Istri Untuk Iman

Istri Untuk Iman
Bab 71


__ADS_3

Setelah beberapa detik berlalu, akhirnya pria itu pun melepaskan telapak tangan yang sedari tadi menutupi kedua maniknya untuk melihat dunia. Rautnya masih terlihat cemas, ditambah gugup masih melanda.


Fyuhhhh. “Untung dia sudah pergi.” Ada kelegaan yang terpancar dari sana. Namun dalam sekejap mata itu meredup saat melihat ke depan di mana tadi ia bisa melihat jelas sosok yang telah lama tiada.


Guratan lelah di wajahnya yang tampan itu seolah menjawab jika Aiman masihlah lemah apabila berhadapan dengan masa lalunya. Masa di mana dia begitu mencintai istrinya–Aisyah hingga tidak rela harus berpisah dengan maut.


Sekali lagi, Aiman menghela napas berat. Dia mencoba menetralisir rasa dugun-dugun di dalam hati setelah melihat sosok cantik itu. Wajahnya didongakkan ke arah langit, memandang dengan wajah perih luar biasa.


“Ya Allah, kenapa Engkau melakukan ini semua padaku? Dia sudah meninggal, tetapi kenapa hari ini terlihat begitu nyata berdiri di hadapanku. Apakah ini adalah sebuah fatamorgana yang Kau ciptakan untuk membuatku lemah? Jika iya … selamat, Engkau berhasil!”


Aiman duduk terdiam dengan bibir yang bergetar menahan tangis. Dirinya merasa gila dan bersalah secara bersamaan. Beberapa bulan lalu dia sudah membuat kesalahan fatal karena telah menyakiti perasaan Fatimah. Sekarang ia tidak mau mengulanginya lagi.


Aisyah sudah mati dan jelas mereka hidup di dua alam yang berbeda. Tentu yang telah tiada tidak akan pernah kembali sampai kapan pun, kecuali Allah sudah berkehendak. Akan tetapi, itu akan tetap mustahil.


“Lupakan, Man! Kamu gak boleh mikirin yang jelas-jelas sudah gak ada. Biarkan ia tetap bahagia bersamaNya di sana. Sekarang yang harus kamu lakukan adalah mencari pekerjaan. Karena hidupmu bukanlah tanggungan pemerintah, apalagi tetangga.”

__ADS_1


Masih bisa pria itu melawak di saat genting seperti ini.


“Ayo, bangun dan cepat cari kerja!” Tangan itu mengepal penuh tekad. Melupakan hal yang tadi mengganggu, lalu menyongsong masa depan yang sulit sekali ditebak.


Roda memang berputar. Kadang di atas, kadang di bawah. Sama seperti kehidupan manusia pada umumnya. Hari ini bisa tertawa bahagia karena kesuksesan yang sudah lama ia cari datang menghampiri secara bertubi. Akan tetapi, jika Allah berkehendak apa pun bisa terjadi, termasuk membuat si kaya kembali jatuh dan hancur hingga kembali ke kehidupannya yang semula.


Maka dari itu, setiap manusia itu harus mempunyai rasa syukur dengan apa yang dimilikinya sekarang dan nanti.


“Mungkin ini adalah salah satu teguran dari Allah untuk diriku yang pernah menyakiti hati istriku saat pertama kali kami bertemu. Aku memang bodoh karena sudah hampir menyia-nyiakan wanita baik dan sholehah seperti dia. Tapi,” jedanya, lalu menatap wajah Fatimah yang ada di layar ponselnya.


“Kamulah wanita yang sudah menyadarkanku akan luasnya dunia ini. Kamulah yang mengajarkanku untuk tidak bertindak bodoh hanya karena selalu mengubur diri sendiri dalam masa lalu yang pastinya tidak akan pernah kembali.”


...***...


“Itu orang sebenarnya kenapa, ya? Kok, ngeliat aku udah kayak ngeliat hantu, sih. Aish, tersinggung sekali diriku disamakan sama makhluk tak kasat mata. Awas aja kalau nanti ketemu, aku buktikan siapa itu Trisa Abdullah yang sesungguhnya,” ucapnya berapi-api dengan mata menyorot penuh kesal kepada pria yang ditemuinya kemarin.

__ADS_1


Wanita yang hari ini mengenakan sport bra, serta celana leging ketat membungkus kakinya tengah sibuk menggerutu di atas treadmil. Keringat sudah bercucuran sehingga membuat kulit putih lembut itu semakin terlihat berkilau.


Mata para kaum adam yang sama-sama berada di tempat Gym itu sedari tadi tidak melepaskan pandangan dari kemolekan tubuh Trisa Abdullah. Anak dari pasangan Rumania dan Toni Abdullah memang selalu akan menjadi magnet di mana pun ia berada.


“Nona, bolehkan saya minta nomor yang bisa dihubungi?”


Trisa memandang pria yang tengah berdiri di samping treadmillnya dengan pandangan menilai. Seringai penuh cemooh tersungging langsung di wajah cantiknya. Dengan sengaja, wanita berusia 27 tahun itu mengusap leher jenjang penuh keringat dengan handuk di tangannya sensual.


Reaksi pria di sampingnya sudah mupeng dan siap menerkam mangsa. Trisa yang memang begitu mencintai dirinya sendirian menyeringai penuh kemenangan. Gotcha! Siapa, sih, lelaki bodoh yang yang tidak akan takluk dengan Trisa Abdulah. Seorang pebisnis handal yang akan selalu menjadi ratu dalam dunia bisnis, ucapnya penuh percaya diri.


Dering ponsel di depannya membuat Trisa sadar akan lamunannya. Tanpa belas kasih, ia mengusir pria mesum yang sedari tadi menunggunya untuk memberikan nomor teleponnya. "Siapa dia berani bertingkah layaknya pria kaya raya yang bisa mendapatkan perhatian dariku," cibirnya sinis.


Mata itu kembali memandang layar ponsel yang menampilkan nama Satya–sekretaris pribadinya– memanggil. Tanpa menghentikan laju treadmillnya, Trisa menyambungkan speaker bluetooth itu ke dalam panggilan. Setelah itu, suara pria itu terdengar di telinga wanita tersebut.


"Katakan!" titahnya tanpa mau basa-basi.

__ADS_1


Trisa mendengarkan setiap informasi yang diberikan oleh Satya dengan satu sudut bibirnya terangkat ke atas. Kepala itu mengangguk mengerti harus apa ia akan bertindak. "Oke."


Panggilan telah berakhir dan kini Trisa memandang kota Jakarta dengan senyum penuh misteri. "Aiman Baha Baseer … nama yang begitu bagus. See you!" gumamnya ambigu.


__ADS_2