
"Ummaya," panggil Aiman kepada sang istri yang tengah sibuk meladeninya.
"Ada apa, Bi? Sebentar! Aku sedang mengambil obat untukmu." Fatimah segera berjalan mendekati ranjang di mana si suami sedang beristirahat. Suaminya memang sudah diperbolehkan pulang, tetapi ia juga belum boleh melakukan aktivitas berat sehingga dirinya sebagai istri yang baik melayaninya.
Wanita itu menyodorkan beberapa pil yang entah apa rasanya kepada sang suami. Ia mengernyit saat melihat reaksi si suami yang menjulurkan lidah, mungkin karetrasa pahit yang dikeluarkan dari si tablet itu. "Minumlah, Bi!"
Aiman menenggak air yang disodorkan oleh sang istri. Setelah habis, ia lalu memandang wajah Fatimah merajuk.
"Ada apa, Bi? Apa masih pahit?" tanya Fatimah.
"Pahit," sahut Aiman seperti anak kecil.
Fatimah bergegas bangun dan hendak pergi, tetapi tangannya tiba-tiba ditahan. "Kenapa, Sayang?"
"Kamu aku ke mana?"
"Aku mau mengambil madu supaya lidahnya tidak terasa pahit lagi," ucap Fatimah tersenyum lembut.
"Jangan lama-lama!"
Fatimah menggeleng jenaka. "Iya, Bi. Bentar doang, kok."
Akhirnya, tangan sang suami pun terlepas. Dia memandang punggung Fatimah yang mulai menjauh dari kamar dengan pandangan penuh damba. Semenjak kejadian itu, dia menjadi tak mau ditinggal lama oleh sang istri. Rasa takut kehilangan membuatnya bertingkah begitu posesif.
"Aku tahu jika semua ini adalah jalanmu. Tapi, bolehkan aku meminta untuk selalu bersama dengan keluargaku ini, sekarang dan nanti di akhirat? Apakah aku egois menginginkan dia hanya untukku? Ya Allah, aku bolehkan melakukan ini?" tanya Aiman kepada Sang Pencipta.
__ADS_1
Dia lalu memegang perutnya yang masih terasa ngilu, kemudian menghela napas. Dia mendongak saat mendengar langkah kaki masuk ke dalam kamar dan senyum itu pun terulas manis.
Fatimah yang melihat senyum sang suami pun balas tersenyum. Tubuhnya kini sudah duduk di samping tubuh Aiman dan jangan lupakan juga tangan si suami yang langsung menyelinap di pinggangnya yang ramping.
Tangan itu lalu menyuapkan satu sendok madu ke mulut sang suami, lalu setelah itu menatap wajah sedikit tirus milik Aiman. Dia mengusap rahang itu dengan penuh kasih.
"Luka di lenganmu bagaimana, Sayang? Apa sudah membaik?" Aiman merapikan anak rambut sang istri, lalu disampirkan di belakang telinganya.
Fatimah mengangguk.
"Abi gak nyangka kamu bisa berbuat senekat itu kemarin, Ummaya."
Wanita itu mengecup telapak tangan sang suami yang tengah bertengger manis di wajahnya. "Aku hanya tidak ingin membuat ini terlalu lama berlarut, Bi. Aku melakukan itu juga dibantu oleh temanku. Oh, iya. Abi masih ingat, 'kan, dengan Maya?"
"Maya? Siapa?"
Pria itu dengan polos mengangguk. "Apa dia salah satu orang yang penting dalam hidupku?"
Bibir Fatimah berkedut samar. "Astaga. Sebenarnya ada apa dengan suamiku ini? Apa kepalanya ini ikut terbentur waktu kemarin? Atau, memang yang ada di hati, serta pikiran Abi hanya diriku seorang?"
Aiman melipat bibirnya senang saat melihat bagaimana sang istri menahan diri untuk tidak mengumpatinya. Dia lalu mengecup bibir berwarna pink itu, lalu membawa tubuh Fatimah ke dalam pelukan. Sekali lagi, puncak kepala menjadi target kecupan lembut pria tersebut.
"Maafkan ingatan suamimu ini, Sayang. Tapi, beberapa hari lalu memang cukup berat buat kita. Sehingga membuat diriku tak bisa menghafal apa pun selain ibu, anak-anak, dan juga kamu." Mulut itu begitu manis hingga membuat wanita di dalam dekapannya bersemu merah.
"Tapi, dia juga salah satu orang yang berperan penting juga dalam penyelamatan ibu kemarin, Bi."
__ADS_1
Aiman mengangguk. "Kalau begitu ajak dia kemari besok! Aku ingin mengucapkan terima kasih kepadanya!"
Fatimah mendongak. "Benarkah?"
Bibir itu kembali mengecup kening sang istri. "Buat apa Abi bohong. Akan sangat tidak sopan jika aku hanya diam tanpa memberikan apa pun pada temanmu itu," jawabnya bijak.
Fatimah tersenyum, lalu mengangguk senang. "Akan aku sampaikan pesan ini padanya. Oh, iya. Apa Riko itu temanmu, Bi?"
Pelukan itu terlepas begitu cepat. Mata itu mengernyit tajam saat bibir pink sang istri menyebutkan nama pria lain. "Kenapa kamu menanyakan dia? Jangan bi–"
Cup
Pupil mata itu seketika melebar. Dia begitu terkejut akan gerak refleks si istri. "Kok?"
"Hilangkan persepsi negatifmu itu, Wahai Suamiku!" tegur Fatimah, "tinggal jawab saja. Kamu kenal Riko gak?"
"Kalau kenal kenapa? Apa kamu mau sama dia?"
Fatimah mencoba untuk tidak merotasikan kedua bola matanya. Itu akan sangat tidak sopan di depan sang suami. Akhirnya dia hanya tersenyum tipis. "Lupakan!" ujarnya malas.
Fokus Aiman pun kini berpindah ke arah bibir sang istri yang terlihat tengah memanggilnya "Itu ngapa tadi cuma nempel bentar? Kurang," rajuk Aiman yang ingin meminta lebih kepada sang istri.
Fatimah langsung menepuk keningnya. Sepertinya dia salah memilih cara untuk mendiamkan sang suami. Jika seperti ini yang ada istri selalu kalah.
"Sembuh dulu! Baru setelah itu minta jatah!" ujar Fatimah tersenyum menggoda, lalu berlalu pergi. Meninggalkan Aiman yang misuh-misuh di atas ranjang.
__ADS_1
"Aih, untuk aku lagi sakit. Kalau gak, udah habis dia malam ini!"