Istri Untuk Iman

Istri Untuk Iman
Bab 95


__ADS_3

Wanita yang baru saja selesai mencapai puncak kenikmatan duniawi itu kini sedang memakai kembali pakaiannya. Wajah itu terlihat puas atas pelayanan partner ranjangnya–Rasya.


"Kenapa buru-buru sekali? Apa kau tak ingin melanjutkan ronde berikutnya?" Pria yang hanya menuju tubuh polosnya hingga sebatas perut, sedangkan bagian atas tubuhnya dibiarkan begitu saja.


"Diamlah! Kau membuatku ingin memukul wajah songongmu itu!" Trisa mengancingkan kemejanya satu persatu, lalu memakai kembali blazer miliknya yang lagi-lagi berada di atas lantai. "Yah, kau buang ke mana rokku, hah!"


Rasya mengedikkan bahu. "Entahlah, aku tak tahu."


Mata itu langsung melirik tajam ke arah pria di atas ranjang tersebut. "Carikan!" titahnya tidak mau dibantah.


"Haish! Kau membuatku yang sedang memandangi ciptaan Tuhan ini terganggu saja," gerutu Rasya karena keasyikannya diganggu. Akan tetapi, kakinya tetap turun dari ranjang untuk mencari.


Trisa hanya merotasikan kedua bola matanya malas dengan sikap Rasya yang tidak tahu malu. Melenggang santai dengan hanya mengenakan ****** ***** saja. "Menjijikkan! Lain kali pergilah ke dokter dan buat milikmu yang kecil itu supaya bisa lebih memuaskanku!" cibirnya pedas.


Rasya menyeringai. Tangannya kini sudah memegang rok span milik partner ranjangnya, lalu mata itu pun menatap tepat ke dalam mata berwarna coklat itu dengan pandangan menggoda. "Apa pun untuk My Princess," jawabnya, lalu mengerling menggoda.


Jujur, ada rasa yang selama Rasya simpan untuk wanita di depannya. Namun, seolah tahu dengan siapa dia berhadapan maka yang terjadi hanya cinta dalam semu.


Trisa ini adalah wanita yang dominan dan pecinta ranjang yang cukup tinggi. Wanita ini jarang sekali bersikap lembut, maupun membiarkan partnernya pasif. Walaupun dia dominan, tetapi ia juga suka cowok yang agresif untuk bisa mengimbangi permainannya.


Rasyalah pemegang juara dalam hal ini. Dia begitu percaya diri karena memang hanya dialah partner ranjang Trisa yang masih bertahan hingga saat ini. Untuk yang lain sudah di depak oleh wanita itu sendiri. Tentu hal itu membuat lelaki berusia 21 tahun itu merasa di atas awan.


Rasya adalah seorang mahasiswa di sebuah universitas yang nyambi bekerja sebagai gig*l* di klub Royal Dis. Selama ini yang teman-temannya hanya tahu jika lelaki itu bekerja di sebuah restoran berbintang sehingga gajinya cukup banyak. Mereka tidak tahu saja aslinya seperti apa.


Kalaupun memang rahasianya harus terbongkar itu juga bukan masalah besar bagi dirinya. Selama uang tetap mengalir ke dalam rekeningnya, Rasya tidak peduli dengan omongan orang lain. Toh, mereka juga tidak memberikan kontribusi apa pun untuk hidupnya.

__ADS_1


“Yakin aku tak memuaskanmu?” Jari-jemari itu dengan lancang menelusuri rahang milik sang partner. Memancing wanita itu untuk kembali merasakan nikmatnya duniawi.


“Br*ngs*k! Kenapa kau selalu saja membuatku tak bisa menolakmu, hm!” Trisa yang memang gampang sekali terpancing, segera membawa tubuh pria itu kembali ke atas ranjang untuk melanjutkan sesi yang entah keberapa kalinya.


***


Sementara itu, di sebuah rumah, tepatnya di taman belakang rumah keluarga Baseer. Berdirilah seorang ibu muda yang tengah menimang bayinya. Bibir itu terus saja melantunkan sholawat untuk mengantarkan sang anak terlelap.


Sayangnya si bayi bukannya terlelap, Maira justru tidak bisa memejamkan mata dan ikut berceloteh seakan snag ibu tengah mengajaknya mengobrol. Fatimah yang melihat itu pun menjadi tersenyum. Lantas, ia pun menempati kursi yang memang khusus diletakkan di samping pohon mangga.


