
Ada bunyi retak, tapi bukan tanah, ataupun barang pecah belah, melainkan hati. Hati milik seorang Aiman baru saja dipukul telak oleh ucapan penuh pilu dari sosok istri yang sudah hampir dua tahun menemaninya.
Maniknya menatap wanita yang masih saja menunduk dengan bahu bergetar. Tangan pria itu hendak menyentuh, tetapi kembali ditarik. Ia melengos dan berjalan menuju pintu keluar kamar. Namun, sebelum pergi, Aiman menoleh, tetapi Fatimah ternyata tidak mencegahnya.
Ragu kaki itu untuk melangkah pergi. Tidak yakin untuk maju memeluk tubuhnya. Jiwa dan raga Aiman seolah sedang dirundung pilu. Terseok akan memilih untuk tetap bertahan di kamar, atau menuruti keinginan sang istri.
“Aku harap kamu tidak membutuhkan waktu yang lama, Sayang. Aku akan menunggumu dengan sabar,” ucap Aiman penuh harap, lalu setelah itu pergi dari kamar mereka.
Bersamaan dengan pintu tertutup saat itu pula, tangisan yangs edari tadi ditahan lansgung membludak keluar. Merembes tanpa bisa dibendung. Meraung, sambil memukul dadanya yang terasa sesak.
Fatimah tidak peduli orang rumah akan mendengarnya. Karena yang ia butuh sekarang hanyalah menangis, meluapkan rasa sesak yang bercokol selama beberapa bulan ini di dalam hati.
Lelah dan letih wanita itu rasakan setiap hari karena memakan omongan sang mertua yang tidak pernah bosan selalu membanding-bandingkan dirinya dengan wanita lain.
Ingin pergi, tetapi ia masih sangat mencintai keluarga barunya. Melepas juga bukan pilihan terbaik dalam permasalahan ini, apalagi jika harus menyerah … itu semakin tidak masuk akal dalam kisahnya.
“Tuhan, jika memang ini adalah takdirku … tolong kuatkan aku! Beri aku kesabaran dan juga keikhlasan dalam menghadapi ini semua. Tetapi, jika dia memang hanyalah pengganggu dalam hubungan kami, tolong jauhkanlah sejauh-jauhnya dari keluargaku!” pinta Fatimah dengan mata berlinang.
Sementara itu, Siti yang melihat Aiman tengah berdiri di depan pintu kamarnya, memilih mengabaikan dan tetap pergi. Rasa belas kasihnya terhadap sang menantu sudah tidak ada. Termakan habis oleh bujuk rayu wanita yang mirip dengan almarhum menantu pertamanya.
“Emang aku peduli. Cih, suruh siapa jadi perempuan gak berguna.” Siti mencibir keburukan menantunya seolah Fatimah ini adalah wanita yang tidak pantas untuk masuk ke dalam keluarga Baseer.
“Mending Trisa ke mana-mana,” imbuhnya dan mengambil tas tangan bermerk yang dibelikan oleh wanita itu.
__ADS_1
Janji temu dengan Trisa membuat Siti mengabaikan panggilan dari Hassan di taman belakang. Wanita paruh baya yang mengenakan setelah berbahan dasar katun itu terlihat begitu modis, dengan pashmina modern yang semakin memperlihatkan jiwa mudanya.
Tentu hal ini adalah pengaruh dari seseorang. Trisa ikut andil memberikan apa pun yang diinginkan oleh para kaum hawa. Uang, belanja ini dan itu, nyalon di tempat yang ekslusif, manicure and pedicure, serta perawatan tubuh lainnya.
Kini, Trisa sendiri telah menunggu kedatangan sang calon ibu mertuanya di sebuah cafe dekat dengan kantornya. Wanita itu sendiri sudah berpenampilan muslimah seperti saat ia akan bertemu dengan Siti, serta Aiman.
Kebohongannya tidak boleh gagal, apalagi terendus oleh mereka semua. Sekarang yang harus ia lakukan adalah mendekati induknya terlebih dahulu, nanti setelah itu barulah ia mendekati si buruan. Licik sekali nona sati ini.
“Maaf, ya, Nak. pasti udah nunggu lama, ya?” Siti langsung meminta maaf ketika dirinya telah tiba di tempat janjiannya dengan Trisa.
