Istri Untuk Iman

Istri Untuk Iman
Bab 83


__ADS_3

Setelah keadaan Aiman membaik, pria itu sudah kembali bekerja. Sejak kejadian itu juga pihak perusahaan sudah memecat Ozi, serta memohon maaf kepada pihak vendor, yaitu Bu Trisa atas kesalahan dari salah satu karyawan mereka karena sudah berlaku tidak terpuji.


Dari pihak Trisa sendiri sangat mengutuk, bahkan hampir memperkarakan kejadian ini ke pihak berwajib. Namun, lagi-lagi demi pencitraan ia harus menahannya dan melepaskan Ozi. Pria itu hanya dipecat tanpa diberikan pesangon oleh pihak PT Jaya Real.


"Man, kamu sebenarnya ada hubungan apa, sih, sama si Bu Trisa itu? Kenapa semenjak kedatanganmu di sini, ia selalu datang, bahkan menetap hampir sepanjang hari. Ya, kamu tahukah dia itu siapa? Bos. Yang tentunya mempunyai kesibukan segunung. Tapi, see … dia justru duduk di ruang sempit hanya untuk melihat, atau menguntitmu dari sini," ujar Trio ketika menyerahkan laporannya ke meja Aiman.


Aiman sendiri memang sedikit terganggu dengan kehadiran dari Trisa. Namun, siapalah dia yang berani mengusir salah satu vendor perusahaan tempat dia bekerja. Nanti, yang ada dia justru malah kena tendang dan berakhir menganggur lagi. Mau dikasih makan apa anak, serta kedua anaknya.


"Pertama, saya sudah menikah. Kedua saya juga gak akan pernah tertarik untuk mengurusi orang lain. Ketiga, terserah dia mau melakukan apa pun, saya tidak peduli. Saya datang ke sini juga untuk bekerja, bukan untuk tebar pesona!" jelas Aiman yang malas sekali harus digosipkan dengan wanita lain, padahal dia jelas-jelas sudah menikah.

__ADS_1


Trio mengedikkan bahu. "Ya, siapa tau kamu pengen berpoli– … maaf-maaf. Ini mulut emang suka gak kekontrol." Tangan pria beranak tiga itu segera terangkat naik ke atas.


Aiman sendiri menurunkan pandangan dinginnya ke arah komputer. Dia sungguh malas jika disangkut pautkan dengan orang lain. Daripada dia berpoligami, lebih baik dia menyiram istri, serta anaknya dengan kasih sayang dan agama.


Trisa sendiri sedang duduk bersama dengan Toni, salah satu staf yang selalu ditemuinya ketika mengunjungi PT Jaya Real. Mereka membahas tentang barang-barang apa saja yang kurang dan pekerjaan jalan lainnya–di mana itu semua biasanya dilakukan oleh karyawan bawahannya. Namun, semua dilakukan hanya untuk bisa bertemu Aiman.


"Sepertinya Anda tertarik dengan dia, Bu?" Toni yang sedari tadi memperhatikan Trisa yang tak pernah lepas mencuri pandang ke arah Aiman–karyawan baru, menyunggingkan senyum miring. Dia lalu duduk bersandar dengan nyaman di sofa singlenya, seolah baru saja menangkap buruan besar.


Trisa menayao Toni dengan senyum liciknya. Dia membetulkan hijabnya yang sedikit melorot–walau kenyataannya masih sangat rapi– dengan tangan kanannya. "Apa yang Anda katakan, Pak? Saya tidak mengerti dengan maksud pertanyaan dari Anda," elaknya seolah apa yang baru saja diucapkan oleh pria di sana sangatlah salah.

__ADS_1


Tobi balik tersenyum menyeringai. "Semua orang di sini juga tahu, kalau Anda ini mempunyai perasaan kepada si karyawan baru itu. Jadi, daripada mengelak, bukankah akan lebih baik jujur dan menerima penawaran dari saya?"


"Anda ini memang pintar sekali mengambil umpan, ya, Pak. Tapi, maaf. Saya tidak tertarik." Lagi, wanita cantik itu tak mau termakan rayuan dari Toni. Dia ini adalah wanita elegan dan tidak akan pernah memakai cara kampungan. Cukup main santai, tapi langsung ke tujuan.


Toni berdecak saat melihat wanita itu justru pergi dan meninggalkannya seorang diri, sedangkan Trisa malah pergi dari ruangan. "Cih, untuk situ kaya. Coba kalau tidak, udah aku tendang kamu ke laut!"


***


Sementara itu, Fatimah mulai gelisah dengan bunga yang selama dua Minggu ini diterimanya setiap hari. Bukan dari sang suami, melainkan dari orang iseng yang sering sekali mengirimkan bunga setiap saat.

__ADS_1


"Sebenarnya dia ini siapa, sih? Kenapa selalu mengirimkan bunga ini kepadaku?" Mata itu menatap takut satu buket bunga lili putih di bawah lantai pintu rumahnya dan juga atau pucuk surat bertuliskan "Dea or go!"


Lili putih itu sendiri melambangkan duka, atau kematian. Jadi, apakah si pengirim ini meminta Fatimah untuk pergi selamanya? Akan tetapi, siapa pelakunya? Ini semua maish menjadi misteri bagi wanita itu sendiri.


__ADS_2