Istri Untuk Iman

Istri Untuk Iman
Bab 107


__ADS_3

Maya menaruh helm di atas motor sportnya. Dia menurunkan resleting jaket kulitnya dengan mata menatap datar pria yang baru saja turun dari mobil. Entah kebetulan, atau memang takdir sedang membawa mereka untuk kembali bertemu lagi.


"Oho! Ada Miss Kutilku." Riko menyisir rambut yang memang sudah rapi itu, sambil menaik turunkan kedua alisnya. Wajahnya langsung cerah ceria, seperti bulan malam ini yang begitu indah menyinari dunia. "Selamat malam, Mayong!"


Bibir perempuan single itu berdecih. Setelah mengikat rambutnya tinggi-tinggi, seperti ekor kuda, Maya berjalan masuk ke halaman rumah sahabat baiknya–Fatimah terlebih dahulu. Dia mengabaikan sosok Riko yang kini tengah menendang udara karena kembali diacuhkan.


"Yakh, Kutil! Tungguin! Rese banget, sih, kamu jadi cewek. Masa cowok ganteng modelan kaya Zayn Malik begini dibiarkan digigit nyamuk!" Riko berlari menyusul langkah kaki perempuan yang kini sudah berdiri tepat di depan pintu utama--kediaman sang sahabat.


"Kutil! kamu pasti di rumah udah laper banget, kan? udah ngaku aja!"


"Nama saya itu adalah Maya. M-a-y-a, dibaca Maya! Jadi, gak usah manggil-manggil aku Kutil lagi!" ucap perempuan itu penuh peringatan.


"Dih, suka-suka aku, dong. Mau manggil kamu Kutil, Kudis , atau Panu, kek. Itu hak aku!"


Maya hampir mengangkat kedua tangan untuk mencekik leher pria rese di depannya. Namun, pintu kayu itu justru mengurungkan niatnya. Wajah tersebut seketika berubah ramah dan penuh sopan santun.


"Eh, Nak Maya, toh. Ayok, masuk, Nak! Kita udah nungguin dari tadi, loh." Siti nampak senang saat menemukan tamu yang mereka sudah tunggu-tunggu kini ada di depan rumah anaknya.


"Assalamualaikum, Tante. Bagaimana kabarnya? Maaf, yah, saya datangnya telat. Soalnya tadi masih ada kerjaan, jadi gak bisa buru-buru," sesal Fatimah beruntun.


Riko sendiri merasa cemburu dengan keriangan, serta bibir Maya yang terus saja berbicara panjang kali lebar dengan Ibu Aiman. Sedang jika bersama dengan dirinya, mulut itu terus saja diam. Kalaupun berbicara yang keluar hanya umpatan.


"Waalaikumsalam. Aduh, ibu jadi gak enak, deh, sama Nak Maya." Dua perempuan itu saling bercipika-cipiki seolah-olah mereka ini adalah teman lama yang terpisah jarak dan waktu.


"Engg–" Maya yang hendak berbicara dengan Nenek Siti pun urung dilakukan karena pria di sampingnya kembali membuat ulah.


"Ehem-ehem!" Riko sengaja berdehem untuk membuat dua orang wanita di depannya itu menyadari akan keberadaannya. Sungguh malang sekali nasib orang ganteng seperti dirinya. Diacuhkan, diabaikan oleh orang sekitar.

__ADS_1


Siti dan juga Maya segera menoleh ke arah samping. Ekspresi mereka berbeda-beda. Siti yang terkejut, lalu meminta maaf, bahkan menepuk bahu Riko pelan untuk menyampaikan perasaan bersalahnya.


Maya sendiri hanya memutar kedua bola matanya malas. Dia berdiri di depan pintu, sambil tersenyum kecil menanggapi ketika Siti mengajaknya berbicara. Akan tetapi, jangan harap senyum itu akan terulas kepada pria di sampingnya. No way!


"Hayuklah, masuk! Aduh, Tante ini malah keasyikan ngobrol sampai lupa gak mempersilahkan kalian masuk," ucap Siti salah tingkah, lalu menyuruh si tamu untuk masuk ke dalam rumah.


Wanita paruh baya itu terus saja mengajak ngobrol Maya dan juga Riko. Dia juga sempat menyinggung tentang hubungan dua orang tersebut. Karena mengira jika mereka sedang berpacaran. Namun, ia menjadi malu sendiri karena ternyata tidak ada hubungan apapun di antara kedua tamunya.