“Aih, Tante, gak usah sungkan begitu.” Wanita itu berperilaku layaknya seorang wanita yang lemah lembut dan sabar di depan sang calon mertua. “Lagian aku juga baru sampai, kok, Tan.”
Kalau gak inget ini orang adalah calon mertua, udah aku tendang itu orang tua! umpatnya dalam hati.
“Tuh, kan. Kamu itu baik banget, sih, Sayang. Gak kayak menantu tante yang lebay itu,” cibir Siti saat mengingat bagaimana tangisannya tadi ketikan di rumah. Itu sangat menjengkelkan dan membuat telingaku sakit saja, lanjutnya dalam hati.
Trisa tidak mungkin menyiakan kesempatan untuk memakan pancingan omongan dari si calon mertua. Dia bahkan berakting terkejut dna ikut prihatin mendengar kabar tersebut. “Mungkin dia hanya sedang lelah kali, Tan,” ujarnya seolah peduli.
Siri mengibaskan tangannya tidak setuju. “Mana ada capek. Orang di kerjaannya cuma nemenin anaknya doang, kok. Bagian nyuci piring, udah tante yang kerjakan. Nyuci baju kan udah ada mesin cuci. Jadi, lelah dari mananya,” adunya penuh cibiran.
Satu sudut bibir wanita itu terangkat ke atas saat melihat si calon mertuanya terlihat begitu julid terhadap menantunya sendiri. Tidak salah memang ia berkorban hingga harus kegerahan memakai baju seperti ini, apalagi setelah tahu hasil yang didapatkan.
Semakin dekatlah tujuannya untuk mendepak si istri Aiman dari keluarga Baseer, lalu dirinya akan datang di saat yang tepat untuk mengisi kekosongan dari istri seorang Aiman Baha Baseer.
__ADS_1
“Tapi, kan,ngurus anak juga capek, Bu,” ucap Trisa sok tahu.
“Ckckck, capek dari mananya? Orang kerjaan dia aja cuma tiduran, nyusuin si Maira, sama jemurin baju doang. Cih, anak kecil juga bakalan bisa ngelakuin itu semua." Siti menceritakan kejelekan Fatimah di depan Trisa. Wanita paruh baya itu terlihat sudah muak dengan kelakuan si menantu. Ingin rasa dia menendangnya dan menggantikan dengan perempuan baik-baik di depannya.
Masya Allah. Aku sampai ngiler punya mantu kayak dia. Itu adalah isi hati dari Aiman.
“Aih, si Tante ini. Mana ada anak kecil bisa nyusuin anak.” Trisa berkelakar sehingga membuat tawa mereka berdua terdengar di pojok cafe yang tengah mereka datangi.
“Astaga, Tante lupa,” kikiknya geli sendiri. Saking kesalnya ketika menceritakan si menantu yang gak berguna itu, Siti sampai salah ucap.
“Mas Iman bagaimana kabarnya, Tan?” Oke, mari kita mulai mengorek-ngorek tentang Pangeran Tampanku. Blenek aku dengerin curahan hatinya tentang si mantu-mantu itu, lanjutnya tersenyum kecut.
Siti lansgung menyeruput teh manis hangatnya dengan penuh khidmat. Setelah itu, barulah ia mendongak menatap wanita cantik yang begitu mirip Aisyah–mantan menantu pertamanya.
“Ya, dia masih seperti lelaki bodoh yang diperbudak oleh wanita tak berguna itu. Tadi, saja sebelum tante ke sini, ia udah kayak orang dungu yang menunggui istrinya.” Mata itu berotasi bosan setelah mengingat kejadian tadi. “Muak aku sebenarnya sama si Fati itu.”
“Maksudnya, Tan?” tanya Trisa bingung.
“Mereka sepertinya tengah bertengkar,” ujar Siti sedikit tidak yakin. “Karena selama ini, anak tante itu tidak pernah memasang raut seperti orang yang akan ditinggal minggat sama emaknya.”
“Jadi, mereka lagi berantem, Tante?” Trisa kembali bertanya dan kali ini dengan buncahan kebahagian yang tengah merasuk ke dalam dada.
"Heem. Buat apa Tante bohong sama kamu, Nak. Gak ada gunanya juga," jawab Siti dengan yakin.
__ADS_1
Yes! Apakah ini adalah waktu yang tepat untukku datang? Jika memang benar … Mas Iman, tunggu aku!