Istri Untuk Iman

Istri Untuk Iman
Bab 134


__ADS_3

Sedari tadi Maya sibuk bergelung gelisah di balik selimut tebalnya, lalu berganti posisi menjadi telungkup. Menyangga dagunya dengan harapan bisa membuat seseorang di depan meja riasnya tahu akan kegalauan yang tengah dirasakan.


"Kamu kenapa lagi?" tanya Fatimah. Wanita itu begitu bosan melihat Maya yang seperti cacing kepanasan, uget-uget di atas kasur. Membuat keadaan ranjang menjadi berantakan.


"Bukankah masalahmu dengan pacarmu sudah selesai? Bahkan, pria itu juga berjanji akan menerimamu apa adanya. Lantas, apalagi yang membuatmu seperti itu?"


"Iya, Nak. Apa yang membuatmu risau seperti itu?" Nenek Siti yang baru saja masuk ke dalam kamar apartemen Maya, ikut dalam pembicaraan mereka.


"Nek," panggil Maya manja, lalu merentangkan kedua tangannya ke arah Nenek Siti.


"Astaga. Sedari tadi aku ngoceh, tapi gak ditanggapi sama sekali." Fatimah menggelengkan kepala saat melihat sang sahabat justru mengacuhkannya dan memilih bermanja-manja kepada ibu mertuanya.


"Tolong, yah! Hari ini, Nenek Siti itu punya saya. Jadi, lebih baik menyingkir sebelum saya usir!"


Fatimah melotot syok. Namun, selang beberapa detik dia pun mendengkus. "Up to you lah! Let's go, Baby! Kita obrak-abrik apartemen Tante Maya!" ucapnya kepada sang buah hati.


"Yahk! Mana ada begitu. Duduk!" Maya tidak begitu saja membiarkan Fatimah untuk pergi. Dia sengaja meminta si teman untuk menjenguknya yang tengah sakit. Walaupun kenyataannya itu hanya sebuah alibi saja.


Aslinya, Maya hanya ingin bertukar pikiran dengan Fatimah.


Wanita paruh baya itu tersenyum melihat tingkah Maya dan juga sang menantu. Tangan wanita tersebut dengan pelan mengusap lembut surai pendeknya. Nenek Siti tidak merasa keberatan sama sekali, dia justru malah senang bisa membuat orang lain nyaman akan kehadirannya.


"Kalian ini anak perempuan ibu semua. Jadi, janganlah kalian bertengkar. Apalagi memperebutkan sebuah kasih sayang dariku. Sini, kalian berdua!" Nenek Siti lalu merentangkan kedua tangan, menunggu Maya dan Fatimah datang ke dalam dekapannya.


Maya sendiri langsung bangun dari posisi tengkurap dan menyamankan pelukan mereka. Dia terharu, saat bisa kembali merasakan kehangatan dari seorang ibu. Sudah lama sekali, bahkan ia lupa bagaimana rasa itu.


Fatimah sendiri datang bersama Khumaira, lalu terjadilah pelukan ala Teletubbies. Tawa keempat wanita itu, mines Khumaira yang tidak tahu apa-apa terdengar merdu di dalam ruang kamar. Kebahagiaan jelas nampak dalam raut wajah mereka.


"Apa, Nak Maya, ini tidak makan di sana? Kenapa tubuhnya semakin kurus? Padahal, satu bulan yang lalu ibu melihatmu masihlah begitu segar. Kenapa hari ini begitu layu, apa ada hal yang mengganggumu?" tanya Nenek Siti kepada Maya

__ADS_1


Senyum di wajah Maya segera luntur. Mengingat masalah yang datang silih berganti beberapa hari ini, membuatnya mendesah lelah. Semangat yang tadi datang, kini sudah pergi tersapu oleh ingatannya saat itu.


"Ibuku meminta uang kepada Riko, Nek," ujarnya, sambil menunduk, meremas rambutnya sendiri. Ada rasa malu untuk mengakui itu semua, tetapi Maya coba untuk enyahkan.


Dia butuh orang yang bisa menenangkan hati, serta pikirannya. Maka dari itu, Fatimah dan Nenek Siti yang ia pilih untuk menjadi pendengar ceritanya kali ini.


“Maksudnya?” tanya Fatimah bingung. “Bukankah kalian sudah lama sekali tidak saling komunikasi?”


Nenek Siti yang tidak mengetahui apa-apa pun hanya mendengarkan. Namun, ia tetap selalu ada di samping Maya untuk memberikan support, agar tidak merasa sendiri.


