
“Udah belum, sih?”
“Belum. Sebentar lagi, kok, kita sampai.”
Dengkusan dari Maya tidak membuat Riko gentar akan rencana awalnya. Mereka kini sedang berada di dalam mobil menuju sebuah tempat rahasia. Bukan ke hotel, apalagi tempat yang pastinya akan menimbulkan stigma negatif kepada setiap pasangan. Ini aman dan tentunya akan disukai oelh setipa wanita, entah kalau Maya.
Semua ini adalah rencana si lelaki. Sudah satu minggu mereka tidak bertemu karena pekerjaan masing-masing. Kini, setelah ada waktu, Riko memanfaatkan dengan mengajak Maya untuk berjalan-jalan, atau istilah kerennya kencan. Dia terus menengok ke arah mata yang tertutupi kain berwarna hitam, takut jika wanita itu mencoba untuk mengintip.
“Ya, sebentar laginya itu kapan?” Maya sudah mulai bosan dengan kata sebentar lagi versi Riko. Berarti itu begitu panjang. Ya, sedari awal ketika ditanyai kapan sampai, kita mau ke mana, terus sudah dekat apa belum dan jawaban pria itu hanya Iya sebentar lagi.
Bangsul banget, kan, orang satu itu. Sudah sedari tadi Maya diam, tetapi dalam hati sudah mengumpat, bahkan menyumpahserapahi pria yang kini tengah mengemudikan mobilnya.
Jika dalam hubungan Riko dan Maya, jangan pernah berharap akan menemukan keromantisan, manja-manja ala pacaran drakor-drakor di tv. Karena jika itu sampai terjadi, Mayalah yang akan maju untuk menghajar pacarnya.
Pacar, atau kekasih. Hubungan dua orang itu kini memang sudah berlanjut ke taraf serius, bahkan kedua orang tua Riko sudah mendesak Maya untuk mengenalkannya kepada orang tua, tetapi calon menantunya selalu berdalih nanti dan nanti.
Orang tua Riko pun mencoba mengerti, apalagi setelah mendengar kisah masa kelam calon menantunya. Sang anak sempat takut jika karena masa lalu Maya, mereka tidak akan merestui hubunganya dengan sang kekasih. Namun, siapa sangka jika Agung dan Laksmi begitu legowo dan mau menerima pilihan anaknya.
Kini, setelah hubungan mereka direstui, Riko dan Maya memang sering menghabiskan waktu bersama di sela-sela pekerjaan yang menumpuk. Maya saja hari ini baru pulang dari Surabaya setelah melakukan misi selama satu minggu di sana sehingga baru bertemu hari ini.
Riko sendiri tentu senang luar biasa saat mendapati kekasihnya sudah kembali pulang ke Jakarta. Dengan effort yang besar, pria itu pun mengajak Maya untuk candle ligth dinner di sebuah tempat yang masih dirahasiakan hingga sekarang.
“Yuhuuu, akhirnya kita samapi!” seru Riko bahagia saat tempat yang mereka tuju sudah ada di depan mata.
“Berarti aku sudah boleh membuka kain ini, kan?” Maya hendak melepas penutup mata yang sedari tadi sudah membuatnya sulit untuk melihat dunia luar.
__ADS_1
“Jangan dulu, dong, May!” Tangan Riko langsung menghentikan lengan Maya. “Kita turun dulu. Nanti, kalau aku sudah memintamu untuk membuka mata, baru kamu buka penutup matanya!” jelas pria itu.
Maya mencoba memahami sikap dan sifat Riko yang kekanakan. Wanita tersebut sebenarnya anti sekali dengan hal-hal berbau romantis, bahkan geli, dan alergi. Akan tetapi, semua ini dilakukan demi menyenangkan si pihak laki-laki. Dirinya benar-benar sudah dibodohi oleh cinta.
Di mana-mana yang harusnya bersikap dingin adalah lelaki, tetapi jika di posisi Maya dan Riko ini memang sedikit unik hingga terbalik. Riko justrulah yang selalu meminta Maya untuk bersikap manis dan tidak dingin kepadanya. Pria itu bahkan tak segan meminta si ekkasih untuk berselfie, atau chat-chat manis yang pastinya hanya akan diabaikan oleh Maya.
Poor Riko.
Mereka ini sudah seperti dua sifat dan sikap yang tertukar jiwanya.
“Aku ban_tai kamu, Rik, kalau sampai membawaku ke tempat-tempat yang aneh-aneh!” ancam Maya saat bahunya dirangkul oleh Riko untuk masuk ke dalam sebuah tempat makan yang asri.