"Tante, sebenarnya Maya ini suka sama saya. Tapi, tau sendirilah perempuan kayak gimana." Riko berbisik di telinga ibu dari sang sahabat. "Suka tarik ulur," lanjutnya.


"Aku denger, Korek! Aish, diamlah kau! Atau, aku akan menyumpal mulutmu itu dengan kaos kakiku!" Maya mendelik kesal ke arah Riko.


Pria itu memang selalu saja membuat darahnya sering sekali naik dengan lontaran kata-katanya yang sangat membuat orang lain menjadi berpikir bahwa mereka ini memiliki hubungan, padahal kenyataan itu tidak ada sama sekali. Sehari saja tidak membuat ulah dengannya, seperti setahun kali bagi Riko.


Siti tertawa. Dia diampit oleh dua orang muda yang belum menikah, bahkan hubungan pun hanya teman biasa. Akan tetapi, melihat interaksi Maya dan Riko mengingatkannya tentang sang suami.


Ternyata Allah lebih menyayangi suami dari Siti. Ayah dari Aiman meninggal dunia ketika anak mereka masih kecil. Membuatnya menjadi seorang janda hingga sekarang.


"Loh, ada tamu, toh. Ayo, masuk!" Fatimah yang tidak sengaja mendengar keributan di ruang tamu segera menghampiri dan ternyata benar saja, ada sang sahabat yang tengah berdebat dengan teman dari suaminya--Riko.


"Kenapa kamu ngundang Kunyuk itu, sih, Fa? Kita ini, kan, udah kayak musuh bebuyutan–"


"Hello!" Lagi-lagi Riko memotong ucapan Maya. "Siapa yang mengira kita musuh bebuyutan? Itu, sih, kamu. Aku mah gak, ya." Riko segera memotong ucapan dari Maya karena ia tidak setuju dengan apa yang perempuan itu katakan.


"Bodo amat." Setelah itu, Maya segera menarik lengan Fatimah dan juga Siti untuk masuk ke ruang makan. Dia lalu menunduk sopan saat melihat suami dari temannya. "Selamat malam, Tuan."


"Jangan panggil tuan! Santai saja! Oh, iya. Apa kalian datang bersama!" tanya Aiman saat melihat Riko dan Maya sudah menempati kursinya.

__ADS_1


"Iya." "Gak "


Aiman, Siti, dan juga Fatimah mengernyit heran melihat kedua orang insan di hadapan merek.


"Jadi, yang benar yang mana, Ko?" Aiman bertanya kepada Riko.


"Kami memakai kendaraan sendiri-sendiri, Mas." Maya segera menimpali, mendahului mulut Riko yang pastinya akan mengucapkan hal-hal yang justru akan menimbulkan banyak masalah.


"Giliran sama Bang Iman, aja, manggilnya mas. Giliran sama aku, Badak. pilih kasih sekali Anda, Kutil!" Riko terlihat begitu sewot dan tidak terima akan panggilan dari Maya untuk sang sahabat. Dia bukan cemburu kepada Aiman, melainkan panggilannya ituloh.


"Apaan, sih? Lagian, emang situ Badak, kan?" tanya Maya mulai kembali terpancing emosi kembali.


"Panggil aku, Mas Riko!" tuntutnya.


Maya menyeringai sinis. "Siapa Anda sehingga meminta saya untuk memanggil Mas ke situ?"


"Saya ini adalah calon bapak dari anak-anakmu nanti!"


"Mau sampai kapan kalian akan terus ribut? Ini di depan makanan banyak, loh. Apa kalian tega mengabaikan mereka?" Fatimah yang mulai pengang dengan keributan dari Maya dan Riko segera mengambil alih arena. Karena jelas ini adalah wilayahnya. Jadi, dia berhak untuk melakukan apa pun di sini tanpa takut ditegur oleh siapa pun.


"Ngomong aneh-aneh lagi, aku tembak benda pusakamu, Korek!" ancam Maya lirih sebelum dirinya fokus dengan jamuan di atas meja.


"Uuh, tatut!" Riko segera mengempit kedua kakinya sendiri. Seolah tengah melindungi harta terbesar milik seorang lelaki. Namun, jangan lupakan juga senyum penuh ejekan itu tak tertinggal.


...****************...


__ADS_1


__ADS_2