Maya mengangguk. “Ya, aku juga tidak tahu bagaimana bisa ibuku bisa mengetahui nomor ponsel kekasihku. Kemungkinan semua ini pasti ada hubungannya dengan bapak. Karena beberapa waktu yang lalu, dia sempat datang ke sini dan melihat Riko,” jelasnya.


“Apa ibu dan bapakmu itu anggota FBI?”


“Aish, mana ada yang begitu. Mereka ini hanya orang-orang yang hanya gila akan harta serta jabatan. Makanya ketika di saat uang di dalam atm mereka habis, pasti akan datang kepadaku untuk mengirim duit.”


“Tapi, yang menjadi masalah di sini adalah kenapa ibumu tahu nomor ponsel Riko. Gak mungkin juga tiba-tiba langsung punya, dong,” sergah Fatimah cepat. “Lalu, kamu tahu hal itu dari siapa?”


“Sumpah gak ngerti aku tuh sama jalan pikiran mereka,” kesal Maya karena mengingat kejadian beberapa hari ini.


Riko sendiri tidak mempermasalahkan, tetapi Maya yang notabene-nya anak dari orang yang minta uang itulah yang merasa malu. Ya, kali, anak dari suami yang katanya seorang pejabat, serta orang penting gak bisa bantu bapak sendiri buat berobat.


Gila, kan? Terus, Riko ini hanyalah kekasih. Tolong dicatat. Riko bukanlah suami dari Maya dan hubungan mereka pun masihlah sangat baru. Tidak seharusnya mereka yang katanya mengaku sebagai orang tua justru memalak pacar dari anaknya.


Oke, anggap saja Maya sekarang tidak lagi memiliki uang. Akan tetapi, jika memang kondisi suami dari ibunya itu benar-benar parah, akan mungkin bagi Maya untuk merasa ikut membantu. Namun, tidak sebanyak itu.


“Lalu kau bisa apa, Fat? Uangnya sudah ditransfer oleh Riko, tidak mau dikembalikan. Asli, aku tuh harus gimana, Fa, Nek?” tanya Maya setelah menceritakan duduk permasalahnya kepada mereka. “Aku gak ada muka buat ketemu Riko, Fa!”


Fatimah menarik kedua tangan sang sahabat, lalu membawanya ke dalam pelukan. Dia usap punggung si teman dengan penuh perhatian.

__ADS_1


“Menurut kamu, Fa, aku harus bagaimana?” Kedua mata Maya melihat si teman.


Fatimah mencoba berpikir sejenak. Dia menatap wajah Maya dengan pandangan datar. “Riko sendiri gimana kepadamu?”


“Dia tetap biasa saja, Fa. Seolah uang lima puluh juta itu tidak ada apa-apanya bagi dia yang super duper sugih,” gerutu Maya. Dia menjadi kesal sendiri dengan apa yang dilakukan oleh sang kekasih. “Jiwa miskinku meronta-ronta, Fa,” lanjutnya meringis.


“Astaga, May, Gak segitunya juga kali. Sebaiknya kamu omongin lagi masalah ini dengan Riko. Bukan apa, May. Itu uang yang diberikan oleh Riko cukup banyak untuk kalian yang baru saja berpacaran. Ya, okelah, kalau semisal dia ikhlas. Tapi, tetap saja itu bukan hak dia untuk membantu ibumu!”


“Mulutku sampai berbusa, May, ngomong kayak gitu ke dia. Tapi, dia malah sengaja ngajak gelut mulu sama aku.”


“Kok, gitu.”


“Iyalah. Dia malah nyuekin aku tau gak, sih, kalau aku lagi bahas masalah itu,” ujar Maya dengan raut setengah depresi mempunyai kekasih royal macam Riko. “Oh, ya, Fa. Kamu tau gak?”


“Enggak.”


“Ish, aku belum selesai bicara, Fatimah!” Maya menabok lengan sang sahabat karena sudah mengganggu proses curhat ala dia.


Fatimah malah terkikik geli. “Ya, udah. Apaaan?”


“Aku waktu tahu hal itu, aku langsung transfer balik, tuh, duit dia ke nomor rekening yang sempat dia pakai kirim uang ke aku. Tapi,” jedanya dengan mata melotot.


“Kenapa? Kok, matamu sampai mendelik kayak gitu. Bikin serem, deh.”


“Dia transfer balik duitku dan kamu tahu dia kirim berapa?”


“Berapa emangnya?”


“Seratus juta.”

__ADS_1


“Njir!”


__ADS_2