Istri Untuk Iman

Istri Untuk Iman
Bab 33


__ADS_3

"Sudah."


"Apa?"


Fatimah merasa atmosfer di dalam ruang kamarnya terasa berbeda. Dia bahkan bisa mendengar degup jantungnya yang seperti baru saja berlari maraton. Kikuk, serta canggung kini tengah menghinggapi perasaan pengantin baru kita.


"Oh." Fatimah sudah seperti orang bodoh karena baru konek setelah sadar resleting yang error miliknya, kini sudah bisa dilepaskan. Tubuhnya refleks maju untuk menghindari rasa gugup ketika berdekatan dengan sang suami.


Sedang Aiman sendiri juga tak kalah canggung. Dia menggaruk belakang rambutnya yang masih basah saat kedekatan mereka yang cukup dekat. Pria tersebut kemudian memalingkan wajah ke arah lain, lalu kakinya melangkah menuju ranjang yang sudah disulap sedemikian romantis.


Bibirnya berdecak kala melihat taburan kelopak bunga mawar merah yang dibentuk menjadi sebuah gambar hati dengan dua angsa putih yang terbuat dari handuk di depan, serta lampu yang dibuat temaram. Seperti sengaja sang Wedding Organizer membuatnya menjadi romantis karena nuansa kamar aslinya tidaklah seperti ini.


Biasa. Layaknya kamar wanita lajang pada umumnya.


"Apa kamu lapar?" Suara Aiman tiba-tiba memecah kecanggungan yang telah menghinggapi mereka. Pria itu sendiri juga tidak ingin berlama-lama dalam suasana awkward ini. Maka dari itu, dia sengaja mencari topik pembahasan lain.


Manik hitam legam milik Fatimah bergerak gelisah. Ditanya soal makanan, perutnya tiba-tiba saja berbunyi sehingga membuat dirinya memegang perut untuk menghentikan raungan lambungnya. Namun, langkah itu percuma dilakukan karena pria di atas ranjang sudah lebih dulu mendengar.

__ADS_1


"Kalau begitu biar aku ambilkan." Aiman mengulum senyum kala melihat istrinya tengah malu. Dia berinisiatif untuk keluar kamar sekaligus mencari udara segar karena ia merasa di dalam kamar oksigen sudah habis disedot entah oleh siapa.


Tungkainya lalu berjalan pelan menuju pintu kamar yang tentu saja mau tidak mau harus melewati tempat wanitanya berdiri. Ketika sudah dekat, kaki itu seolah sengaja berhenti di samping tubuh si istri.


Fatimah menahan napas saat suaminya justru berhenti tepat di samping tubuhnya. Wanita itu memejamkan mata kala wajah Aiman mendekati wajahnya.


"Kamu mau makan apa?" tanyanya dengan suara lirih.


Fatimah menelan ludah gugup. "A-aku ikut sama bapak aja," jawabnya terbata.


"Eh." Fatimah langsung membuka kelopak matanya. Namun, keputusan itu justru hampir membuat kedua belah bibir kenyal itu hampir bertemu. Si istri langsung menunduk kembali dan memilih gaun pengantinnya. "Maaf, sa-ya tidak mengerti."


Diam-diam Aiman juga merasakan hal yang sama seperti yang dirasakan oleh Fatimah. Diafragma di dalam tubuhnya langsung berdetak kencang, layaknya genderang mau perang. Akan tetapi, pria itu terlalu pandai menyamarkan sehingga dia terlihat santai walau kenyataannya hampir pingsan.


"Panggil Mas, atau … Abi!"


Fatimah tersenyum malu. Dia sedikit melangkah mundur agar saat dia mendongak, wajah mereka tak terlalu dekat. Namun, gerakan itu seperti sudah bisa dibaca oleh Aiman hingga dalam hitungan detik, tubuh mereka kini justru saling menempel.

__ADS_1


Tangan Aiman memeluk pinggang ramping Fatimah. Menyalurkan sebuah gelenyar asing, seperti sengatan listrik yang menjalari tubuh.


"Kenapa tidak mau melihat wajah suamimu, hm? Apa lantai kamar ini jauh lebih tampan dariku?" Bibir pria itu berbisik tepat di telinga sang istri, lalu jari telunjuk kirinya digunakan untuk menyentuh wajah cantik Fathimah.


"M-mas, bi-sa-kah mundur sedi-kit. Kau membuatku sulit bernapas," ujar Fatimah terbata. Wanita itu hampir kehilangan oksigen saat jarak mereka hanya tinggal beberapa inci dan posisi ini terlalu intim bagi dirinya yang masih awam tentang hal seperti ini.


"Benarkah? Tapi, kalau aku gak mau … bagaimana?" Sengaja Aiman membuat wanita yang tengah memejamkan mata itu tersiksa akan kedekatan mereka. Dia pun tidak mengerti kenapa bisa berbuat senekat ini, padahal niatnya bukan untuk menggoda istrinya. Akan tetapi, saat melihat wajah Fatimah yang sekarang, membuat sesuatu di dalam tubuhnya bereaksi sendiri.


Fatimah memberanikan diri untuk mendongak. Menyusuri setiap lekuk wajah suaminya. Dari dahi, lalu turun ke alis tebalnya yang hampir menyatu, bulu lentiknya, kemudian turun ke manik hitam legam yang sama seperti miliknya, lalu hidung mancung, dan terakhir adalah bibir merah alami hingga menggoda iman Fatimah untuk mencicipinya.


Astaghfirullah hal adzim. Maafkan pikiran jelekku , Ya Allah. Aku gak tau kenapa bisa berpikiran seperti itu. Tolong, maafkan aku ya, Allah! Saya berjanji tidak akan berpikiran kotor itu lagi.


"Ada apa? Apa ada sesuatu yang aneh di wajahku? Atau," jedanya, sambil menarik tubuh Fatimah lebih dekat hingga kini dahi mereka menempel satu sama lain. "Kau sedang memikirkan sesuatu tentang kita?"


Kedua pipi Fatimah sudah merah padam. Hatinya berdesir, bahkan perutnya melilit hanya karena keintiman yang dibuat oleh suaminya. Dia hampir pingsan karena kesulitan bernapas seolah-olah semua oksigen sudha dihirup oleh manusia berjakun yang ada di depannya.


Ya Allah, apakah ini memang sudah saatnya?

__ADS_1


__ADS_2