Istri Untuk Iman

Istri Untuk Iman
Bab 40


__ADS_3

Mencintai bukanlah sesuatu hal yang membuat seseorang menjadi buta akan segalanya. Cinta juga butuh menggunakan otak, serta akal agar bisa membedakan mana yang perlu dan mana yang tidak, bukan justru menjadi toxic kepada pasangan.


***


"Umma, Umma. Apa Abi sudah pulang?" Hassan bertanya begitu antusias saat telinganya mendengar suara ayahnya dari luar. Mata itu terlihat berbinar hingga tanpa sadar kakinya sudah turun dari sofa. Dia ingin memastikan apakah benar, jika tebakannya benar atau tidak.


Fatimah menelengkan kepala, lalu mencoba mendengarkan dengan seksama, selain televisi yang tengah memperlihatkan acara petualangan anak kecil bersama dengan teman-temannya. Senyum pun seketika mengembang lebar saat dirinya bisa mendengar hal yang sama, seperti Hassan.


"Ehm. Yuk, kita sambut Abi di depan!" ajak Fatimah tak kalah antusias. Namun, karena terlalu terburu-buru, dirinya justru menyenggol ujung meja.


Sialnya lagi, yang terkena adalah telapak kakinya. Belum sembuh luka itu, kini sudah kembali terantuk meja. Ingin sekali Fatimah menangis, tetapi hanya bisa ditahan.


"Umma!" Hassan yang melihat ibunya kesakitan pun lantas mengurungkan niatnya untuk segera pergi. "Apa umma baik-baik saja?"


Fatimah mencoba tersenyum walau terasa sulit. "Baik, Sayang. Maaf, tadi umma cuma bercanda, kok. Lagian, luka ini juga sudah sembuh. Jadi, Mas Asa gak perlu khawatir. Yuk, ke depan!"


"Umma beneran gak apa-apa?" tanya Hassan tidak percaya begitu saja.

__ADS_1


Jelas kedua manik kecil itu melihat sendiri, bahkan nampak jelas dalam ingatan kaki si ibu terbentur meja. Namun, setelah melihat senyum menenangkan dari istri sang ayah. Hassan pun tak bisa berbuat apa-apa, selain mengalah.


"Udah, yuk! Abi pasti udah nungguin lama di depan. Let's go!" Fatimah dengan sedikit tersenyum paksa, mencoba meraih tangan anaknya.


Hassan mengulurkan telapak tangannya untuk menggapai genggaman sang ibu sambung. Anak tersebut sesekali melihat wajah ibunya. Dia jelas bisa melihat raut menahan sakit di wajah cantik milik wanita di sampingnya.


Dengan tertatih, Fatimah mencoba memasang ekspresi normal walau tetap saja sulit. Denyutan sakit di bagian telapak kaki cukup sulit diabaikan sehingga yang dilakukan hanya tersenyum kecil saat snag anak menoleh kepadanya.


Sesampainya di ruang tamu, mereka bisa melihat jelas sang kepala keluarga tengah berdiri di sana. Namun, Fatimah bisa mendengar jelas suara ibu mertuanya tengah berbicara dengan Aiman. Akan tetapi, fokusnya justru ke pertanyaan dari Siti.


Rona merah kini tengah mewarnai kedua pipi Fatimah. Dia cukup malu, tetapi juga penasaran akan jawaban dari Aiman. Hubungan pernikahan mereka ini masih dalam hitungan hari, jadi sedikit banyak wanita itu tak terlalu berharap banyak.


Bibir yang tadinya mengulas senyum penuh semangat, kini menghilang. Pria itu terasa ditampar oleh kenyataan, jika perasaan ini tidak ada. Rasa cinta dan sayangnya hanya khusus diberikan untuk Aisyah, bukan wanita lain.


“Aku hanya tidak sabar ingin bertemu dengan Mas Asa, Bu,” balasnya setelah berpikir cukup lama. Ya, aku tidak boleh mempunyai perasaan lebih kepada dia. Hanya nama Aisyah saja yang akan selalu di dalam hatiku.


Jawaban itu, cukup membuat senyum Fatimah lenyap. Terganti dengan senyum pahit, jika sang suami sama sekali tidak menanggapi godaan ibu mertuanya. Jadi, selama ini yang diucapkan oleh Mas Iman itu apa? Apa itu hanya bentuk rasa tanggung jawab saja? Tapi, kenapa aku kecewa?

__ADS_1


Wanita itu memegang baju bagian depannya, sambil tersenyum getir. Ah, ternyata seperti ini rasanya kecewa. Fatimah mendengkus, lalu memalingkan wajahnya ke arah lain saat rasa sesak di dada menyeruak hingga membuat kedua bola matanya berembun.


Huft. Embusan napas berat wanita itu keluarkan dari mulut.


“Abi!” teriak Hassan.


Fatimah langsung mengusap wajahnya agar tidak ada yang menyadari, jika dirinya baru saja menangis. Bibirnya dilengkungkan ke atas saat pandangannya bertemu tatap dengan sorot mata sang suami. Dia berdiri canggung kala melihat tatapan Aiman sedikit berubah ketika memandangnya.


Hei, kamu tidak perlu bersedih seperti itu, Fa. Bukankah ini masih awal? Jadi, percayalah! Jika suatu saat nanti dia akan melihatmu dengan tatapan penuh cinta. Yakinlah! 


Walaupun bibir bisa tersenyum, tetapi orang tidak akan tahu, jika ada luka yang tengah disembunyikan.


Aiman berjalan lurus ke arah Fatimah berdiri bersama dengan Hassan. Manik itu masih saja menatap datar, bahkan senyum pun tidak sedikit pun terulas untuk sosok istri yang tengah menyunggingkan senyuman lebar untuk menyambut dirinya.


Fatimah mencelos saat tangannya diabaikan oleh Aiman. Pria itu justru lebih memilih mengangkat tubuh Hassan ke dalam gendongan. Menyia-nyiakan telapak tangan yang sedari tadi mengambang di udara kosong. Namun, senyum itu tetap terluas, walau hati terasa tercubit.


Aiman tanpa kata, atau sekadar berbasa-basi menanyakan kabar Fatimah, Dia hanya menunduk sopan, lalu pergi menuju kamar tanpa berniat mengajak si istri.

__ADS_1


Fatimah justru merasa, jika Aiman tengah menjaga jarak, membuat tembok tinggi agar dirinya tidak bisa lewat. Miris. Di saat benih-benih cinta mulai tumbuh di dalam hati sang istri si pria justru kembali mengunci pintu hatinya.


“Sebenarnya kami itu kenapa, Mas?” tanya Fatimah yang kini sudah tidak bisa menahan air mata yang mulai menerobos keluar dari kedua kelopak matanya.


__ADS_2