
Fatimah yang tadi sudah tersenyum saat menyambut kedatangan sang anak sulung pun menjadi bingung. Belum kering ia cerita kepada Maya tentang kondisi hubungan keluarga mereka, tetapi dia sudah kembali harus menelan ludah pahit.
Namun, semua perasaan itu segera dienyahkan saat melihat Aiman yang baru datang. Senyum pun langsung kembali dipasang agar pria tersebut tidak curiga akan perasaan yang sedang dirasakan.
Aiman menyusul di belakang setelah Hassan lebih dulu masuk ke dalam rumah. Namun, ia mengernyit saat tak menemukan keberadaan sang anak. Justru sang istrilah yang menyambut kedatangan mereka di depan pintu.
"Maira mana, Umma?" tanya Aiman setelah memberi salam, lalu disambut dengan kecupan di punggung tangannya.
"Tidur, Bi. Mungkin kelelahan setelah seharian main bersama dengan Maya." Fatimah mengambil tas yang dibawa oleh sang suami, kemudian dibawanya ke dalam kamar.
"Abi mau makan?" tanya Fatimah. Kini mereka sedang berada di dalam kamar, sedangkan sang suami tengah bersiap-siap untuk kembali pergi ke Masjid.
"Nanti aja, Umma. Oh, iya. Tolong panggilkan Mas Asa dan suruh dia untuk bergegas ganti baju. Abi sudah mau berangkat," ujar Aiman lembut kepada sang istri.
__ADS_1
Wajahnya menyiratkan kelelahan. Bukan lelah tenaga, melainkan pikiran.
"Baik, Bi." Fatimah pun langsung keluar kamar, menghampiri sang anak sulung yang juga tengah berada di ruangannya sendiri. Setelah mengetuk pintu yang terbuat dari kayu beberapa kali, wanita itu pun bimbang. Tak ada suara apa pun yang menyahut hingga membuat istri Aiman pun ragu.
"Mana, Umma?"
Fatimah menengok ke arah sang suami. Dia pun tersenyum kaku. Bingung harus menjawab apa karena ia belum juga mendengar apa pun jawaban dari dalam kamar sj anak sulung. "A-nu itu, Bi," ujarnya salah tingkah.
Fatimah semakin dibuat bingung dengn alasan apa yang harus ia berikan. Tidak mungkin juga ia jujur, kalau Hassan belum mempersilahkannya masuk. Nanti yang ada justru si sulung semakin membencinya. Itu bukanlah pilihan yang baik.
"Katanya abi disuruh tunggu di depan. Mas Asa tadi masih di kamar mandi buat mandi," dustanya.
Aiman sebenarnya tidak percaya dengan apa yang diucapkan oleh sang istri. Namun, yang dilakukan hanya mengusap hijab bagian kepala Fatimah. "Baiklah, kalau gitu bilang kepada Mas Asa jika Abi menunggu di luar. Oh, iya. Tolong jangan lama-lama!"
__ADS_1
Fatimah pun mengangguk mengerti. Memasang senyum lebar walau dalam hati tengah meringis sedih akan hubungannya dengan si anak sulung. Mata wanita itu begitu menyorot sendu, apalagi setelah diacuhkan berkali-kali, itu jelas adalah hal paling menyakitkan di dunia ini.
Didiamkan oleh sang anak, itu sudah seperti mimpi buruk bagi seorang ibu. Walaupun ia adalah ibu sambung, tetapi kasih sayang yang selama ini dia berikan adalah tulus. Tidak ada niat buruk apa pun, apalagi untuk hanya menguasai ayah dari si anak tiri.
Niatnya menikah dengan Aiman pun bukan hanya semata karena tampang, melainkan hati. Perasaannya pun juga benar-benar nyata, tidak abal-abal. Sungguh, tidak ada niat untuknya mencuri perhatian, apalagi kasih sayang dari Aiman dari Hassan.
Dia menerima Aiman, ya, satu paket dengan Hassan. Bukan hanya Aiman saja, apalagi anaknya saja.
"Menyingkir! Umma ngapain, sih, di sini? Udah sana ke kamar!"
"Mas Asa," ucap Fatimah sendu, apalagi setelah diusir oleh sang anak dari depan kamarnya.
"Jangan memasang wajah seperti itu! Aku gak akan mempan," kata Hassan sarkas.
__ADS_1