamu yang jaraknya tidak begitu jauh dari ruang kamar.


"Maaf, apa Anda mencari saya?" tanya Aiman kepada Dhani yang cukup kusut.


...****************...


Jangan lupa mampir juga kek karya yang satu ini!

__ADS_1



__ADS_2