“Masya Allah, anak umma ini pintar sekali, hm. Padahal tadi sudah ngantuk, loh. Kenapa sekarang justru malah sibuk mengajak umma mengobrol. Pintar sekali Khumairaku ini. Sini, pipinya yang tembem ini dicium!”


Fatimah terus saja mengajak anaknya untuk berbicara. Dia bahkan tak segan untuk menggoda si kecil dengan menggelitik perut Khumaira. Mereka berdua terlihat begitu lepas seolah permasalah yang beberapa hari ini tengah mendera itu telah hilang.


Aiman bahkan sudah mencoba mencari ke tempat sanak saudaranya, hingga ke rumah lamanya. Namun, lagi-lagi hasilnya nihil. Wanita paruh baya itu seolah menghilang bak ditelan bumi hingga sulit sekali ditemukan.


“Ummaya!” Suara dari ruang tengah menghentikan tangan Fatimah yang berniat menggelitik anaknya lagi. Senyum pun langsung terulas lebar kala mengetahui sang suami sudah pulang.


“Abi, kami di belakang!” balas Fatimah.


Dia cukup kesulitan jika harus berpindah tempat karena Khumaira pasti akan menangis. Fatimah pun menyambut kedatangan sang suami dengan senyum lebar, lalu mencium punggung tangannya. “Apa abi sudah makan?”


“Belum. Umma udah makan belum?” Tangan pria itu menyisir helai rambut Fatimah yang hari ini tidak ditutupi dengan hijabnya, kemudian dikecupnya lama puncak kepala itu.


Fatimah menggeleng, kemudian tersenyum kala merasakan kehangatan yang diberikan oleh Aiman. Entah kenapa ia sedikit sedih, apalagi setelah melihat wajah pri itu yang seperti kehilangan sinar kehidupan dan ini tentu ada hubungannya dengan menghilang sang ibu.

__ADS_1


“Apa Ibu belum ketemu juga, Bi?” Dua orang itu kini tengah duduk saling bersebelahan dengan Khumaira dipangkuan Aiman, sedangkan Fatimah sendiri ada di samping kirinya. Hassan sendiri belum pulang dari mengaji di TPQ dekat Masjid komplek perumahan mereka.


Bibir itu mengembuskan napas beratnya. Fatimah tahu jika ini sangatlah berat untuk Aiman. Di juga sudah beberapa kali menghubungi teman-temannya untuk membantu mencari keberadaan ibunda tercinta, tetapi sampai saat ini belum juga berhasil ditemukan.


“Entahlah, Sayang. Abi benar-benar tidak tahu ke mana ibu pergi.” Wajah itu terlihat murung, bahkan untuk tersenyum saja pria itu sulit. Akan tetapi, sang buah hati tidak membiarkan orang tuanya terlalu lama bersedih, Khumaira lalu berceloteh dengan bahasa bayi yang pasti membuat semua orang terkagum-kagum.


Sama seperti apa yang dilakukan oleh Aiman. Ayah dua anak itu mulai bisa tersenyum dan itu semua berkat tingkah menggemaskan dari anak keduanya. Rasa penat dan gundah gulananya pun mulai menghilang sedikit demi sedikit, berganti dengan tawa bahagia bersama anak tercinta.


"Abi, apa kamu sudah mencoba bertanya kepada wanita itu?" Fatimah menyampaikan apa yang ada di pikirannya. "Entah kenapa feeling-ku merasa jika si ibu sedang bersama dengan dia."


"Apa kamu memintaku untuk bertemu dengan wanita itu?" Wajah Aiman seketika berubah datar saat membayangkan harus menemui Trisa. "Jika aku disuruh memilih … aku lebih baik di sini bersamamu daripada harus pergi menemuinya!"


"Tapi, Bi …."


"Ummaya, apa kamu ingin menentangku?"


Wanita itu pun menggeleng. Pasangan suami istri itu pun kini hanya terdiam di kursi, tanpa melakukan apa pun. Khumaira bahkan sepertinya mulai bosan dengan sikap kedua orang tuanya dan memilih tidur di atas pangkuan sang ayah.


"Maafkan aku!"


"Hmm!"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_1


__ADS_2