Pria itu mencoba menenangkan jika ia tidak mungkin membuat kesalahan sekecil apa pun hingga membuat sang kekasih marah. Riko tahu resikonya jika sudah membuat Maya marah. Bisa tiga hari tiga malam ia didiamkan oleh sang kekasih dan itu sama saja menyiksa dirinya sendiri.
“Aku gak mungkin membawamu ke tempat yang angker seperti itu di malam hari, May. Coba berpikirah mudah, jangan yang sulit-sulit!” Riko merotasikan kedua bola matanya saat sadar jika wanita di samping terlalu banyak menggunakan insting sebagai polisi.
“Semua kulakukan juga untuk berjaga-jaga, Rik. Yang namanya musuh itu gak pandang bulu kita ada di mana. Jadi, tetap waspada dan jaga kesehatan kalian!”
“Astaga. Sebenarnya aku ini memacari perempaun muda apa tua, sih? Kenapa ocehannya sudah seperti nenek-nenek kepada cucunya.”
Sebuah geplakan pun langsung mendarat gratis di kepala Riko. “Yakh! Sakit!”
Maya melipat keda tangannya di depan dada, lalu mendengkus sinis. Matanya memang masih tertutup, tetapi instingnya untuk merasakan di mana keberadaan Riko masihlah begitu kuat. “Makanya putu–”
“Diam, atau aku ci_pok kamu di sini!” Tangan Riko segera membungkam mulut Maya yang hendak mengatakan kata-kata yang sangat tidak layak jika diucapkan oleh sepasang kekasih yang baru berhubungan dua minggu. “Arghhh! Aish, kenapa dirimu begitu ganas sekali, sih, May! Aku ini pacarmu, loh, bukan hewan peliharaanmu!”
__ADS_1
Maya menyeringai setelah pria itu menyingkirkan telapak tangannya menjauh dari mulutnya. “Salah sendiri menaruh tangan di depan mulutku,” ucapnya acuh.
"Tapi, gak digigit juga kali, May!" ujar Pria itu sedikit menahan sakit di telapak tangannya sedang si Maya hanya mengankat bahu tidak peduli.
Riko memeberengut, tetapi tetang membawa tubuh Maya untuk menunju tempat tujuan mereka. Setelah sampai, pria itu pun menarik satu kursi dan meminta wanitanya duduk di atasnya. "Untung sayang, kalau gak udah aku culik kamu!" gerutunya yang jelas didengar oleh sang kekasih.
Di depan mereka, kini sudah tersedia minuman, serta beberapa desert manis yang disiapkan oleh pelayan. Tempat yang dituju oleh Riko dan Maya memang terletak di kaki bukit. Pria itu memang sengaja memilihnya agar pikiran serta otak mereka berdua rileks setelah lelah bekerja.
“Apa sekarang aku sudah boleh menbuka kain ini?” tanya Maya mulai bosan.
“Boleh. Mau aku bukakan, atau kamu sendiri?”
“Kalau kamu ingin aku mematahkan tanganmu, sih, gak apa-apa,” ujar Maya santai walau kata-katanya begitu penuh ancaman.
Riko pun diam seribu bahasa. Dia hanya meminta pelayan untuk segera mengambil kembali lilin-lilin yang ada di atas meja sebelum Maya tahu dan membakar tempat ini.
Maya pun melepaskan penutup mata itu dan membuka netranya yang sedikit sulit. Benar saja, saat netra itu bisa melihat lagi, kini pemandangan pertama yang ia lihat adalah air terjun buatan dengan banyaknya lilin-lilin di sepanjang jalan setapak menuju kolam.
“Bagaimana, apa kamu suka?” tanya Riko. Dia sebenarnya tidak terlalu berharap lebih, hanya saja kadang namanya manusia juga ingin dipuji, dong. Salahkan saja Maya yang irit ekspresi itu sehingga kadang membuat sang kekasih bingung harus dengan cara apa membuat wanita itu takjub.
“Lumayan.”
Hampir saja Riko berdecak, tetapi segera ia tahan. Dia tidak mau membuat suasana di ruangan yang tadinya cukup romantis menjadi berdarah-darah karena wanita di depannya.
“Kemana pelanggan yang lain? Kenapa sepi sekali?” Maya melihat ke arah kursi dan meja yang dibiarkan kosong melempong tanpa adanya pembeli. Dia lalu menatap wajah Riko yang ternyata tidak berani menatapnya balik. “Jangan bilang kamu sengaja memesan tempat ini hanya untuk kita berdua?” tanyanya horor.
__ADS_1