Istri Untuk Iman

Istri Untuk Iman
Bab 98


__ADS_3

Dua wanita tangguh itu kini tengah mengikuti sebuah Mobil Jeep yang ada di depan mereka. Maya sengaja meminjam salah satu kendaraan milik teman baiknya berjenis SUV agar tidak mengundang curiga dari orang lain.


"Sebenarnya mereka itu mau ke mana, sih, May? Kenapa aku merasa lokasi ini sedikit jauh dari pemukiman? Lagian, masa iya mereka menyembunyikan Ibuku sejauh ini?" Fatimah berpegangan pada pegangan di atas kepalanya saat kendaraan yang ditumpangi melewati jalanan berbatu, serta belum di aspal.


"Menurutmu? Tolonglah, Fa! Gunakan otakmu itu buat berfikir!"


Fatimah langsung melemparkan tatapan tajam ke arah Maya. "Woi, jangan dikira karena saya ini sibuk ngurusin anak, suami, dan mertua otakku yang cemerlang ini karatan! Justru, memang seperti itulah kenyataannya," lanjutnya dengan wajah nelangsa.


"Kuampret! Aku kira kamu bakalan ngelak. Llah, si Maemunah ini malah nge-iyain." Maya hampir menjedotkan kepala ke setir kemudinya. Sebab, ia merasa mulai gila berdekatan dengan kawan lamanya yang telah beranak ini.


Mata itu memandang datar si supir dan jangan lupakan juga bibir mencebik ibu anak satu itu, apalagi saat mendengar tawa lepas si Intel itu. "Bahagia banget kamu? Seneng gitu, aku jadi oon?" tanyanya sinis.


Maya hampir kehilangan fokus saat Fatimah justru ngambek. Dia memegang perutnya yang terasa hampir kram karena terlalu banyak tertawa. Namun, secepat kilat ia segera kembali ke jalan yang lurus.

__ADS_1


"Jangan sampai pengintaian kita gagal gara-gara ocehan bobrokmu itu, Fa!" ancam Maya. Bibir boleh melontarkan kata penuh ancaman, tetapi tidak untuk senyuman.


Maya walaupun terlihat sangat galak dja tegas, tetapi jika sudah bersama dengan Fatimah maka akan menjadi orang yang humble dan penyayang.


"Iya, Bawel! Makanya fokus aja nyetir. Gak usah pedulikan orang cantik ini!" Sekarang justru Fatimahlah yang mengomel sehingga membuat Maya tak bisa berkata-kata.


Maya pun merotasikan kedua bola matanya jengah, lalu mulai kembali fokus untuk mengintai. Kini, kendaraan mereka sudah berada di sebuah pesisir pantai. Jalanan yang dilewati pun tidak sehancur, seperti sebelum masuk ke dalam.


"Sepertinya mereka terlalu kesakitan sampai mulut tak bisa berbicara," lontar Fatimah saat sadar jika sedari tadi tidak mendengar suara dari dua orang itu.


"Sudah. Untuk berjaga-jaga saja, kalau semisal kita tak bisa melawan mereka. Kamu sendiri gimana?" tanya balik Fatimah ketika melihat seringai penuh tipu muslihat si teman.


"Sepertinya aku gak perlu bawa teman-temanku," ucap Maya saat sudah mengetahui seberapa banyak orang Yang ada di dalam vila.

__ADS_1


"Why?" Dahinya mengerut. "Apa kamu yakin bisa menghadapi semuanya?"


Maya berdecih. Dia lalu melemaskan otot-otot jari tangannya dan juga kepala seolah itu bukanlah masalah besar. "Di dalam itu hanya ada 5 orang saja, Fa. Kamu yakin akan melibatkan Sarah, Dara, dan juga Rindu?"


Mata itu membulat. "Seriously?"


Maya mengangguk dengan seringai di wajahnya.


"Ah, jika hanya mereka berlima, mending kita bergerak sekarang saja" Fatimah ikut tersenyum menyeringai. Seringai yang selama ini orang tak pernah lihat karena disembunyikan di dalam dirinya yang seorang lembut.


"Ok. Mari kita berpesta, Sayang!"


...****************...

__ADS_1



__ADS_2