Istri Untuk Iman

Istri Untuk Iman
Bab 90


__ADS_3

Awalnya Fatimah tidak ingin memasukkan semua kata-kata, maupun perilaku sang mertua ke dalam Hatinya. Namun, semakin hari, wanita paruh baya itu seolah menabuh genderang perang.


Bohong jika kesabaran manusia tak terbatas. Buktinya, Fatimah hampir menyerah akan sikap mertua yang semakin julid pada dirinya. Sikap lemah lembutnya dulu, kini sudah hilang tertutupi oleh rasa dengki yang entah berasal dari mana.


Hela napas berat kini diembuskan oleh Fatimah. Di kamarnya bersama sang suami, ia menyendiri. Bertemankan sepi tanpa ada yang menemani.


Aiman, Hassan, dan juga Khumaira kini sedang berada di taman belakang rumah mereka. Sedang Fatimah ke kamar dengan dalih ingin membersihkan diri.


Semua orang tidak akan percaya jika Siti Badriah sudah sering menyakiti hati, serta psikisnya. Aiman bahkan tidak tahu semua perlakuan ibunya terhadap istri tercinta. Pria itu hanya tahu, kalau Fatimah dan sang ibu tengah perang dingin di rumah.


Negosiasi pun sudah beberapa kali dilakukan. Akan tetapi, selalu gagal karena sang ibu menolak untuk duduk bersama dengan si menantu.


"Harus bagaimana Fati berbicara denganmu, Bu? Mata yang selama ini memandangku lembut, kini justru berbalik menatapku benci. Sebenarnya apa yang telah aku lakukan sampai membuatmu berbalik menghakimiku?" tanya Fatimah dengan lelehan air mata yang sudah membasahi wajahnya.


Mau diacuhkan, tetapi sulit. Rasa sayangnya terhadap Siti sudah seperti dirinya menyayangi Aminah. Tulus dan ikhlas ia menjalani ini semua. Namun, jika ada hati yang terluka … siapa yang harus disalahkan? Apakah benar ia harus mengalah?


"Umma, apa kamu di dalam?" Aiman memanggil dari luar kamar membuat Fatimah menghapus jejak air mata itu dengan cepat. Tidak boleh pria tersebut melihatnya bersedih, cukup dia dan Tuhan yang tahu.


"Iya, Bi. Masuk saja!" teriak Fatimah dari dalam. Dia lalu berpura-pura membubuhkan bedak ke wajahnya agar sembabnya tidak terlihat.


Beruntung ia sudah selesai membersihkan tubuh jika tidak, Aiman pasti akan curiga. Senyum pun terulas manis dari balik kaca besar yang memantulkan sang suami yang tengah menggendong tubuh kecil Khumaira. Ternyata, si kecil sudah terlelap dalam mimpi.


"Tidur, Bi?" tanya Fatimah, sambil menunjuk Khumaira dalam gendongan sang suami.

__ADS_1


Aiman mengangguk. Tungkainya melangkah perlahan masuk ke dalam kamar, lalu menuju box bayi di mana tempat Khumaira tidur. Setelah itu ia pun mendekat ke arah meja rias untuk menemui istrinya yang sudah lebih dulu menunggunya dengan senyum manis.


"Masya Allah. Cantik sekali istriku," puji Aiman kepada istri tercinta. Lalu dikecupnya puncak kepala sang istri dengan penuh kelembutan dan kasih sayang.


"Abi jadi malu. Istriku sudah terlihat cantik dan wangi. Tapi, masa pasangannya masih bau," ujarnya setelah mengendus tubuhnya sendiri. "Apa sebaiknya Abi mandi? Atau, Ummaya mau menemani Abi mandi?"


Mata itu langsung melotot. Jari Fatimah pun reflek memukul bahu si suami karena sudah menggodanya. "Abi masih siang, yah!" Peringat sang istri dan hanya dibalas kikikan geli sari Aiman.


Tangan itu lalu mengusap lembut surai basah milik Fatimah. Dengan mata yang menyusuri setiap lekuk wajah istrinya. Aiman tidak bodoh dengan apa yang tengah terjadi di dalam keluarganya. Dia sangat tahu jika Fatimah beberapa bulan ini tengah menjadi objek julid dari mertuanya sendiri.


