
Riko dan Gio langsung menoleh ke sumber suara. Di depan mereka kini sudah duduk dua orang perempuan yang tengah asyik saling bertukar pendapat. Obrolan yang tidak jauh dari fashion, dan juga mode zaman now.
Namun, jangan kalian kira fashion yang tengah mereka obrolkan akan sama seperti apa yang biasa kebanyakan wanita ributkan. Gaya busana dua perempuan single itu jelas berbeda dari yang lain. Setelan serba hitam, seperti mafia dalam serial film favorit mereka.
“Rik, sepertinya kita ini salah mencari perempuan, atau mereka yang salah memilih kita?” Gio berbisik lirih di sebelah telinga Riko. Dia sendiri memilih melakukan hal tersebut karena tidak mau jika pertanyaannya justru membuat Duo M–biasa dikenal– mencincangnya habis.
Lelaki di sampingnya lalu memperhatikan penampilan sang kekasih–Maya– hari ini. Celana hitam, kaos hitam yang ditutupi dengan jaket kulit berwarna senada dengan atasan dan juga bawahannya. Jangan lupakan juga topi yang melekat di atas kepalanya.
“Ouh, dia terlihat begitu seksi sekali, Gi. Mataku sulit sekali berpaling darinya,” ujar Riko sungguh di luar ekspektasi dari BMKG.
Gio berharap Riko akan mengucapkan hal yang sama seperti yang dipikirkan. Akan tetapi, lihatlah sekarang! Pandangan si teman justru layaknya kekasih yang begitu memuja, mencintai pasangannya.
“Lap, tuh, ilermu!” Gio segera melempar tisu yang dia ambil dari atas meja dengan jijik.
Riko menatap Gio sengit, tetapi tangannya tetap mengusap bagian bawah bibirnya. Netranya langsung mendelik saat tak mendapatkan apa-apa di sana. “Kamu ngerjain aku?” Tangannya langsung mencengkram kerah baju si teman, lalu bersiap untuk memukul wajah super menyebalkan Bagio.
Sementara itu, Maya dan Mei yang melihat Rio, serta Gio berantem hanya merotasikan kedua bola matanya malas.
“Apa yang sedang kalian lakukan? Apa tak ada hal lain, selain ribut?” Maya melempar tatapan sengit kepada keduanya, terutama sang kekasih–Rio.
Riko langsung melepaskan cengkraman di kerah Gio dan datang menghampiri Maya. Dengan wajah menurut seperti peliharaan majikan yang membutuhkan perhatian, pria itu langsung duduk di karpet kemudian meletakkan kepala di atas paha si pacar.
“Apaan, sih, Rik? Emang gak ada tempat lain apa selain pahaku?” Maya berusaha untuk menyingkirkan kepala Riko, tetapi dengan keras kepala pria tersebut justru bertindak sesukanya.
Riko justru semakin menyamakan diri dengan memeluk perut si pacar dan bergumam tidak jelas sehingga membuat Maya kegelian.
Gio dan Mei sendiri melirik ilfil kepada tingkah manja Riko.
__ADS_1
“Perasaan kalau lagi di kantor, itu orang gayanya udah, kek, manly banget macam Tom Cruise. Tetapi, nyatanya ….” Gio menatap horor Riko yang masih bermanja-manja ala pengantin baru yang sedang dimabuk cinta.
“Udah langsung halalin aja, Rik. Kelamaan kalau nunggu tahun depan,” lanjut Gio dengan seringai penuh.
“Kamu kira orang nikah itu gampang apa?” Maya langsung membalas ucapan Gio dengan sarkas. “Sulit, Bro. Butuh banyak persiapan dan juga harus siap mental. Apalagi kita yang boasa apa-apa sendiri, terus tiba-tiba harus terbangun dengan orang lain di sisi tempat tidur kita.”
“Yaelah, May. Semua orang juga nanti akan terbiasa dengan semua itu. Namanya juga menikah, ya artinya menyatukan dua sifat dan kepribadian yang berbeda satu sama lain. Jika pikiranmu seperti itu terus, kasihan temenku yang gak nikah-nikah,” jedanya mengambil napas.
“Bia jadi bujang lapuk dia,” imbuhnya, lalu tertawa begitu keras sendirian.
Riko menatap perubahan suasana hati Maya dengan sedikit khawatir. Dia langsung melempar wajah Gio yang masih sibuk tertawa dengan sebuah bantal hingga membuat si teman langsung terdiam. “Ape? Berani?” tanya pria tersebut dengan mata melotot.
