
Pasangan yang baik adalah pasangan yang akan selalu menutup aib masing-masing, bukan justru mengumbarnya.
*
"Bu, sebelumnya Iman mau minta maaf jika perkataan ini sedikit menyinggung perasaan ibu. Tapi, Iman juga tidak mau hanya berdiam terus."
Siti yang duduk di belakang kemudi dengan Hassan di pangkuannya seketika mendongak. Cucunya sedang terlelap, setelah seharian bermain bersama dengan Fathimah.
Wanita paruh baya tersebut yang menoleh ke arah spion di mana anaknya sedang menatap balik pada dirinya. "Apa ini ada hubungannya dengan ucapan ibu di rumah Fathimah?" tanyanya tepat sasaran.
Pria beranak satu itu mengangguk.
"Katakanlah! Ibu tidak akan menyela setiap ucapanmu," lanjutnya, sambil menunduk menatap cucunya penuh sayang.
Aiman kembali melihat ke arah ibunya, tetapi wanita paruh baya tersebut justru tengah mengusap rambut Hassan, sambil melantunkan sholawat untuk cucu kesayangannya. Hal ini memang sudah menjadi rutinitas setiap kali mereka sedang bepergian ketika sang cucu tidur di jalan.
Biasanya ketika di rumah, Hassan minta di bacakan cerita tentang kisah Nabi-Nabi. Namun, saat ini buku itu tak dibawa. Maka dari itu, hanya lantunan sholawat sebagai penggantinya.
__ADS_1
"Aku belum siap menikah, Bu. Apalagi dengan Fathimah." Kalimat penolakan itu diucapkan dalam satu tarikan napas. Ada banyak alasan yang mendasari dirinya menolak perjodohan ini dan salah satunya berkaitan dengan kedekatan si wanita dengan mantan istrinya–Aisyah.
Bukan menyepelekan perangai perempuan itu, melainkan Aiman hanya tidak ingin, atau mungkin tidak bisa membuka hati untuk wanita lain, selain Aisyah. Cinta pria tersebut sudah begitu besar dan sulit untuk dibagi dengan wanita lain.
Prioritasnya untuk saat ini adalah membesarkan Hassan, bukan mencari pendamping hidup. Lagi pula, dia sudah bahagia hanya hidup berdua dengan anaknya.
"Memang Fathimah kenapa? Dia cantik, pandai, dan juga Sholehah. Bukankah itu yang selama ini kamu cari?" Siti sedikit gemas dengan Aiman yang selalu saja mengelak dan bahkan menolak setiap perempuan yang dijodohkan dengannya.
Aiman meremas kuat setir kemudinya saat lagi-lagi dirinya kembali merasa terdesak. Dia menjadi membayangkan bagaimana perempuan itu. Fathimah memang sangat masuk dalam kriteria istri dan ibu idaman bagi setiap lelaki, bahkan dirinya justru harus bersyukur jika sampai diperhitungkan untuk menjadi suami yang seorang duda. Tolong digaris bawahi, duda.
"Iya, Bu. Iman tahu. Tapi, untuk saat ini–"
Helaan napas berat terembus begitu saja dari hidung bangir Aiman. Dia kehilangan kata-kata untuk menyanggah lagi setiap ucapan dari Siti–ibunya.
"Kamu jangan egois, Nak! Kata siapa Hassan gak butuh sosok seorang ibu? Kata siapa?" Wanita paruh baya itu sangat tahu bagaimana perasaan cucunya selama ini, apalagi setelah mulai masuk taman kanak-kanak. Wajah itu semakin hari semakin murung, seolah bertemu teman-teman baru tak membuatnya bergairah, apalagi sekadar untuk bermain.
Selidik demi selidik, ternyata cucunya sering sekali dirundung di sekolah karena tidak pernah dijemput oleh ibunya. Namun, anak itu justru diam, tidak mengadu kepada siapa pun.
__ADS_1
"Ibu yang mengasuhnya selama ini tahu, bagaimana dia sering sekali menangis seorang diri di kamar tanpa siapa pun tahu. Dia yang meneteskan air mata tanpa suara, tanpa meraung itu yang justru semakin membuat hati ibu tersayat, Nak." Akhirnya emosi itu pun meledak. Siti menangis menatap Hassan dengan pilu.
"Aku tahu kamu hanya menutup mata, Nak. Aku tahu jika selama ini kamu juga tahu tentang perundungan itu. Aku juga tahu, jika dirimu hanya berpura-pura acuh selama ini, Man." Runtuh sudah dinding pertahanan Siti selama ini. Dia membekap mulutnya agar isakkannya tak mengganggu tubuh lelap Hassan di sampingnya.
"Kenapa, Nak? Kenapa kamu bisa sebebal itu pada dirimu sendiri? Ibu yakin, Aisyah di atas sana juga menginginkan kebahagiaan yang layak untuk kamu dan anaknya. Jadi, jangan terlalu keras dengan hatimu, Man! Coba pikirkanlah lagi semua ini. Jika memang kali ini kamu menolaknya," jedanya.
"Ibu janji tidak akan pernah menjodohkanmu dengan siapa pun lagi, Nak," imbuhnya pasrah, lalu wajah itu langsung dipalingkan ke arah jalan.
Menangisi keadaan anak dan cucunya, tetapi yang dipikirkan justru acuh tak acuh.
Dirinya sudah menyerah untuk mencarikan ibu yang baik untuk cucunya. Namun, jika Aiman memang sudah tak ada niatan untuk membuka lembaran baru lagi dengan wanita lain, apa boleh buat. Dia tidak akan memaksa.
Aiman sendiri tercenung. Pikirannya menjadi tak tenang, bahkan dia memegang erat kemudi agar tidak oleng seperti pikirannya yang tengah berkecamuk. Dia kembali melihat ke arah spion untuk melihat ibu dan Hassan. Namun, yang kini dia temukan justru si punggung si anak.
Kapan tubuh itu berpaling darinya? Apakah … ah itu tidak mungkin. Aiman menggeleng. Mana mungkin anaknya mendengarkan setiap obrolan dengan ibunya.
Tanpa Aiman dan Siti sadari. Hassan tengah menangis dalam diam. Air mata itu kembali menetes lagi dan lagi. Dirinya kembali mengingat akan sosok ibunya bersama dengan sahabat baiknya–Fathimah. Anak itu memang begitu nyaman dan bahkan sangat menyukai sosok wanita dewasa tersebut.
__ADS_1
Namun, jika ayahnya tidak setuju menikah dengan wanita itu. Hassan mengalah dan berjanji untuk menjadi lelaki kuat dan tak cengeng agar tidak menjadi beban bagi ayah, serta neneknya.