"Apa kamu merindukan ibumu sayang? "


Mata itu jelas berpendar hidup setelah mendengar kata ibu terucap dari bibi sang suami. Tanpa bisa dicegah kedua bola mata itu meloloskan satu kristal bening, tanda Fatimah benar-benar merindukan sosok ibunya, yaitu Aminah.


Pria itu langsung mengusap bulir air mata sang istri dengan ibu jarinya. Dia sedih karena merasa gagal melindungi kristal bening itu, agar tidak lolos dari mata indah istrinya.


Aiman merasa jika semua ini adalah karena kesalahanya yang tidak bisa melindungi istri dari perlakuan Ibu mertuanya sendiri.


"Apa kamu ingin bertemu dengan ibu?" tanya Aiman lagi dengan mata penuh penyesalan.


Bibir berwarna pink itu bergetar menahan tangis. Wajahnya terlalu kaku untuk tersenyum. Matanya pun berlinang dengan air mata penuh kerinduan kepada ibunya.


Rasa yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Hanya anggukan yang dia berikan kepada suaminya untuk menjawab pertanyaan tersebut.

__ADS_1


"Maafkan aku, Sayang. Maaf, jika selama ini sudah membuatmu tertekan hidup bersamaku. Tapi, Abi benar-benar tidak bisa memaksakan kehendak. Semua cara sudah kulakukan untuk ibu bisa mengerti akan keberadaanmu dan posisimu sebagai istriku," tutur Aiman mulai frustasi dengan kelakuan ibunya yang memusuhi sang istri.


Wanita itu menggeleng cepat. "Jangan seperti itu, Bi! Abi tidak bersalah. Ibu juga tidak bersalah. Mungkin hanya keadaan ini saja yang membuatnya berubah," sangkalnya tidak mau menyalahkan siapa pun.


"Aku tahu, selama ini ada seseorang yang sering menghasut ibu untuk membenci Fatimah," lanjutnya pedih.


Pupil mata itu melebar kala mendengar ucapan dari Fatimah. Aiman langsung menarik kedua tangan sang istri, dengan mata menatap lurus ke dalam mata Fatimah. " Apa yang kamu katakan, Ummaya? Apa selama ini kamu mengetahui sesuatu Dan kenapa kamu tidak bilang padaku?"


Fatimah tersenyum kecut. "Hassan yang memberitahukannya kepadaku, Bi. Beberapa kali nenek menjemputnya di sekolah, ada seorang wanita yang kata Mas Asa sangat mirip dengan Mbak Aish. Dia mengaku bernama Trisha dan beberapa kali mereka juga jalan keluar untuk makan bersama," ceritanya dengan senyum dipaksakan.


"Jujur," lanjutnya dengan menahan tangis. "Aku takut … aku takut kalian akan pergi meninggalkanku sendiri bersama dengan–"


Aiman langsung mendekap tubuh istrinya. Ia menggeleng panik. Dia tidak mau mendengar kelanjutan dari ucapan Fatimah. "Jangan pernah berbicara seperti itu, Ummaya! Kamu, Mas Asa, dan Maira adalah keluargaku. Kamu istriku. Maira itu juga anakku. Tidak mungkin aku akan meninggalkan kalian demi sosok yang hanya mirip dengan Aisyah!" tegasnya.


"Jujur. Selama ini wanita itu memang sering sekali datang ke kantor," akunya. Dia tahu semua ini salah karena telah merahasiakan sesuatu. Akan tetapi, semua itu dilakukan bukan karena ia suka, melainkan Aiman merasa itu bukan hal penting.


Mata itu terlihat kaget, tetapi dengan cepat kembali meredup. "Kenapa, Bi?"


Aiman menggenggam tangan istrinya dengan lembut, lalu dikecup punggungnya. Dia tahu istrinya pasti merasa sakit hati, tetapi dirinya memang salah tidak bercerita sedari awal. "Maafin aku, Sayang. Aku pikir, dia tidak akan pernah mengusik keluargaku yang lain. Makanya aku abaikan," jelasnya dengan memohon.


Kepala wanita itu tertunduk lemah. Bulir air matanya terus saja mendesaknya keluar sehingga membuat Fatimah tidak bisa membendung lagi. Isakan kini mulai terdengar dari bibir tipisnya. Membuat sosok sang suami semakin merasa bersalah.


"Ummaya," panggil Aiman dengan hati mencelos.

__ADS_1


"Tinggalkan aku sendiri, Bi! A-aku butuh waktu," tandas Fatimah tanpa mau memandang wajah suaminya.


__ADS_2