“Cih, gak laki, gak bininya … sama-sama galak,” cetus Gio, kemudian langsung berlari keluar rumah Riko.
“Ish, lepasin!” Mei meronta saat tangannya ditarik paksa oleh Gio.
Riko sendiri langsung memeluk pinggang sang kekasih yang masih saja terdiam di kursi. Dia jelas tahu, perkataan yang baru saja diucapkan oleh Gio mempengaruhi pikiran Maya. Walaupun wanitanya bersikap seperti tak ada sesuatu, tetapi insting itu jelas menangkap hal ganjil pada si pacar.
“Kamu udah makan, May?” tanya Riko, sambil mencolek-colek pipi si pacar.
Maya menoleh, tersenyum ringan, lalu mengangguk. “Kamu?”
Riko tersenyum. Tangannya merapikan surai lembut sang kekasih setelah dia melepas paksa topi yang menurutnya begitu menghalangi kecantikan Maya. “Kalau siang udah. Sore yang belum. Kamu mau nemenin aku?” Mata itu menatap penuh harap kepada wanita di
sampingnya.
“Riko.”
__ADS_1
“Iya, May.”
Maya menggigit bibir bagian bawahnya ragu. Dia seperti hendak mengucapkan sesuatu, tetapi tertahan di tenggorokan. Ragu melanda hati, serta perasaannya. Ucapan dari Gio memang benar adanya, tetapi jika untuk saat ini, ia masih belum ingin berkomitmen.
“Apa kamu ingin menikah?”
Benarkan? Ckckck, si Gio ini emang bener-bener, deh. Gak tau apa, kalau mood si ayang ini suka naik turun kayak lift di Kediamannya yang suka ngadat minta diganti, rutuk Riko dalam hati.
“Riko, kenapa kamu malah diam? Jawab aja. Aku gak akan marah, kok.” Maya berusaha untuk bersikap santai walau dalam hati tengah menahan gugup. Senyumnya ia buat senatural mungkin, berharap dengan itu sang kekasih tidak curiga akan kegalauannya.
“May, aku tau dirimu sekarang pasti sedang memikirkan banyak hal. Dan sebagai kekasih yang baik, aku pun tidak akan pernah membebanimu dengan status kita. Tak apa diri ini menunggu lama. Yang penting hatimu memang benar-benar untukku, bukan pria lain.”
Maya menatap manik sang kekasih yang begitu teduh, serta jujur dalam berkata. Menyadari hal itu, dia merasa salah karena sudah menerima cinta dari Riko. Dia berandai-andai, jika saja mereka tak bertemu, mungkin pria di depannya sudah menjalin kasih dengan wanita lain.
Bisa jadi malah sudah memiliki anak. Maya mengepalkan kedua tangannya ragu.
“Hei, rileks, Sayang! Tak perlu kamu memikirkan hal-hal yang membuatmu menjadi berpikir keras, May. Kedua orang tuaku juga tidak pernah memaksa anaknya untuk segera menikah. Aku, ya, aku. Mereka, ya, mereka. Jadi, jangan pernah samakan Riko dengan pria lain. Ok!”
“Tapi ….”
“Gak ada tapi-tapian. Pokoknya sekarang lebih baik kamu temenin saya buat makan. Gak menerima penolakan dengan alasan apa pun!” tegas Riko, lalu tanpa menunggu jawaban dari sang kekasih dia sudah lebih dulu membawanya ke ruang makan.
Makanan sudah banyak tersaji di atas meja. Dengan berbagai macam hidangan yang tentu saja sangat menggiurkan. Maya yang tadinya tak nafsu makan pun sampai menelan ludah. “Apa kamu yakin akan menghabiskan semua makanan ini?” tanyanya sanksi.
“Gak, dong, May. Nanti, kalau aku makan semua ini, bisa-bisa roti sobek yang ada di perutku berubah menjadi bubur,” elaknya, sambil tertawa lebar.
“Dasar Badak! Bisa aja ngelesnya!” sahut Maya, lelau melempar tisu ke arah sang kekasih. Dia menerima dengan senang hati piring yang diberikan oleh Riko, kemudian mulai mengambil beberapa menu makanan ke atas piringnya.
__ADS_1
Riko sendiri tersenyum senang saat melihat wajah Maya yang sudah kembali ceria. Dia lalu melihat ke arah lain, menyembunyikan ringisan pahit di wajahnya. Apa yang diucapkan, tidak sepenuhnya benar. Ada beberapa hal, pria itu sengaja tutup-tutupi. “Maaf,” lirihnya.